"Jadi.. Kenapa kau memutuskan untuk membiarkanku hidup?"
Bulan sekali lagi memancarkan cahaya ajaib yang membuatku tak hentinya kagum.
Berbeda dengan temaramnya cahaya keemasan yang terpancar begitu kuat saat padam listrik, kali ini warnanya adalah biru. Seolah memberitahu kami bahwa tenaganya telah habis setelah menyinari angkasa semalam penuh, biru mengindikasikan bahwa matahari akan segera menggantikan posisinya.
Memberitahu Yeri dan aku bahwa kami sudah terjaga sangat melewati jam tidur, sementara tak sedetikpun mataku sayu menatap wajah gadis itu yang rasanya semakin sendu seiring berlalunya malam. Matanya mengatakan bahwa ia butuh sentuhan dukungan, namun aku bersikeras untuk menjaga posisi kami.
Duduk saling bersebelahan, dengan tangan terjaga di lutut masing-masing.
Entah, rasanya seluruh organku meleleh setiap detik aku menghabiskan malam bersamanya saat ini.
Memuaskan rasa penasarannya atas dosaku padanya.
"Aku juga tidak mengerti.." Sekujur tubuhku merinding bukan main. Otakku menolak mengulang kembali kenangan buruk itu.
Sunyinya malam itu yang dibuka dengan suara peluru yang ditembakkan Jimin hyung, kekehan puas Taehyung hyung setelah menghabisi kedua orangtua Yeri..
Yang membuatku paling paranoid adalah betapa aku mendekap Kim Yerim yang menggigil bukan main, ketika gadis itu tak mampu menyembunyikan rasa kehilangannya lebih lama lagi.
"Aku sudah tidak apa kak." Gadis itu kini menaikkan kedua kakinya, lalu melipatnya dan mengubah posisinya sehingga benar-benar menghadapku. Gelapnya rumah kami saat ini pun tak mendukung emosiku. Dengan bermandikan cahaya bulan sekarang, mata Yeri tetap menunjukkan perasaan jujurnya.
"Well.." Tanpa sadar, tubuhku memposisikan hal yang sama dengannya. Kini dihadapanku, ekspresi datar yang biasa seorang Kim Yerim tampakkan padaku--terlihat begitu menyakitkan untukku.
"--Malam itu adalah misi pertamaku. Kedua hyungku tahu aku masih berhati lemah jadi mereka memutuskan untuk ikut--berakhir dengan mereka yang melakukan semua. Dan aku memang masih belum bisa melakukannya. Aku sudah mengingat kembali seluruh perintah hyung ketika bertemu calon korban, minimal aku harus menggorok lehernya. Aku terus mengatakan hal itu pada diriku sendiri, aku bahkan sudah menggenggam erat pisau ketika memasuki kamarmu."
"Lalu?" Tak sedikitpun aku berhasil menemukan celah ketakutan Yeri, jadilah kuteruskan.
"Memang benar. Aku tidak sanggup melakukannya. Yang ada justru, aku menyelamatkanmu 'kan?"Kunaikkan bahuku, berusaha terlihat tidak peduli namun nyatanya aku bahkan agak was-was dengan tidak berubahnya air wajah Kim Yerim.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, kak Jungkook." Sorot matanya mendadak berubah, kini rasanya seolah menembus kulit wajahku. Entah marah atau kecewa, aku tak yakin itu.
"Aku tak bisa melakukannya, sudah kubilang."
"Aku masih 16 tahun, bagaimana aku bisa hidup tanpa orangtuaku??"
Malam sunyi itu akhirnya dipecahkan oleh tangisan Yeri.
Menunduk rapat dengan nafasnya yang sesegukan, pemandangan itu terlampau menyakitkan bagi siapapun--terlebih bagiku yang terlibat dalam kejahatan itu.
Angin malam itu mendadak tak terasa dingin lagi, suara tangisannya kini perlahan merasuk ragaku--dengan pelukanku sebagai perantaranya.
Aku tidak yakin apakah semalam aku turut menumpahkan likuid bening bersama gadis itu.
Aku tidak yakin apa semalam aku berhasil menenangkannya dan mengucapkan selamat tidur didepan kamar.
Aku tidak yakin apa beberapa jam berlalu sampai matahari benar-benar terbit, aku tenggelam dalam benakku atau sungguhan tertidur.
Seluruh keraguanku mendadak buyar, bersamaan dengan sebuah lenguhan lembut dari seorang yang tertidur pulas didadaku.
Kim Yerim benar-benar tidak berat yet saat ini batin dan pikiranku bertarung, memutuskan untuk tetap bangun atau kembali mempererat pelukanku padanya.
Dan aku berani bersumpah bahwa surai gadis itu benar-benar mengalihkan perhatianku. Pertama, helai-helainya yang selalu menjadi hal pertama yang ku kagumi di pagi hari. Detik berikutnya, tahu-tahu hidungku sudah mendarat disana--menyesap aroma bantal yang ajaibnya tercium sangat homey bagiku.
"Kak?"
Jikalau Tuhan sudah menghitung dosaku sejak malam itu, sudah dapat dipastikan tubuhku akan membusuk di neraka. Terlebih beberapa hari terakhir, hatiku goyah dengan fakta keberadaan gadis ini--Kim Yerim yang polos, membiarkanku terus memeluknya dan berharap semua yang kulalui dengannya adalah mimpi.
"Stay. Please."
Aku tak dapat menemukan jalan keluar.
Semakin kusesap aroma surainya, mendekapnya kini terasa sangat sempurna sekalipun memberi celah gadis itu ke dalam hatiku adalah kesalahan terbesar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Do You Know
Fanfiction"Tinggal dengan seorang yang tak seharusnya tahu soal rahasiamu, tentunya kau juga harus jadi pribadi yang lain 'kan?"
