Window (Jaeyoon)

139 19 3
                                    

Menggerutu sebal, menyumpah serapahi, bahkan marah-marah sendiri di dalam kamar sudah Dahye lakukan. Untung saja, keadaan rumah sedang sepi karena kedua orangtuanya berada di rumah neneknya. Mungkin kalau mereka berada di rumah, Dahye akan mendapatkan omelan-omelan sang ibu karena sudah berisik disaat malam hari seperti ini.

Alasannya hanya satu. Gadis manis itu kesal karena Jaeyoon tidak mau mengangkat teleponnya, dan juga lelaki itu tidak membalas pesan dari Dahye satupun.

"Jaeyoon sialan! Aku bertaruh bahwa dia sedang ber-hibernasi di atas kasur empuknya!"

Dahye beranjak dari ranjangnya, ia berjalan terburu-buru dengan hanya memakai piyama tipisnya dan kakinya hanya beralaskan sandal rumah bermotif Spongebob miliknya.

Ia keluar dari rumah malam-malam begini hanya untuk menghampiri Jaeyoon di rumah sebelah.

"Enak saja dia tidur, sedangkan aku mengerjakan tugas kelompok sendirian tanpanya!" Bibir Dahye masih nyerocos dengan tangannya berkacak pinggang.

Memang ini bukan salah Dahye. Jaeyoon lah yang bersalah disini.
Lelaki itu sendiri yang dengan suka rela meminta pada dosen untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Dahye. Dan, sedari tadi ia mengacuhkan panggilan telpon Dahye. Gadis itu sudah cukup pusing karena tugasnya harus selesai malam ini dan dikumpulkan esok pagi, tapi Jaeyoon menambah kepusingannya dengan tidak datang ke rumah Dahye untuk mengerjakan tugas kuliah mereka.

Dahye memanjat pagar rumah Jaeyoon untuk sampai di jendela kamar lelaki itu. Ia sudah biasa melakukan ini. Memanjat layaknya seorang maling hanya karena tidak ingin mengganggu acara tidur kedua orangtua Jaeyoon.

"Kalau saja kau bukan temanku. Akan kutelan kau hidup-hidup!" Dahye mulai menaiki satu persatu celah yang ada di pagar rumah Jaeyoon.

Diposisikannya kaki kanan terlebih dulu untuk menyentuh lantai marmer keluarga Lee.

Namun apa yang terjadi?
Kakinya meleset! Tidak mendarat di lantai dengan sempurna.

BUK!

——

Jaeyoon mengeratkan selimut tebalnya ketika dirasanya angin malam kembali memasuki kamarnya melalui celah-celah pintu.

Hendak saja Jaeyoon akan pergi ke alam bawah sadarnya kembali, tapi benturan keras di luar sana mengusiknya.

Ia beranjak dari ranjangnya dengan mata setengah terbuka. Oh ayolah, tidur terganggu itu sangat sulit untuk membuka mata lebar-lebar!

Cklek

Jaeyoon membuka jendela kamarnya dengan perlahan, karena ia tau kalau suara benturan keras itu berasal dari balik jendela kamarnya.

"O-oh? Shin Dahye? Mengapa kau terduduk di lantai dingin seperti itu?" Jaeyoon terkejut setelah mendapati teman satu kampus sekaligus tetangganya itu kini tengah tersungkur di lantai dengan sandal yang sudah tidak menempel di tempatnya.

Jaeyoon tak mendengar jawaban dari temannya tersebut. Ia malah mendengar suara isakan dari bibir Dahye yang lambat laun menjadi semakin jelas terdengar.

Heol! Dahye menangis!

"Lho, Lho. Dahye? Kau kenapa?" Jaeyoon panik setengah mati di tempatnya saat ini, bahkan matanya yang tadi setengah terbuka kini menjadi terbuka lebar-lebar ketika mendapati Dahye menangis di bawah lantai sana.

"S-sakit....Hiks"
Dahye perlahan berdiri dari duduk tersungkurnya, ia berjalan mendekat pada Jaeyoon yang masih berada di dalam kamarnya.
Ia memanyunkan bibirnya di hadapan Jaeyoon dengan pipi yang basah oleh airmata.

"Ya tuhan! Bibirmu berdarah! Ayo cepat masuk!" Jaeyoon dengan segera membantu Dahye untuk memanjat jendela kamarnya.

Direngkuhnya tubuh Dahye di luar sana, ia menggendong Dahye dengan susah payah karena terhalang jendela besar tersebut.

Di dudukannya Dahye di tepi ranjang, ia menatap bibir Dahye yang berdarah sebentar sebelum kemudian ia mengambil obat pereda nyeri di atas nakas samping tempat tidurnya.

"Sudah tau itu jendela! Tapi masih kau cium juga!" Jaeyoon mengomeli Dahye dengan tangannya yang masih memberikan salep pereda nyeri tersebut di bibir bawah Dahye.

Dahye meringis pelan saat jari telunjuk Jaeyoon yang beroleskan salep itu menyentuh bibir bawahnya. "Ini salahmu! Kau mengabaikan telepon dan pesanku! Itulah sebabnya aku kemari."

Jaeyoon menepuk jidatnya sendiri, ia baru ingat bahwa Handphone nya ia setting untuk tidak berbunyi, karena tidak ingin diganggu saat akan tidur.

"Astaga, aku lupa kalau ada tugas kelompok!"

Dahye dengan segera menjitak kepala Jaeyoon dengan keras.
"Dasar pelupa!"

Jaeyoon terkekeh geli, ia lanjutkan mengoles salep ke bibir bawah Dahye dengan telaten. Matanya fokus kearah bibir Dahye yang terluka, membuat jantung Dahye berpacu dengan cepat karena jarak yang dekat itu.

"Sudah selesai!" Jaeyoon menjauhkan tangan beserta wajahnya dari hadapan Dahye, menaruh bungkus salep pereda nyeri di tempatnya semula. Kemudian ia menatap Dahye yang sudah berhenti meneteskan airmata. Jaeyoon gemas melihat raut wajah Dahye seperti sekarang ini. Rambut gadis itu berantakan akibat acara terjatuh dari pagarnya tadi, pipinya basah karena airmata. Dan jangan lupakan bibirnya yang sedikit menganga akibat salep pemberian Jaeyoon yang belum juga mengering.

"Dahye-ah" lelaki bersurai merah kelam itu memanggil dan menatap intens gadis di sampingnya.

"Hmm?" Dahye hanya bisa berdehem menjawab panggilan lembut Jaeyoon.

"Kurasa besok bibirmu akan membengkak."

Mata Dahye membulat sempurna mendengar ucapan Jaeyoon.
Apa tadi dia bilang? Membengkak? Itu akan sangat memalukan!

Dahye kembali meneteskan airmatanya. Ia merasa sedih jika mengetahui besok pergi kuliah dengan bibir yang membengkak.
Pasti teman-temannya akan berpikiran negatif tentang bengkaknya bibir Dahye nanti.

"Mau kubantu menyembuhkannya tanpa meninggalkan bengkak, tidak?" Jaeyoon tersenyum misterius ketika mengatakannya. Tentu senyuman itu mempunyai makna tersendiri oleh pemiliknya.

Dahye mengangguk cepat tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Ia hanya ingin dengan segera sembuh dan tidak membengkak di keesokan harinya.

"Baiklah, aku mulai." Jaeyoon memposisikan badannya lebih menghadap kepada Dahye dengan nyaman. Tangannya ia ulurkan untuk mencengkram kedua sisi bahu Dahye. Wajahnya perlahan-lahan mendekat. Dahye tidak menolak, karena ia tidak tau apa yang akan Jaeyoon lakukan padanya.

Hingga hidung mancung Jaeyoon menyentuh hidungnya, nafas Jaeyoon sedikit tidak beraturan menerpa pipi bagian bawah Dahye.  Tinggal satu senti lagi, bibir Jaeyoon akan menyentuh bibir bawah Dahye.

"Ya! Kau mau apa!?" Dahye berteriak kencang dengan mendorong dada Jaeyoon untuk menjauh darinya. Ia melupakan salep di bibirnya yang masih basah itu dengan berteriak geram kepada Jaeyoon.

"Hei jangan berteriak! Nanti ibu dan ayahku bangun." Jaeyoon mengintrupsi sambil menempelkan telunjuknya di bibir.

"Kau yang mulai! Apa yang akan kau lakukan? Menciumku? Astaga!"
Dengan brutalnya Dahye memukuli lengan Jaeyoon dengan keras.

"Ya! Jika aku menghisapnya, itu akan sembuh dengan cep— Ya!" Jaeyoon merintih kesakitan akan pukulan Dahye di lengannya.

"Bukannya sembuh! Tapi malah semakin bengkak karena dihisap, bodoh!"

"Bagaimana kau tau kalau hisapanku akan membuatnya semakin membengkak? Memangnya kau pernah mencoba?"

"Ya!"
Jaeyoon kembali merintih karena sekarang bukan hanya lengannya yang mendapatkan pukulan, tapi kepalanya pun dijitak oleh gadis di sampingnya.

"Dasar mesum! Bodoh! Gila! Lee Jaeyoon mesum!"



FIN.

Hayo ngaku! Siapa yang ngajarin Mas Jaeyoon kalo bibir sakit dihisap bakalan cepet sembuh? wkwk
Maklumin yaa.. Mas Jaeyoon sudah dewasa (?)

Ditunggu Vote dan Komennyaaa ^^

SF9 FanfictionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang