"Maaf?"
Tak pernah sedetikpun seorang Kim Yerim membayangkan harinya tanpa pemuda aneh itu, si bongsor yang selalu memberinya kasih melebihi semasa orangtuanya masih hidup dulu.
Menjadi gadis yang tertutup, Yeri benar-benar menghargai adanya ruang kosong untuk dirinya sendiri--batas paling luar darinya untuk orang lain dapat masuk ke hidupnya. Dan, Jeon Jungkook menyediakan jarak itu. Lebih dari cukup, justru gadis itu berpikir ulang bahwa Jungkook tak seharusnya membuat tempat itu sebab Yeri menyukainya sedikit lebih banyak dari yang seharusnya.
Menyediakan kamar, makan malam, dan bahkan selimut dengan tubuhnya sendiri tatkala rasa bersalah dan kehilangan menerpa gadis mungil itu setiap malam tiba--Jeon Jungkook mendadak menjadi sebuah pilihan terbaik yang tak pernah ia pikirkan sedikitpun.
"Permisi?"
Jeon Jungkook selalu menjadi seorang gentleman.
Itu mungkin menjadi faktor utama alasan pemuda itu berhasil menjarah hati Kim Yerim bahkan tanpa ia sadari, meski saat ini gadis itu baru sadar bahwa ketulusan Jungkook yang membuatnya bertahan sejauh ini.
Meski masih terhitung dengan jari berapa malam ia habiskan dalam pelukan lengan keras Jeon Jungkook, Kim Yerim tak pernah menemukan kehangatan yang sama.
Sekalipun saat ini ada seorang wanita cantik berambut pirang yang rupanya ikut terlelap sambil memeluk Yerim.
"Maaf?"
Garis hidung yang tegas, kulit sepucat salju, serta bibir seranum ceri.
Side profile wanita itu adalah idaman seluruh perempuan di muka bumi ini.
"Oh, Yerim sudah bangun?"
Tak lupa, legamnya manik mata wanita itu menyempurnakan kecantikannya.
Terlebih dengan intonasi penyayang serta pelukan keibuan yang aneh rasanya sebab pelukan wanita itu jauh lebih familiar untuk Yeri dibanding saat ibu kandungnya memeluknya sendiri.
"Yerim-ie menangis banyak semalam?" Bibir wanita itu mengerucut ketika jemari dingin mengagetkan Yerim, mengusap pelan mata sembab sang gadis yang lebih muda. Yang secara ajaib lagi, membuat gadis yang kebingungan beberapa detik lalu mendadak ingin menumpahkan air matanya lagi. Ingatan soal betapa hancurnya acara kaburnya dengan Jeon Jungkook akibat kehadiran dua lelaki asing yang membawanya pergi serta melontarkan salah satu peluru perak menembus betis kanan Jungkook, membuat Yerim kembali merindukannya.
Sangat.
"Psst.. Psst.." Wanita itu kembali menarik sang gadis mungil dalam peluknya, mengusap punggungnya lembut persis layaknya seorang ibu akan lakukan untuk menenangkan sang anak. "Hidupmu sudah terlalu keras, Kim Yerim. Orangtuamu berhak mendapat tempat di neraka sebab menelantarkan anak-anaknya, terlebih kau--anak gadis yang seharusnya mendapat kasih, bukannya pelecehan selama kau dibuang."
Kaget bukan main soal bagaimana wanita itu mendapat info yang sudah ia simpan begitu rapat, Yerim melonggarkan pelukannya. "Kakak siapa?"
"Irene, sweatheart." Semanis gula kapas, wanita bernama Irene itu mengecup kening Yerim. "Saatnya istirahat dari dunia yang melelahkan ini, Kim Yerim."
*******
"Jungkook.."
Tak terhitung sudah berapa kali sang kakak meminta tamu tak diundang itu untuk menyantap makanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Do You Know
Fanfiction"Tinggal dengan seorang yang tak seharusnya tahu soal rahasiamu, tentunya kau juga harus jadi pribadi yang lain 'kan?"
