Bab 10 will i keep a distance? No no i think i can't.

61 5 7
                                        


🔊 standing egg - i'll pick you up🎵
❤♥❤♥❤
.
.
.

Di kamarnya jung-kook terdiam memandang langit-langit kamarnya. Benaknya kini belepotan bak barusaja di celup-celupkan kedalam lumpur kotor. Ya, mengungkap kebenaran tentang tzuyu yang selama ini ia pendam membuat dirinya benar- benar kacau.
Di ingatnya wajah tzuyu yang terisak sedih. Ia sudah banyak meninggalkan gadis itu dalam kesedihan sendirian. Apa ia sudah terlalu kejam? Jika yang tzuyu cintai adalah Kakak laki-lakinya, bukankah sebaiknya ia menghargai perasaan gadis itu, Bukan malah menyakitinya balik?

Ahh apa peduli ku...jika dia mencintai hyung, seharusnya dia mengatakannya dengan jujur Bukan malah mencintai aku yang memiliki wajah serupa dengan hyung. Tapi.......

"Ahh molla !!" dengus jung-kook berdecak sebal. Ia bangkit dari rebahannya berjalan menuju piano di sudut kamar dekat jendelanya. Jemarinya mengelus badan piano hitam mengkilat itu.
Dulu demi tzuyu, jung-kook rela belajar mati-matian mendalami instrument besar dengan puluhan tuts ini hanya untuk menghadiahi gadis itu lagu piano favoritnya. Tapi sekarang itu hanya kenangan kelam baginya.

Jung-kook terdorong untuk memainkan piano itu. Sudah lama sekali ia tak menyentuhnya. Sudah lama sekali ia tak mendengar suara denting indahnya. Kini ia rindu membunyikan alat musik besar itu. Barusaja jung-kook akan meletakkan kesepuluh jemarinya di atas tuts hitam putih piano tapi segera ia menyadari dirinya belum lagi tau lagu apa yang akan di mainkannya.

Benaknya melayang pada pemandangan menakjubkan seorang gadis mungil yang berdiri ditengah panggung memainkan gitarnya sambil mengenakan gaun imut bak putri salju yang sesuai dengan paras baby face imutnya.
Tanpa jung-kook sadari kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sunggingan senyum.

"Imut sekali......." gumamnya melamunkan paras imut yae-won.

Ya benar! Jung-kook jadi ingin sekali memainkan lagu yang dinyanyikan oleh yae-won tempo hari di gedung teater.
Namja tampan itu memejamkan kedua matanya, ia mencoba membiarkan suara lembut yae-won memenuhi pikirannya. Sementara jemarinya mulai mencari nada pertama yang sesuai dengan lagu itu.
Berkali-kali ia gabungkan setiap nada yang terbesit dalam benaknya, tapi tak satupun ada yang sesuai.

Ahh..baiklah aku menyerah..desah jung-kook mengakhiri peruntungan musiknya yang sedang buruk. Ya, biasanya ia selalu tepat dalam hal menebak nada sebuah lagu. Tapi,..ah entahlah mungkin karena hari ini lelaki itu tak bertemu dengan dewi keberuntungannya.

Jung-kook beralih dari hadapan piano menuju balkon jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan pemandangan semarak kota Seoul yang di dominasikan gedung-gedung pencakar langit. Ia tampak merenung ulang kata-kata yae-won beberapa hari yang lalu.

Aku adalah pembunuhnya.....
Lelaki yang meninggal dua tahun lalu itu...
Akulah yang membunuhnya...
Ucapan yae-won kembali terngiang di telinganya.

Benarkah kau yang membunuhnya? Dengan tangan mungilmu yang hangat itu?

Lalu ucapan sanghyun turut mengisiki benaknya.

....tidakkah ini janggal? Jika bukan yae-won pelakunya..Kenapa gadis itu memilih diam saat diinterogasi oleh polisi?...
.
.
Ya, ini janggal. Jika pada polisi saja yae-won bungkam, Kenapa ia malah dengan mudah mengatakan itu padaku?

Apa karena sekarang yae-won telah membuktikan dirinya padaku bahwa ia benar-benar memiliki kemampuan spesial itu?

Bisa jadi ia mengatakan itu untuk membuatku menjauhinya, bisa jadi itu hanya kebohongan. Ya,dia ingin menyelamatkanku dari nasib sial, karena itulah dia mengatakan hal itu.

Nun WangjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang