"Sheiraaaa. Sheiraaaa."
Suara teriakan Alissa dari teras akhirnya berbuah hasil. Sheira datang dengan gaun hijau lumut selutut yang kontras dengan kulit putih miliknya. Jalannya cepat dengan kedua tangan yang penuh dengan barang bawaan. Wajahnya tertekuk sebal dan bibirnya mengerucut tak berhenti menggerutu.
"Nggak usah teriak-teriak bisa nggak sih. Kuping gue masih berfungsi dengan baik kalau lo lupa." Alissa meringis mendengar gerutuan sahabatnya.
"Ya habis lo lama sih."
Sheira melotot kemudian memakai flat shoes putih di kedua kakinya. "Sabar elah. Namanya juga cewek. Dimas juga belum kesini kan?"
"I have been here since about 30 minutes ago." Suara bariton khas laki-laki dari belakang Sheira membuat gadis itu segera menoleh ke belakang. Dengan sedikit rasa bersalah, Sheira segera menenteng kembali barang-barang miliknya yang sebenarnya hanya berupa kado berukuran sedang di tangan kirinya dan clutch bag yang belum sempat dikalungkannya.
Meringis kecil, Sheira menggamit lengan Alissa dan berjalan keluar rumah. "Sorry. Tadi baru nyiapain kado makanya lama. Ya udah, yuk," ajaknya.
Sheira benar-benar lupa membeli kado untuk Gery. Baru tadi pagi dia heboh dan segera menarik Alissa keluar dari rumahnya tanpa mandi dahulu untuk mencari hadiah. Sheira tidak memedulikan protes yang dilayangkan Alissa kepadanya. Sahabat cantiknya itu cukup ditraktir Baskin Robbins, dan semuanya beres. Alissa sangat menyukai es krim favoritnya, apalagi saat sedang kesal.
Dimas segera menuju kursi kemudi sementara Alissa duduk di kursi penumpang depan dan Sheira duduk di belakang. Tidak masalah bagi Sheira dia duduk di belakang. Tidak ada bedanya juga mau di depan atau di posisinya sekarang. Toh dia sudah pernah merasakan duduk di kursi itu. Dia tidak cemburu. Lagipula, untuk apa juga dia cemburu? Memangnya dia... 'Sial. Gue mikir apa sih,' gerutu Sheira dalam hati.
Tapi masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya berkaitan dengan Dimas dan Alissa. Sudahlah, Sheira tidak mau menebak-nebak. Dia sudah cukup pusing menghadapi kenakalan dan kejahilan adiknya belum lagi ditambah sifat aneh Dimas. Well, bukan aneh sih, tapi rese'.
Ting!
Sebuah pop up aplikasi chatting muncul di layar ponselnya. Sheira bisa membaca dengan jelas pengirim dan isi pesan yang baru saja dikirimkan kepadanya.
Dimas
Lo cantik pake baju itu.What? Apa-apaan laki-laki itu? Apa maksudnya mengirim pesan begini? Kenapa tidak bicara langsung? Sepertinya cowok itu malu memuji Sheira secara langsung, atau mungkin dia tidak enak dengan keberadaan Alissa di antara mereka. Sheira memang cantik mau dipakaikan baju apapun, setidaknya itu yang ada di pikirannya. Meskipun tak pelak, pesan singkat yang dikirimkan cowok aneh yang tengah menyetir tersebut membuat kedua pipinya merona.
Namun, Sheira tetap heran dengan kelakuan aneh Dimas. Dan lagi, kapan cowok itu mengirim pesan kepadanya? Perasaan dari tadi tangannya tidak lepas dari kemudi di depannya. Entahlah, Sheira tidak mau memikirkannya lagi. Gadis itu mengetikkan balasan untuk Dimas yang fokus menyetir dan sesekali mengobrol dengan Alissa.
Sheira
ThanksSheira menutup ponselnya kemudian bergerak sedikit mencari posisi yang lebih nyaman sebelum memejamkan matanya. Dia lelah. Tapi karena belum mengantuk, Sheira pun hanya mencoba rileks sebentar dengan mata yang tetap terpejam.
"Shei."
"Hm." Sheira menyahut suara Alissa dengan gumaman.
"Tidur lo?"
"Enggak."
"Tapi mata lo merem. Bentar lagi nyampe nih, jangan tidur dulu," kata Alissa.
"Ck! Iya iya, gue nggak tidur kok." Akhirnya dengan terpaksa Sheira membuka kedua matanya. Kelopaknya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
***"Gue kira banyak yang diundang, Ger. Ternyata cuma segini?" Sheira bertanya dengan tidak percaya. Dilihatnya satu per satu teman-teman yang menghadiri acara ulang tahun Gery.
Ada dirinya dan Alissa tentu saja, Dimas, Irfan, dan kak Arya. Dia tidak tahu mengapa laki-laki itu bisa diundang ke acara Gery. Setahunya Kak Arya hanyalah rekan satu tim basket bersama Dimas.
Gery mengangkat bahunya ringan. "Gue pengen ngadain acara yang lebih private aja. Jadi cuma kalian yang gue undang. Lagian ini semacam syukuran aja, Ra."
Sheira mengangguk paham. Akan tetapi dia merasa ada yang aneh di sini. Wajah Gery terlihat sedikit muram. Tapi bukan itu yang mengganjal pikiran Sheira. Berpikir lama sembari mengedarkan pandangan, Sheira mengernyitkan keningnya begitu menyadari sesuatu. "Fifi mana, Ger?"
"I'm here." Suara seorang gadis dengan nada lantang menarik semua pasang mata untuk meliriknya.
Fifi di sana, membawa sebuah kue cokelat yang tampak sangat lezat dengan senyuman lebar di wajahnya.
Gery yang melihatnya langsung berdiri untuk menyambut kekasih hatinya tersebut. "Gue kira lo lupa," katanya dengan nada kesal yang kentara.
Fifi terkekeh pelan. "Nggak lah. Nih nggak lihat gue bawa apa? Cake spesial buat Gery yang super nyebelin."
Semua orang tertawa, tak terkecuali Gery yang memandang Fifi dan cake itu penuh minat.
"Kok nggak ada lilin, Fi?" Tanya Alissa. Fifi hanya membawa kue ulang tahun yang masih cantik dengan topping yang dihias menarik, tanpa lilin yang menyala.
"Nggak perlu. Langsung potong kue aja." Gery menyahut Alissa dengan santai.
"Make a wish dulu dong, sebelum potong kue."
Setelah memejamkan mata sebentar, Gery membawa kue itu untuk dipotong diatas meja. Potongan pertama tentu saja untuk Fifi. Selanjutnya, Gery menyuruh teman-temannya untuk memotong sendiri. Alissa tentu saja mengambil potongan yang paling besar. Dia menyukai cake. Sementara Sheira, dia hanya mengambil potongan kecil dengan krim yang begitu tebal dan banyak. Sheira amat tergila-gila dengan icing sugar dan krim lembut yang menjadi topping cake cokelat di atas meja sana.
"Nih." Uluran tangan dengan selembar tisu di genggaman Dimas membuat Sheira menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Usapin bibir lo. Udah gede tapi makan masih belepotan," katanya dengan kilat geli di matanya.
Pipi Sheira merona dengan cepat. Sedetik kemudian, dengan menekan rasa malunya, Sheira berusaha menampilkan kembali wajah datarnya. "Thanks."
Dimas hanya tersenyum kecil membalas ucapan terimakasih dari bibir Sheira.
"Muka lo kenapa, Shei?! Merah gitu. Cieeee." Suara Irfan menginterupsi seluruh kegiatan yang berlangsung di ruangan itu. Gery menyewa salah satu ruangan VIP yang sama yang pernah dia gunakan saat reuni dulu untuk memeringati hari lahirnya.
Sontak wajah Sheira kian memerah antara malu dan menahan kesal yang amat sangat dibenaknya. Irfan sungguh menyebalkan. Matanya menatap tajam laki-laki yang tengah tertawa mengejek di sana. Wajahnya puas sekali melihat Sheira yang mengkerut menahan malu. Sementara teman-temannya yang lain memandangnya geli dan tawa yang tertahan di bibirnya masing-masing.
Netranya beralih ke arah Dimas yang ikut tersenyum geli dan sesekali tak ragu mengeluarkan tawanya. Double shit.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet
Teen FictionDimas Putra Kusuma. Seorang laki-laki yang membuat Sheira harus menahan kesal setiap berada di dekatnya. Selalu mendebatkan semua hal jika bersamanya. Saling umpat dan saling hina. Namun bukan sakit hati yang Sheira rasakan, melainkan sesuatu yang t...