Chapter XVII

3.8K 393 5
                                        

Redamancy (n.) :

The act of loving the one who loves you; a love returned in full.

[ENGLISH]

-----


[ Rei's POV ]

"Can I ask you something serious?"

Aku menoleh, menatap Al yang sedang memegangi double cheese burger di tangannya.

Aku kembali ke venue setelah tadi berencana pulang dan menyetop taksi. Ketika melihat Al dan pria itu di meja yang tidak terlalu jauh dari mejaku, entah mengapa, aku merasa muak sendiri. Dan kemudian, memutuskan untuk tidak mengikuti sesi networking. Toh memang, aku belum punya ide apapun. Christ dan temannya jelas ikut, tapi mereka membolehkan aku pergi.

Tadinya, aku memang sudah ingin pulang. Tapi kemudian, aku hanya berada di area parkiran, menghabiskan 3 batang rokokku yang tersisa, sebelum kemudian, membuang bungkus yang sudah kosong. Mungkin setengah jam lebih, aku hanya disana dan merokok. Lalu kemudian, aku beranjak menjauh dari area venue, dan mencari taksi. Tidak terlalu mudah, karena beberapa orang juga sudah mulai pulang. Meskipun akhirnya, setelah lebih 15 menit berdiri di pinggir jalan, aku mendapatkan taksi.

Tapi, belum juga jauh, Al mengirimkan sms. Dan, entah bagaimana mengatakannya, tapi, ada perasaan senang dan juga lega dalam diriku.

Well, a part of me was hoping that she will call, or send text. Contacting me, at least. Dan, mungkin itu juga alasan aku masih berada di area venue dan bahkan tidak masalah menunggu taksi selama hampir setengah jam.

Masih berharap Al akan menguhubungi. And she did.

So yeah, ketika dia bilang apa aku mau menemaninya dan menyetir mobilnya, tentu saja dengan cepat aku mengiyakan. Dan meminta supir taksi yang membawaku, untuk putar arah dan kembali ke venue.

"Boleh lah." Kataku, menjawab pertanyaan Al, yang sekarang sedang meletakkan kembali burgernya, setelah menggigit sekali.

Aku sendiri, memang belum mulai makan.

"Aku dulu pernah buat salah ya sama kamu?"

And that is when I feel like a piece of shit.

"Maksud kamu apa sih, Al?" tanyaku bingung. Dan sedih, sebenarnya. Walaupun aku tidak tahu, apakah Al bisa merasakan nada sedih dalam suaraku.

"Iya, waktu kamu memutuskan tidur dengan cewek itu, apa karena aku pernah bikin salah ke kamu, Rei?"

Aku memundurkan tubuhku, bersandar pada kursi di belakangku.

"Enggak, Al. Aku udah bilang, itu sepenuhnya salahku. Dan aku menyesal. Sangat."

Al diam, memandangi aku.

"Aku beneran nyesel. Kamu gatau gimana gilanya aku, sampe harus ke luar negeri Cuma buat ngejauh dari kamu. Sampe harus lari ke gunung biar gak dapat sinyal dan justru stalking kamu pas kamu wisuda. Cuma biar aku bisa ngelaksanain permintaan kamu, yang gak mau lagi kenal sama aku. Karna, aku tau aku emang salah, Al."

Al masih memandangiku, sebelum kemudian dia menarik napas panjang, dan menghembuskannya. Tangannya kemudian meraih burger di atas meja, dan kembali menarik benda itu mendekat ke arahnya.

"Jadi, kalau ada orang yang selingkuh, itu salah orangnya kan? Bukan salah pasangan orang itu?"

"Of course. Dia niat atau gak niat, dia akhirnya selingkuh. It takes two to tango, jadi, ga mungkin yang godain doang yang salah. Yang selingkuh, juga salah."

AlleindraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang