"Terus Dimas nerima?"
"Enggak lah."
"Kenapa?"
"Kenal aja enggak. Ya, Kak Putri emang imut, cantik, lucu. Tapi, Dimas sama sekali nggak tahu apa-apa tentang Kak Putri. Tahu namanya aja waktu MOS." Sheira mengerti sekarang. Kalau dia di posisi Dimas juga dia tidak akan menerima. Hey, dia tidak kenal tapi langsung dijadikan pacar. Tidak semudah itu!
"Terus maksud lo apaan?" Sheira bertanya kepada Alissa yang menceritakan kisah Dimas.
"Gue merasa lega aja, Kak Putri udah dapet gantinya Dimas. Gue harap dia bisa bahagia. Walaupun bukan sama Dimas. Kebayang dong ditolak cowok, adik kelas lagi."
"Tapi ya resiko sendiri, belum kenal baik langsung ngajak pacaran. Kayak udah kenal lama aja. Yang sahabatan aja masih digantungin."
Alissa terbahak mendengar kalimat Sheira. "Curhat, neng?"
"Sorry ya. Gue nggak pernah tuh kejebak friendzone. Ogah. Makanya gue nggak punya sahabat cowok."
"Itu si Gery."
"Elah. Itu mah nggak dihitung."
"Dimas."
"Kayaknya gue nggak pernah jadiin Dimas sahabat gue deh. Dia itu temen ribut gue."Sheira tertawa kecil selesai berkata demikian.
"Dasar lo."
"Tapi kok lo bisa tahu Kak Putri pernah nembak Dimas? Lo ngintip? Ih, Alissa. Nggak baik tahu ngintipin orang. Nanti bintitan."
"Sembarangan lo." Alissa memukul wajah sheira dengan bantal sofa.
Saat ini, Sheira sedang menemani Alissa. Haha. Bukan sih, lebih tepatnya dia akan menginap di rumah Alissa karena besok hari Minggu. Akhirnya, setelah sekian lama sibuk dengan urusan masing-masing, mereka bisa menikmati waktu bersama lagi. Euh, terdengar menggelikan? Sedikit memang. Tapi Sheira benar-benar merindukan sahabatnya. Dia butuh teman pelampiasan. Dia butuh tempat sampah yang bersedia menampung seluruh unek-unek dalam hatinya. Dan tempat yang paling tepat dan cocok adalah Alissa. Haha. Katakan dirinya jahat. Tapi hanya Alissa satu-satunya teman yang bisa dia percaya saat ini. Gery? Oh, dia beda sekolah, Man. Iyan? Adiknya? Yang ada si Iyan malah meledeknya habis-habisan. Mama? Dia tidak mau membebani pikiran ibunya. Sheira sadar beliau sudah cukup pusing melerai pertengkaran kecil dirinya dengan Iyan.
"Dimas cerita ke gue." Sheira terus merapalkan kalimat itu dalam pikirannya. Dimas sering curhat kepada Alissa, Sheira baru tahu itu. Ya, lagipula wajar saja. Dimas kan memang dekat dengan sahabatnya itu. Bahkan dia punya nama panggilan khusus yang sungguh terdengar menggelikan di telinganya. Sheira tahu Dimas tidak pernah bertindak kasar kepada Alissa. Dia selalu menuruti permohonan Alissa, apapun itu. Sheira tersenyum kecut dengan segala pemikirannya. Hah, otaknya sudah geser sepertinya. Kenapa dia memikirkan laki-laki itu? Sheira menggelengkan kepalanya cepat untuk mengenyahkan pemikiran bodoh di otaknya. Buat apa dia ngurusin Dimas?
"Oh," jawab Sheira pendek.
"Hm." Alissa menjawab dengan gumaman. Lengannya memeluk bantal sofa dengan erat.
"Dimas kayaknya deket banget sama lo, Sa." Sheira merutuk dirinya sendiri yang berani-beraninya berkata demikian. Katakan dirinya keceplosan. Tapi, dia memang benar-benar penasaran hubungan sahabatnya dengan Dimas.
Alissa menoleh menatap Sheira yang bersandar di sebelahnya. "Maksud lo?"
Sudah kepalang tanggung, Sheira harus menuntaskan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. "Hm, ya lo deket banget sama Dimas. Jarang loh cowok curhat sama temen ceweknya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet
Teen FictionDimas Putra Kusuma. Seorang laki-laki yang membuat Sheira harus menahan kesal setiap berada di dekatnya. Selalu mendebatkan semua hal jika bersamanya. Saling umpat dan saling hina. Namun bukan sakit hati yang Sheira rasakan, melainkan sesuatu yang t...