Chapter VIII

3.6K 370 4
                                        

Tante (adj.)

A mixture of feeling uneasy and worried, as if you can feel your own heart beat.

[CHINESE]

-----

[Rei's POV]

"Kamu punya otak gak sih?"

Aku tidak menjawab. Tidak bisa bersuara. Aku benar-benar paham kalau Al meledak. Tidak usah Al, aku sendiri marah pada diriku. Diriku yang benar-benar luar biasa bodoh.

Apa gunanya selama ini? Apa gunanya aku sudah berperang untuk diriku dan Al, melawan orangtuaku sendiri, yang masih tidak setuju soal Al. Apa gunanya aku sudah ngotot mati-matian tidak ingin meneruskan bisnis keluarga, yang akan membuat aku jauh dari Al, sangat dan terlalu jauh, karena harus berada di Semarang. Apa gunanya aku menolak mengambil S2 ke luar negeri, karena tidak siap meninggalkan Al sejauh itu, selama itu. Apa gunanya aku memilih bekerja di KAP besar dan berkelas seperti itu, dengan gaji yang memang cukup tinggi, yang dapat disimpan, untuk rencana kami.

Apa gunanya tabungan yang sudah disiapkan itu, dan rencanaku untuk melamar Al dan mengajaknya bertunangan setelah dia lulus kuliah nanti.

Apa gunanya semua itu sekarang?

Kalau bisa, aku juga ingin memukul diriku sendiri. Menghantam wajahku sendiri. Dan jelas sudah mengatai diriku sendiri, berkali-kali, ratusan kali.

Mengapa aku bisa sebodoh itu?

Mengapa aku bisa sebajingan itu?

"Kamu kok bisa jahat kayak gitu sih, Mas, sama aku? Aku ada salah apa sama kamu?"

Dan wanita yang ku sayangi itu, menangis di depanku.

Berikan pisau sekarang, dan aku rela menusuk diriku sendiri, dibanding harus melihat Al menangis seperti itu. Melihat wanita itu menangisi film romantis di bioskop saja, aku biasanya sudah tidak rela. Aku akan mencolek hidungnya, atau mentowel pipinya, mengganggunya agar tidak fokus menonton, semata-mata agar wanita itu tidak benar-benar meneteskan airmata. Biasanya akan dibalas Al dengan bibir yang dimajukan, cemberut karena diganggu ketika sedang fokus.

"Aku rasa, kita sama-sama tau apa artinya ini," Al bersuara, sambil menghapus airmatanya yang sudah jatuh. Aku ingin sekali mengulurkan tanganku dan menghapuskan air di bawah mata Al, sebesar keinginanku untuk menghapus luka Al ini. Sebesar keinginanku untuk kembali ke masa lalu dan tidak melakukan kesalahan bodoh itu, kalau bisa.

Tapi, kita semua tahu, itu tidak bisa terjadi.

"Aku bisa jelasin ke kamu dulu,"

"Karena aku udah janji kasih kamu waktu sejam, dan sekarang udah 20 menit berlalu, aku akan tetep kasi kamu waktu 20 menit untuk jelasin. Tapi, aku cuma mau jelasin di depan, ke kamu, kalau, sekali lagi, kita sama-sama tau apa artinya ini. Dan, bahwa penjelasan kamu juga tidak akan merubah pikiran atau keputusan aku sama sekali,"

Aku kembali terdiam. Aku paham. Aku mengerti. Sangat mengerti kalau Al terluka. Tapi, mendengar Al mengatakan bahwa kami memang tidak akan berlanjut, tidak perduli apapun penjelasanku, membuat diriku merasa sedih dan kecewa.

Tapi, paling tidak, Al akan tahu yang sebenarnya.

"Silahkan kalau mau menjelaskan," kata Al lagi. Mungkin, berpikir aku diam cukup lama. Tapi aku seperti kehilangan kata-katanya. Otakku mendadak kosong.

Apa gunanya menjelaskan kalau toh itu tidak akan merubah keadaan.

"Apa kita benar-benar tidak ada harapan lagi, Al?"

AlleindraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang