Sheira memerhatikan Alissa yang tengah mengerjakan sesuatu di Sketchbook-nya. Bibirnya menyunggingkan senyuman seolah senang dengan apa yang dibuatnya. Jemarinya bergerak lincah memilih pensil warna dan menorehkannya ke lembaran kertas di hadapannya.
"Lo gambar apa sih?" Sheira bertanya penasaran. Alissa bergumam lirih tanpa mengalihkan pandangannya. Dia masih fokus menyelesaikan gambarnya.
Sheira mencibir kalimatnya yang tidak diacuhkan oleh sahabatnya. Bibirnya tercebik kebawah, matanya kemudian beralih kepada tumpukan novel yang masih terbungkus rapi di ranjang milik Alissa. Saat ini keduanya tengah menghabiskan waktu di kamar Alissa sejak pulang sekolah. Selain itu Sheira juga punya misi mengajak Alissa menemani dirinya di kelas Teater besok. Minggu lalu gadis itu absen karena harus menyelesaikan tugas Seni Rupanya. Sheira tidak mau tahu pokoknya Alissa harus ikut dengannya nanti. "Lo harus nemenin gue besok. Titik."
"Idih, maksa."
"Emang. Pokoknya lo gue jemput jam dua belas di sekolah." Putus Sheira tidak ingin dibantah.
"Kalau gue belum keluar jam dua belas, gimana?" Alissa bertanya sembari memerhatikan lamat-lamat kertasnya dan memainkan ujung pensil yang digunakannya.
"Gue masuk ke dalem terus nyeret lo keluar. Beres." Sheira berbicara lancar sambil melipat kedua lengannya dan bersandar di sofa empuk warna tosca di kamar Alissa. "Kayak berani aja lo," cibir Alissa.
"Enggak," kata Sheira jujur. "Si bego!" Alissa mengumpat pelan membuat Sheira terkekeh di tempatnya. Wajahnya dibuat menjadi sedemikian rupa seolah-olah terluka mendengar ucapan Alissa. "Jahat lo ngatain gue bego. Aku terluka."
Alissa tidak dapat menahan tawanya melihat Sheira yang melebih-lebihkan ekspresinya. "Sumpah. Lo jadi mirip anak alay. Geli gue."
"Tuhan, apa salahku, apa dosaku, punya teman seperti dirinya." Sheira kembali berakting membuat Alissa melemparkan pulpen di atas meja.
"Just stop it. I don't like your acting. It makes me feel loathing." Sheira pun terbahak mendengar Alissa menggerutu. Namun ekspresinya kembali berubah menjadi sedih. Alissa tahu Sheira akan kembali berakting sehingga dia hanya memerhatikan tingkah sahabatnya itu. "Akting gue jelek banget ya. Lo aja pengen muntah. Kayaknya gue emang nggak bakalan bisa tampil di Opera. Padahal itu impian gue dari kecil."
Alissa tersenyum kecil mendengar Sheira yang terlihat begitu bersedih. "Iya. Jelek banget." Alissa menyahut pendek yang membuat Sheira melotot padanya. "Gue kira lo bakal ngomong begini, 'Nggak kok, Ra. Akting lo bagus banget. Lo pasti bakalan tampil di Opera suatu saat nanti'." Perkataan Sheira membuat Alissa tersenyum lebar dan mendekat kepadanya. "Utututu. Iya, akting lo bagus banget kok."
Sheira mendengus dan memalingkan wajahnya karena Alissa telah memeluknya saat ini. "Basi lo. Udah sana lanjutin gambar lo." Alissa terkekeh geli mendengar Sheira yang terdengar merajuk kemudian berjalan kembali ke meja belajarnya. Melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.
"Sini deh." Alissa menyuruh Sheira mendekat setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Wow! Ini bagus banget, Ra." Puji Sheira jujur begitu melihat gambar yang dibuat Alissa. Ternyata gadis itu membuat sebuah desain kebaya lengkap dengan modelnya.
Alissa terkekeh, "Lebay lo." Sheira menaikkan sebelah alisnya dengan mata yang terus menatap kertas milik Alissa dengan penuh kekaguman. "Gue serius. Ini bagus banget. Lo bakat jadi designer."
Alissa kembali terkekeh, "I wish." Sheira kemudian membuka-buka lembar demi lembar Sketchbook milik Alissa perlahan. "Ini semua lo yang gambar?" Tanya Sheira pelan dengan mata berbinar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet
Teen FictionDimas Putra Kusuma. Seorang laki-laki yang membuat Sheira harus menahan kesal setiap berada di dekatnya. Selalu mendebatkan semua hal jika bersamanya. Saling umpat dan saling hina. Namun bukan sakit hati yang Sheira rasakan, melainkan sesuatu yang t...