Tiga belas

18 2 0
                                    

"Iya, ngefans sama kakak kelas kita.  Stalker kali ya."

"Gue bukan stalker."

Alissa terkekeh di tempatnya melihat raut wajah Sheira yang merengut. "Iya iya bukan stalker, tapi penggemar rahasia." Alissa tertawa dengan ucapannya sendiri.

"Elo kali penggemar rahasia." Alissa mengehentikan tawanya begitu Sheira berbicara. "Kenapa gue?"

"Alah, pura-pura nggak tahu."

"Serius, gue nggak ngerti deh yang lo omongin."

"Pak Yusuf." Sheira berkata dengan nada pelan namun berhasil membuat Alissa membelalakkan matanya. "Lo bilang sendiri Pak Yusuf itu tampan, baik, jenius, alim lagi."

"Ih, jangan keras-keras ngomongnya. Lagian, emang gue pernah ngomong gitu?"

"Elah, belaga pikun. Pikun beneran baru tahu rasa," ucap Sheira sambil memalingkan wajahnya menuju sumber yang menjadi pusat perhatian sedari tadi.

"Sheira! Jangan sembarangan bicara. Nggak baik tahu nyumpahin orang."

"Siapa yang nyumpahin orang?" Sheira bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.

"Elo."

"Kapan?"

"Tadi."

"Ke siapa?"

"Gue lah, siapa lagi."

"Hm." Sheira hanya bergumam menanggapi Alissa. "Tapi emang bener kok Pak Yusuf itu alim. Cakep lagi."

"Iya, tapi sayang udah beristri. Lo mau jadi istri keduanya?" Alissa merengut mendengar ucapan Sheira.

"Ya nggak mau lah."

"Atau lo mau jadi selingkuhannya? Ckckck, gue saranin jangan deh. Kasihan istrinya."

"Sheira! Lo ngomong asal nyablak aja sih. Siapa juga yang mau jadi selingkuhan? Idih, kayak nggak ada yang lain. Lagian gue kan bukannya naksir sama itu guru. Gue cuma kagum aja."

"Iya, gara-gara namanya Yusuf." Alissa menyengir sambil memainkan rambutnya yang dikuncir kuda.

"Lo tuh aneh banget. Masa gara-gara namanya Yusuf, terus lo mendadak kagum sama dia. Hello, Lissa. Yang namanya Yusuf banyak kali." Sheira berbicara sambil sesekali melihat ke belakang Alissa.

"Gue penasaran aja sama orang yang namanya Yusuf. Lo kan tahu sejarah Nabi Yusuf. Dia itu manusia paling tampan sejagad raya."

"Terus apa hubungannya?"

"Nggak ada."

"Fix otak lo udah geser. Pasti gara-gara sering main sama Dimas."

Alissa mengerucutkan bibirnya sebal yang malah membuat Sheira terkekeh. Alissa terlihat menggemaskan saat ini. "Kok lo bawa-bawa Dimas sih?"

"Ya memangnya kenapa? Suka-suka gue dong."

"Lo nyebelin yah, Ra. Bener apa kata Dimas."

"Tuh sekarang malah lo yang bawa-bawa dia."

Alissa mencebikkan bibirnya ke bawah karena Sheira terus-menerus menatap ke arah belakangnya. Dia jadi penasaran apa yang sedang Sheira amati. "Lihatin apaan sih?"

Sheira segera beralih menatap Alissa yang hendak menengokkan wajahnya ke belakang. "Jangan nengok." Alissa mengernyit heran. "Pokoknya jangan."

Alissa menghela napas kemudian merebahkan diri di sandaran kursi. Matanya fokus menatap Sheira yang sesekali menengok ke belakang Sheira dan dirinya. Alissa tidak tahu siapa yang duduk di meja belakangnya. Terdengar riuh, penuh dengan suara bass laki-laki dan satu suara perempuan yang terdengar cempreng. Serius. Entah telinga Alissa yang bermasalah atau memang benar suara perempuan di belakangnya memekikkan telinga. Alissa tidak tahu bahwa tepat dibelakangnya adalah murid-murid yang menjadi pusat perhatian seluruh kantin itu.

SweetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang