Dimas sialan!
Sheira bisa merasakan pipinya menghangat setiap kali mengingat dirinya dan Dimas berada di UKS beberapa hari yang lalu. Bahkan sampai sekarang kejadian itu seakan melekat di otaknya. Padahal Sheira berusaha mati-matian untuk melupakannya.
"Are you okay, Ra?"
Alissa bertanya kepada Sheira yang sedari tadi mendecakkan lidahnya. Entah apa yang membuat gadis itu terlihat kesal.
"Uh, yeah, I'm fine."
"You lie to me. I know something has happened to you," kata Alissa dengan curiga.
"You know me so well."
"I am. So, can you tell me what's going on?"
"Umm, you know, I'm nervous." Alissa memicingkan matanya menatap Sheira. "Seminggu lagi kita bakal tampil."
"Ya wajar aja sih. Soalnya ini kan ulang tahun yayasan sekaligus lustrum sekolah. Dan pasti acaranya bakal meriah."
Sheira bisa bernapas lega karena Alissa mengalihkan pembicaraan. Dia tidak sanggup kalau harus menceritakan tentang jantungnya yang mau copot tiap dekat Dimas.
Entahlah. Akhir-akhir ini Sheira merasakan keanehan dalam dirinya. Jika biasanya dia akan merasa kesal kepada Dimas bahkan dalam radius sepuluh meter. Sekarang ini dia lebih sering merasa gugup. Sheira sendiri juga tidak tahu kenapa. Jantungnya seolah menolak diajak bekerja sama bila berdekatan dengan Dimas. Dan yah, Sheira bersyukur hari ini dia tidak perlu merasakan jantungnya kebat-kebit karena Dimas tidak mengunjungi Alissa seperti biasa. Laki-laki itu sedang menghadiri rapat bersama pembina dan panitia pertandingan olahraga dalam rangka ulang tahun yayasan.
***
Seminggu ini SMA Pertiwi disibukkan dengan serangkaian kegiatan seperti pertandingan olahraga antar kelas dari futsal, volly, basket, bulu tangkis, dan catur. Lomba cerdas cermat, speech contest, story telling, menulis artikel, baca puisi, dance, menyanyi, sampai kebersihan antar kelas. Lomba terakhir itu sih inisiatif dari guru, supaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Sheira dan Alissa disibukkan dengan latihannya menjelang hari besar nanti. Sembari menunggu, biasanya mereka berdua menonton pertandingan olahraga di lapangan.
Futsal dan basket menjadi pertandingan paling diminati warga SMA Pertiwi. Kumpulan cowok keren dan jago olahraga menjadi satu. Tentu saja hal itu menjadi sasaran empuk bagi para cewek jomblo yang kesepian. Padahal belum tentu cowok-cowok itu juga sesama jomblo.
Dimas meneguk air mineral kemasan sebelum menghampiri Alissa dan Sheira yang duduk di tepi lapangan.
"Hai, Princess."
Ugh! Sheira jengah dengan Dimas yang selalu memanggil Alissa dengan sebutan 'Princess'. Dan lagi, disini bukan hanya Alissa, dirinya jelas-jelas duduk tepat di sebelah Alissa, tapi Dimas seolah mengabaikan kehadirannya.
"Hai, Dim." Alissa membalas dengan senyuman. Sheira sendiri memilih mengamati sekitar tanpa melihat interaksi keduanya.
"Lihatin apa, Shei?"
Sheira terperanjat begitu mendengar Dimas menyebut namanya. "Oh, itu lihatin ring basket."
Dimas terkekeh kecil mendengar jawaban Sheira. Gadis itu sudah merutuk dalam hati, bisa-bisanya berkata aneh begitu. Sheira terlalu terkejut karena Dimas bertanya tiba-tiba.
"Ringnya nggak bakal lari kemana-kemana kalau lo lihatin terus."
Alissa di sebelahnya juga terkekeh dan menggelengkan kepalanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet
Teen FictionDimas Putra Kusuma. Seorang laki-laki yang membuat Sheira harus menahan kesal setiap berada di dekatnya. Selalu mendebatkan semua hal jika bersamanya. Saling umpat dan saling hina. Namun bukan sakit hati yang Sheira rasakan, melainkan sesuatu yang t...