Sorry guys ceritanya agak gk jelas dan banyak gak nyambung hehehe :()
Thanks.
********
"Tuan, ada email masuk. Apakah Anda ingin membacanya sekarang?" Dev melangkah masuk dengan sopan, lalu menunduk hormat ke arah Jon yang sejak tadi masih berkutat serius dengan laptop di atas meja kerjanya.
Jon tidak langsung mendongak. Jemarinya masih menari di atas kibor sebelum akhirnya dia menghela napas. "Iya, teruskan email itu ke akun pribadi saya. Lalu Dev, tolong buatkan saya secangkir kopi hitam tanpa gula dan sepotong roti isi."
"Baik, Tuan. Saya permisi keluar untuk menyiapkannya."
Jon mengangguk kaku. Begitu pintu ruangannya tertutup rapat, dia langsung mengklik notifikasi email baru yang baru saja diteruskan oleh Dev. Sepasang mata birunya membaca rentetan kalimat di layar dengan ekspresi serius, yang sedetik kemudian berubah menjadi ketegangan yang pekat.
Dari: EvanG.
Kepada: Jon Skarsgard
Hai Jon, you know me?
Aku Evan Robbien, musuh gelapmu sekaligus sahabat dari wanita yang paling kau sakiti... Bella.
Apa kabarmu, buddy? Pasti hidupmu sangat baik dan dipenuhi kebahagiaan, bukan?
Aku ingin mengajakmu bertemu di Restoran Italia di pusat kota. Ada sebuah kabar penting yang ingin kusampaikan kepadamu. Apa kau mau tahu bagaimana nasib darah dagingmu sekarang, Buddy? Jika kau masih punya sedikit hati nurani, datanglah besok pukul 07.00 malam. I'm waiting for you.
Jon mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras seiring dengan geraman kasar yang lolos dari tenggorokannya. Musuh lamanya tiba-tiba muncul kembali ke permukaan, dan sialnya, pria itu membawa kartu as berupa informasi tentang anaknya. Jon bersumpah di dalam hati, dia akan membunuh Evan dengan tangannya sendiri jika pria itu berani mempermainkannya atau memberikan informasi palsu.
Pintu ruangan kembali terbuka. Dev masuk dengan langkah tenang, membawa nampan berisi pesanan Jon lalu meletakkannya perlahan di atas meja.
"Dev, kosongkan seluruh jadwalku untuk besok malam. Dan siapkan beberapa barang taktis yang mungkin aku perlukan di bagasi mobil," perintah Jon, suaranya terdengar dingin dan mutlak.
Dev sempat tertegun sejenak, namun segera menguasai diri. "Siap, Tuan. Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?"
Jon menggeleng pelan sebagai isyarat agar asistennya itu keluar. Setelah Dev menunduk hormat dan meninggalkan ruangan, Jon meraih cangkir kopi hitamnya yang masih mengepul. Dia menyesap cairan pahit itu perlahan, membiarkan rasa pahitnya membakar kerongkongan, sama seperti rasa penasaran yang kini membakar dadanya.
Besok malam. Kau harus kuat menghadapi apa pun jalannya, Jon.
****
Jarum jam tepat menunjukkan pukul 07.00 malam.
Suasana Restoran Italia malam itu cukup tenang dengan pencahayaan temaram yang elegan. Evan Robbien duduk di sudut dekat jendela besar, menatap kosong ke arah luar, memperhatikan siluet orang-orang yang berlalu-lalang di bawah guyuran lampu jalanan kota New York.
Evan terlalu larut dalam lamunannya tentang Bella dan Morgan, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa suasana di sekitarnya mendadak mendingin. Sebuah dehaman kecil yang berat dan sarat akan intimidasi mengejutkan Evan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Morgan (On GOING)
Ficción GeneralMencari keberadaan anak dan kekasihnya yang tidak pernah dia ketahui selama enam belas tahun, sampai dia sudah berumur 39 tahun tetap saja dia tidak mendapatkan lokasi keberadaan kekasihnya dan buah hatinya. Dia tidak tahu anaknya berkelamin laki-l...
