"Apa kau sudah lupa jika aku tak pernah suka melihatmu di tempat kerjaku?" ketus Soo Jin saat Eunhyuk datang dengan setangkai mawar putih di tangannya.
Eunhyuk tersenyum tenang. Ia sudah sangat terbiasa dengan sikap ketus Soo Jin, jadi itu bukan lagi masalah. Seperti gulma yang selalu disemprot pestisida dengan jenis yang sama, Eunhyuk kebal.
"Semoga kau suka mawar putih. Mawar putih ini kupetik dari kebunku sendiri," jelas Eunhyuk dengan mengulurkan setangkai mawar putih segar nan menawan pada Soo Jin.
"Aku tak bermaksud melukai perasaanmu, tapi aku ... hatcihhh! Hatcihhh! Aku ... alergi bunga mawar."
Eunhyuk kebingungan dan segera menyembunyikan mawarnya ketika Soo Jin terus saja bersin. Soo Jin alergi bunga mawar? Alangkah bodohnya dirinya karena telah membawa sesuatu yang membuat Soo Jin alergi.
"Eeee ... Soo Jin, mianhae. Aku benar-benar tidak tahu," gugup Eunhyuk kebingungan harus berbuat apa.
"Haissshhhh, sudah pergi sana ...! Hatchih!" usir Soo Jin.
Eunhyuk menatap sedih bunga mawar putih cantik yang dibawanya kemudian menatap Soo Jin yang berjalan menjauh darinya masih sambil bersin-bersin. Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Harapannya membuat Soo Jin terkesan malah berbuah malapetaka. Ia tak menyangka, jika tidak semua yeoja menyukai bunga mawar.
***
Back Song : Park Hee Kyung-Sang Uh Reul Sarang
So Hyun menatap sinis ke arah Donghae yang saat ini duduk di depan gerbang sekolahnya. Lagi-lagi Donghae menjadi pusat perhatian para yeoja. Apa para yeoja itu bodoh? Bagaimana bisa mereka bersikap manja dan memuakkan seperti itu di depan Donghae? Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah sikap Donghae. Apa dia sengaja tebar pesona? Bagaimana bisa dia terus tersenyum di depan para yeoja itu?
"Kau ingin terus jumpa fans atau bekerja?" ujar So Hyun dingin begitu menghampiri Donghae.
Donghae tak terlihat terkejut atau tersinggung dengan sindiran So Hyun. Alih-alih, dia hanya menatap So Hyun sekilas kemudian berpamitan pada para yeoja yang sejak tadi mengerubunginya setelah itu mengikuti So Hyun masuk ke dalam mobil.
"Gomawo. Kau telah menyelamatkanku," ucap Donghae saat telah berada di dalam mobil.
"Kurasa kau tidak merasa kuselamatkan. Bukankah kau senang dikelilingi oleh yeoja-yeoja seperti mereka?" ketus So Hyun.
Donghae mendesis. Lagi-lagi dan lagi, So Hyun berkata sinis padanya. Apa yeoja itu tak bosan terus bersikap ketus seperti itu? Ia saja telah bosan.
"So Hyun, aku ingin bertanya serius padamu."
So Hyun diam saja, dan itu sudah cukup bagi Donghae untuk merasa diijinkan melanjutkan pertanyaannya.
"Apa kau tidak lelah?"
So Hyun tersenyum miris. Lelah? Perasaan itu sudah lama pergi meninggalkannya, jadi untuk apa dia lelah?
"Kau terus berpura-pura menjadi dirimu yang lain. Ketika pertama kali aku bertemu denganmu, aku tidak terlalu terkejut dengan sikapmu. Hampir semua gadis kaya bertindak seperti itu. Tapi, semakin aku mengenalmu, aku menemukan dirimu yang begitu dingin dan tak punya perasaan. Kupikir, kau memang lahir dengan sifat seperti itu. Dan setelah aku melihat fotomu bersama kakakmu, Kim So Eun, aku baru sadar jika dirimu yang sebenarnya adalah gadis ceria yang memiliki senyuman sangat manis. Apa kau tidak lelah terus berpura-pura seperti ini? Aku tahu, kau bisa berdamai dengan semua hal yang terjadi. Hanya saja, kau selalu memaksa hatimu untuk tak melakukan itu. Apa kau tidak merasa lelah menjalani kehidupan seperti ini? Menjadi orang lain. Seandainya kau ...."
"Kenapa kau bicara seolah kau tahu siapa diriku?" potong So Hyun yang tak lagi ingin mendengar tentang dirinya yang telah lama ia bunuh dan kubur dalam-dalam. So Hyun yang berada dalam foto itu telah lama mati. Dan ia tak suka jika Donghae kembali mengungkitnya.
"Kau dibayar oleh Appaku untuk menjadi butlerku dan juga mengajariku mengurus perusahaan. Jadi, jangan pernah melewati batas," lanjut So Hyun.
"Kenapa kau menghindar So Hyun? Apa kau begitu takut?"
So Hyun mendelik ke arah Donghae. Takut? Tidak. Ia tak pernah takut, karena rasa takut hanya dimiliki So Hyun yang dulu.
"Kehidupan manusia, memang tidak akan lepas dari peran orang-orang yang kita sayangi. Ada yang merasa lebih kuat karena orang yang disayanginya, ada pula yang rapuh karena orang yang disayanginya dan ada pula yang kecewa seperti dirimu. Semua orang pernah kecewa, tapi kita tidak bisa menyalahkan orang lain jika keputusannya membuat kita terpuruk. Ibumu dan juga kakakmu, memang mengambil jalan yang salah, tapi jauh di lubuk hati mereka, aku yakin meraka tak ingin membuatmu terpuruk seperti sekarang ini. Mereka memilih untuk pergi, bukan untuk menghancurkan hidupmu. So Hyun ... tidak bisakah kau berhenti menyalahkan takdir? Harapan yang sejati bukanlah harapan yang diberikan oleh orang lain, karena harapan yang dibawa orang lain bisa saja hancur. Tapi, harapan yang sejati adalah harapan yang kita bangun sendiri. Hidup adalah pelajaran, So Hyun. Apa pun yang telah terjadi, baik atau buruk, itu adalah sebuah pelajaran."
"Hari ini kau begitu cerewet. Apa kau juga tidak lelah?" sahut So Hyun mencoba terlihat tak acuh dengan semua uraian yang dikatakan Donghae. Meski hatinya sedikit tersentuh, tapi dirinya yang sekarang tak bisa begitu saja menerimanya. Bagaimana jika nanti hidupnya kembali dihancurkan? Ia trauma.
"Lelah? Tentu saja aku lelah. Kau begitu susah dinasihati. Tapi, karena aku tak merasa terbebani, jadi rasa itu langsung lenyap begitu saja setiap kali muncul. Selain itu, percaya atau tidak, aku tulus ingin melihat senyumanmu lagi. Aku ingin melihat Kim So Hyun seperti dalam foto itu."
So Hyun menoleh dan menatap Donghae lekat. Dalam tatapan matanya, Donghae tersenyum. Senyuman itu entah kenapa seolah mempunyai daya ajaib yang menelesupkan sesuatu ke dalam hatinya. Semacam rasa percaya, rasa tenang dan rasa bahagia. So Hyun segera menundukkan wajahnya, berusaha meredakan serbuan perasaan yang datang ke dalam hatinya karena senyuman yang seolah tak segera enyah dari wajah Donghae. Kenapa Donghae harus tersenyum seperti itu? Begitulah batin So Hyun. Senyuman itu meski sering ia lihat, tetapi kali ini berbeda. Senyuman itu membuatnya berantakan. Membuatnya kembali merasakan apa yang dirasakannya ketika untuk pertama kalinya tangan Donghae mengenggam erat tangannya. Untuk kedua kalinya, ia merasa seperti ditetesi sesuatu yang sangat sejuk di dalam hatinya.
"Tawaranku waktu itu mempunyai jangka waktu yang tak terbatas, jadi kapan pun kau merasa membutuhkannya, maka mintalah padaku," ucap Donghae tiba-tiba mengungkit mengenai tawaran yang dulu pernah ditolak So Hyun.
"Kenapa kau repot-repot melakukan ini padaku? Apa motifmu? Cinta anak konglomerat sepertiku, uangku, atau kedudukan di perusahaan?" tanya So Hyun sarkastik. Meski ia tahu jika bukan ketiga hal itu yang diinginkan Donghae, tapi entah kenapa ia selalu tak bisa mengendalikan dirinya untuk tak bersikap sinis pada Donghae. Atau mungkin, dia sedang ketakutan hingga ia berusaha mengenyahkannya dengan dugaan-dugaan yang bukan berasal dari dalam hatinya.
"Bagaimana jika semuanya?"
"Heh, kau serakah sekali," komentar So Hyun sinis.
Donghae tersenyum santai, seolah tak peduli jika So Hyun menganggapnya sebagai orang berengsek yang serakah.
"Aaaa ... aku memang serakah, karena itu aku suka mendekati orang serakah sepertimu. Bukankah kita akan menjadi pasangan yang serasi? Orang serakah dan orang serakah," canda Donghae yang menyulut desisan sinis So Hyun. Ia sedang tak nafsu bercanda atau lebih tepatnya memang tak pernah bernafsu untuk bercanda.

KAMU SEDANG MEMBACA
BLUE SKY
FanfictionHarapan ... Kim So Hyun sudah tak sudi untuk mengingatnya lagi. Harapan yang sekian lama begitu ia percayai telah mengkhianatinya dengan sangat kejam. Semenjak kematian kakaknya, Kim So Eun, gadis itu pun ikut mati. Raganya mungkin terlihat hidup, t...