Sheira memasuki rumah begitu turun dari motor Dimas. Dimas mengikuti langkah Sheira di belakangnya setelah memarkirkan motor. Dimas berniat ikut shalat maghrib di rumahnya setelah meminta izin tadi. Gara-gara jalanan macet, membuat mereka lama sampai tujuan.
"Assalamu'alaikum." Sheira salam dengan lantang berharap mendapat sahutan.
"Wa'alaikumsalam." Silvi, ibu Sheira berjalan dari dapur menuju ruang tamu begitu mendengar suara anaknya. "Kamu baru pulang, Kak?"
Sheira segera mencium punggung tangan ibunya."Iya. Tadi di jalan macet, Ma." Tutur Sheira kemudian duduk di sofa, melepas sepatunya.
"Terus kamu pulang sama siapa?" Silvi memandang Sheira kemudian mendongak begitu mendengar langkah kaki seseorang mendekat.
"Dianterin Dimas." Sheira memandang Dimas sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mama, ini Dimas, temen Sheira. Mas, ini Mama aku." Sheira memperkenalkan Dimas dengan Silvi.
"Assalamu'alaikum, Tante." Dimas mengucap salam sopan yang dijawab salam juga oleh Silvi.
"Oh iya, Dimas mau ikut shalat disini, boleh kan, Ma?" Sheira bertanya kepada ibunya, meminta izin.
Silvi tersenyum lebar kepada Dimas yang mencium punggung tangannya setelah salam. "Boleh, dong. Sekalian makan malam disini aja, kebetulan Mama masak banyak. Mau ya, nak Dimas?"
Dimas sedikit salah tingkah menyambut kebaikan ibu Sheira. Bukan apa-apa. Dia merasa tidak enak, baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah Sheira langsung mendapat ajakan makan malam. Rezeki sih, tapi...
"Sayang loh daripada nggak ada yang makan. Kan mubadzir."
Dimas akhirnya mengangguk mengiyakan. Biarlah sekali-sekali. Toh perutnya sudah keroncongan sejak siang tadi karena dia belum makan apapun sejak mengantar Sheira ke tempat latihannya. Sheira yang melihat interaksi ibunya dengan Dimas hanya mendengus pelan sebelum beranjak menuju kamarnya. Terdengar di telinganya, Dimas yang bertanya dimana tempat shalatnya kepada Silvi yang masih menyunggingkan senyumnya yang lebar.
Setelah mandi dan menyelesaikan ibadah, Sheira keluar dari kamar menuju ruang makan sebelum diteriaki oleh ibunya. Di sofa depan tivi, Sheira melihat Dimas tampak berbicara dengan Septian, adiknya. Mereka terlihat akrab, padahal baru pertama kali bertemu. Dimas memang mudah akrab dan pandai berkomunikasi.
"Mama." Sheira memeluk ibunya dari belakang yang sibuk menata meja makan dengan berbagai hidangan di atasnya. Sheira bisa mencium aroma masakan ibunya yang lezat. Harum. Ah, perutnya bahkan sudah meronta di dalam sana. "Mending kamu bantuin Mama, Kak, ngambilin piring." Silvi menyuruh Sheira yang masih setia memeluknya dari belakang. Sheira menurut dan mengambil piring dari rak untuk ditaruh di meja makan.
"Dimas itu temen kamu, Kak?" Silvi bertanya sembari membawa sepiring besar udang goreng tepung kesukaan Sheira. Sheira bergumam mengiyakan sembari menatap minat kepada udang yang dibawa Silvi. Dia malas ditanya-tanya mengenai Dimas.
"Ih, Kakak. Mama nanya serius. Dimas itu temen kamu?"
"Iya, Mama. Memangnya kenapa sih?"
"Ganteng ya, Kak."
"Ih, Mama genit." Sheira melirik Silvi dari sudut matanya. Yang dilirik tengah senyum-senyum tidak jelas. Aduh, ini ibunya nggak kesambet kan?
"Loh emang bener kok. Ganteng. Mama kira dia pacar kamu." Perkataan Silvi sukses membuat Sheira tersedak karena saat ini dirinya sedang menenggak air mineral yang dia tuang ke dalam gelas. "Mama apaan sih?"
Silvi terkikik melihat Sheira yang tersedak. Dasar Mama nyebelin! Ups, durhaka lo, Ra. "Ya habisnya kamu kan nggak pernah bawa temen cowok ke rumah."

KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet
Teen FictionDimas Putra Kusuma. Seorang laki-laki yang membuat Sheira harus menahan kesal setiap berada di dekatnya. Selalu mendebatkan semua hal jika bersamanya. Saling umpat dan saling hina. Namun bukan sakit hati yang Sheira rasakan, melainkan sesuatu yang t...