Kaki-kaki putih tanpa alas itu berlari dengan sangat kencang, membelah rerumputan di lapangan hijau luas yang terletak tak jauh dari rumahnya. Kedua tangannya merentang tinggi ke atas seolah ingin menggapai langit, sementara helai-helai rambut pirangnya yang panjang berterbangan kemana-mana dihempas angin sore.
Sebuah senyum lebar terukir manis di bibir merah alaminya. Mata indahnya terpejam rapat, menikmati setiap sentuhan angin yang menerpa kulitnya. Sama sekali tidak ada beban di wajahnya yang cantik, polos, dan bersih dari dosa dunia. Kesempurnaan gadis itu memang sangat memikat, memancarkan aura magis tersendiri ketika dirinya sedang merasa bahagia.
Tiba-tiba, langkah kaki itu berhenti. Sepasang mata indahnya terbuka lebar, menatap lurus ke depan dengan binar jenaka. Senyumnya semakin mengembang ketika melihat sosok yang sudah sangat dia kenal berdiri di sana.
"Hello little pretty, how are you?" sapa Gigi, melambaikan tangan begitu melihat gadis remaja itu menghentikan langkah tepat di hadapannya. Ya, gadis cantik berwajah malaikat itu bernama Morgan.
"I'm fine, Aunty Gigi. Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Morgan dengan nada riang. Dia masih memamerkan senyum indahnya yang begitu tulus. Jika ada orang asing yang kebetulan lewat dan melihat senyuman itu, sudah pasti Morgan akan diculik saking menggemaskannya gadis remaja ini.
"Hahaha... Aku ke sini karena ingin bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik," Gigi terkekeh geli sembari mengulurkan tangan, mengelus lembut rambut pirang Morgan yang sedikit berantakan karena angin.
"Oh yeah? Siapa dia?" tanya Morgan, sengaja memasang wajah penasaran yang dibuat-buat, memicingkan matanya yang bulat.
"Dia adalah Morgan. Apa kamu tahu di mana dia?" balas Gigi, mencoba menahan tawa sembari menatap Morgan dengan ekspresi yang diserius-seriuskan.
"Hmm... Aku tahu. Ayo ikuti aku jika kamu ingin bertemu dengannya," sahut Morgan sembari menjulurkan lidah, lalu berbalik badan dengan ceria.
Gigi tertawa kencang. Dia selalu merasa geli sekaligus gemas dengan kelakuan Morgan. Gadis itu sudah bertambah besar dan mulai memasuki usia dewasa, namun tingkah lakunya terkadang masih menggemaskan seperti anak kecil. Tapi bagi Gigi itu sama sekali bukan masalah, asalkan senyum itu tidak pernah hilang dari wajah Morgan.
Morgan berjalan mendahului Gigi, menuntunnya ke arah sebuah toko roti yang cukup populer di sudut kota. Sore itu, toko tampak ramai. Banyak pembeli yang mengantre rapi untuk memesan roti hangat yang aromanya menguar manis hingga ke jalanan.
Morgan melambaikan tangan pada Gigi sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan khusus pembuatan roti di bagian belakang. Sementara itu, Gigi memilih untuk menunggu di salah satu meja kosong di sudut ruangan kafe toko tersebut.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki bertubuh tegap dan berwajah tampan menghampirinya. Pria itu menarik kursi lalu duduk tepat di hadapan Gigi. Senyum Gigi langsung merekah lebar melihat siapa yang datang.
"Kau sedang menunggu gadis remaja itu, Sayang?" tanya pria di depannya, melonggarkan sedikit kerah kemejanya.
"Iya, dia baru saja masuk ke dalam ruangan pembuatan roti. Mungkin dia merindukan Aunty Alice dan ingin membantunya," jawab Gigi sembari bertopang dagu.
Pria itu mengangguk paham. Dia meraih salah satu roti manis yang tersaji di atas meja, lalu memakannya dengan santai.
Gigi terdiam sejenak, ekspresi wajahnya berubah agak serius. Dia menatap pria di hadapannya dengan pandangan menyelidik. "Evan... kau sudah tahu asal-usul Morgan yang sebenarnya, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Morgan (On GOING)
General FictionMencari keberadaan anak dan kekasihnya yang tidak pernah dia ketahui selama enam belas tahun, sampai dia sudah berumur 39 tahun tetap saja dia tidak mendapatkan lokasi keberadaan kekasihnya dan buah hatinya. Dia tidak tahu anaknya berkelamin laki-l...
