"Lo kenapa, Ra?" Alissa memandang khawatir Sheira yang terlihat pucat hari ini. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Kepala gadis itu terkulai di atas lipatan lengannya yang dijadikan sebagai bantal. Rambutnya yang dibiarkan tergerai menutupi wajahnya.
"Nggak apa-apa."
"Lo sakit. Lo istirahat aja ya di UKS." Alissa membujuk Sheira untuk mengistirahatkan diri. Kondisi tubuhnya yang lemah tidak memungkinkan dia untuk mengikuti pelajaran. Sheira bergumam sementara matanya terpejam rapat.
"Lo ngomong apa?" Alissa tidak terlalu jelas mendengar kalimat Sheira.
"Selamat pagi, Princess." Dimas menyapa Alissa seperti biasa. Dia segera duduk di bangku tepat di hadapan Alissa. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang lebar.
"Pagi," Alissa menyahut Dimas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Dimas mengernyit melihat ekspresi Alissa. Wajah gadis cantik itu terlihat cemas. "Ayo gue antar, Ra. Daripada lo tidur di sini, mendingan di sana. Ada kasur sama bantalnya."
Dimas menahan tawa mendengar Alissa yang membujuk Sheira. Kata-katanya terdengar lucu di telinga Dimas. "Kenapa, Princess?"
"Sheira sakit. Tapi nggak mau ke UKS." Alissa menjawab dengan nada cemas campur panik.
"Tenang dulu, Princess. Biar aku yang bujuk," ucap Dimas yang dibalas angguka oleh Alissa.
"Shei. Lo baik-baik aja?" Dimas bertanya dengan pelan. Alissa berdecak mendengar pertanyaan retoris semacam itu. Jelas-jelas Sheira sakit. "Sheira sakit, Dim."
Dimas mengangguk paham sembari meringis. "Shei. Mending lo ke UKS aja deh. Lo disini juga nggak ada gunanya." Alissa melotot menatap Dimas. Apa yang baru saja dikatakan laki-laki itu?
"Sembarangan banget sih lo kalau ngomong." Sheira menyahut ucapan Dimas dengan kesal.
Dimas terkekeh pelan, "Lo sakit aja masih bisa galak ya." Sheira menatap tajam Dimas yang menyengir.
"Sa, anterin gue ke UKS." Sheira menyuruh Alissa menemaninya yang langsung disanggupi gadis itu. Dimas yang melihat Alissa berdiri segera menahan lengannya untuk kembali duduk. "Biar gue aja." Setelah itu Dimas langsung berdiri di samping Sheira yang tengah menatap tajam ke arahnya. Dimas tidak mengindahkan tatapan tajam Sheira.
Sheira berdiri dengan pelan namun tiba-tiba badannya sedikit limbung. Segera saja Dimas menahan tubuh gadis itu yang terkulai lemas. Sheira sebenarnya ingin mendorong jauh-jauh tubuh Dimas darinya namun tenaganya seperti terkuras habis, menghilang entah kemana, dia pun tidak melawan kala Dimas memapahnya menuju UKS. Tubuhnya benar-benar lemas, kepalanya pusing, pandangannya sedikit berkunang-kunang.
Alissa yang sedari tadi melihat kondisi Sheira benar-benar dilanda kecemasan yang berlebih. Dia khawatir akan keadaan Sheira. Gadis itu mempunyai daya tahan tubuh yang kuat, namun entah kenapa kali ini bisa sakit begitu. Mata Alissa bahkan berkaca-kaca melihat Sheira yang limbung. Beruntung ada Dimas yang sigap menahan tubuh Sheira agar tidak jatuh. "Hati-hati, Dim." Pesan Alissa sebelum mereka keluar dari ruang kelas. Dimas mengangguk kemudian membawa Sheira pelan-pelan.
Dimas tidak peduli berapa banyak pasang mata yang melihat dirinya membantu gadis galak di sebelahnya. Dia hanya merasa khawatir akan kondisi tubuh gadis keras kepala ini. Dimas tidak tahu kenapa dia bisa merasa cemas berlebih seperti ini. Seperti tertular oleh Alissa. Tapi tentu saja hal ini murni dirinya yang benar-benar kalut. Gadis di sebelahnya ini biasanya mencak-mencak dan sudah berceloteh yang menyulut Dimas untuk menggodanya. Lebih baik dia mendengar umpatan dari bibir gadis itu dari pada melihatnya lemas tidak berdaya seperti sekarang.
Entah karena tidak sabar atau tidak tahan dengan Sheira yang berjalan sangat pelan. Eh, bukannya sama saja ya? Dimas menaruh lengan kirinya di bawah lutut Sheira kemudian menggendong gadis itu. Sheira membelalakkan matanya terkejut. Segera saja dikalungkan kedua lengannya ke leher Dimas. Dia ingin protes namun ucapan Dimas membuatnya bungkam. "Nggak usah protes atau lo gue bawa pulang ke rumah gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet
Teen FictionDimas Putra Kusuma. Seorang laki-laki yang membuat Sheira harus menahan kesal setiap berada di dekatnya. Selalu mendebatkan semua hal jika bersamanya. Saling umpat dan saling hina. Namun bukan sakit hati yang Sheira rasakan, melainkan sesuatu yang t...
