Sembilan belas

20 2 0
                                    

"Makasih ya." Sheira berterimakasih kepada dimas karena telah mengantarkannya sampai rumah dengan selamat.

"Anytime," jawab Dimas.

"Lo mau mampir dulu?" Tawar Sheira, sekedar basa-basi kepada Dimas yang sudah mengantar pulang.

Dimas menengadahkan kepalanya mengamati langit yang mulai gelap. Dia masih duduk di motornya di luar pagar saat ini.

"Enggak deh. Udah mau maghrib."

"Lo bisa shalat disini kan."

Dimas menyeringai membuat kening Sheira berkerut. "Jadi lo maksa gue nih?"

"Idih. Pede. Enggak. Gue kan cuma nawarin." Sheira terlihat salah tingkah dengan mengedarkan pandangannya ke sekiling yang penting bukan mata Dimas.

Dimas terkekeh dan mengacak-acak rambut Sheira.

"Dimaaaas." Suara Sheira terdengar sepeti rengekan yang membuat Dimas tersenyum lebar.

Sheira mengerucutkan bibirnya sebal kemudian merapikan rambutnya yang diacak-acak Dimas.

"Lain kali aja ya mampirnya. Udah sore gini," kata Dimas.

"Serah lo deh."

Dimas tersenyum kecil, "jangan ngambek gitu dong, Shei. Nanti kapan-kapan gue mampir sini," kata Dimas menggoda Sheira.

"Idih, siapa yang ngambek?"

"Elo," ucap Dimas sambil menyeringai. Sepertinya hal itu menjadi kebiasaan baru Dimas.

"Enggak," bantah Sheira keras.

"Iya."

"Enggak, Mas. Nggak penting juga nagmbek gara-gara lo." Sheira tanpa sadar mengucap nama Dimas membuat sang empunya tersenyum lebar.

"Iya. Akuin aja, Shei." Dimas masih saja menggoda Sheira yang membuat pipi gadis itu semakin memerah.

"Enggak, enggak, enggak." Sheira membantah keras perkataan Dimas. Sheira menarik napas pelan berusaha menurunkan emosi sekaligus panas yang menjalar di kedua pipinya.

Dimas tertawa melihat reaksi Sheira. Padahal dirinya hanya sekedar menggoda gadis galak itu.

Dimas memakai helmnya kemudian menyalakan mesin motornya. "Gue pulang ya."

"Iya, ya ampun! Udah sana!" Sheira mengibaskan tangannya menyuruh Dimas pergi.

"Tadi ngerengek biar gue tinggal, sekarang ngusir gue pulang."

"Dih, siapa juga yang ngrengek," gumam Sheira pelan yang masih bisa didengar oleh Dimas.

Dimas menepuk-nepuk kepala Sheira pelan kemudian melesat pergi dengan motornya sebelum Sheira meneriaki namanya.

Ya ampun, jantung! Jantung gue!

Sheira masuk ke dalam rumah setelah Dimas benar-benar tidak terlihat lagi di ujung jalan. Dia memegangi dadanya yang berdebar kencang sambil berjalan memasuki rumah. Perasaannya campur aduk. Sheira senang, dia akui itu.

Sial! Kenapa gue jadi begini?

***

Sheira memperbaiki kebaya merahnya untuk ke sekian kali. Untuk ke puluhan kalinya pula, dia mengecek dandanan dan penampilannya di cermin. Dia ingin tampil sempurna.

Hari ini merupakan ulang tahun yayasan sekaligus lustrum sekolahan yang ke enam. Seluruh rangkaian kegiatan telah berakhir dan sekarang adalah puncak dari seluruh kegiatan. Artinya, hari ini merupakan hari tampilnya serta pembacaan pemenang masing-masing perlombaan yang telah dilakukan. Sheira tidak terlalu berharap kelasnya akan mendapatkan juara. Karena tidak ada teman sekelasnya yang benar-benar berniat mengikuti perlombaan kemarin.

SweetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang