Jimin menarik lengan Seulgi dan menuntunnya ke parkiran. Seulgi sebenarnya sudah agak lega karena dari tadi Jimin sudah tak menatapnya lagi. Tapi kenapa sekarang Jimin malah melakukan ini?
"Ya, kau mau apa lagi, Park Jimin?"
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Masuklah." suruh Jimin seraya membukakan pintu mobil untuk Seulgi.
"Tidak, terima kasih. Aku akan pulang sendiri." tolak Seulgi halus.
"Masuklah. Aku tidak akan membahas hal kemarin lagi. Dan aku tidak akan mengatakan hal yang aneh-aneh. Aku hanya ingin mengantarmu pulang."
"Tapi...."
"Masuklah." suruh Jimin sambil mendorong pelan tubuh Seulgi agar masuk ke mobil. Seulgi menghela nafasnya. Inilah yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Ia teringat sifat Jimin dulu. Pemuda itu memang tidak suka ditolak. Jimin memang sangat keras kepala.
Seulgi pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan Jimin menutup pintunya lalu membuka pintu pengemudi.
Tanpa sadar Seulgi mencium wangi mobil Jimin. Ah, wangi ini benar-benar aroma Park Jimin sekali. Sudah lama Seulgi tak menghirupnya. Ia benar-benar merindukan aroma ini.
Jimin sudah duduk di bangku kemudi dan siap untuk menjalankan mobilnya. Tak lupa ia memasang seatbelt dan melihat Seulgi juga sudah memasangnya. Ia pun akhirnya melajukan mobilnya dalam diam.
KRIK KRIK
Canggung sekali suasana di dalam mobil. Ingin rasanya Seulgi berteriak sekencang-kencangnya untuk memecah keheningan, namun yang bisa dilakukannya hanya menghela nafas.
"Bolehkah aku menyalakan radio?" tanya Seulgi yang langsung diangguki oleh Jimin.
Seulgi pun menyalakan radionya.
Kkwak Jabajwo nal anajwo... can you trust me? can you trust me? can you trust me? Jebal Jebal kkereoanajwo
BIG NO!
Lagu itu adalah lagu kenangan mereka. Lagu saat mereka masih pacaran di SMA dulu. Kenapa malah lagu itu yang terputar di sana?
Seulgi merutuki dirinya sendiri karena berhasil membuat suasana menjadi semakin tak enak. Ia melirik Jimin yang masih menyetir tanpa ekspresi seolah tak mendengar lagu itu.
Padahal sebenarnya Jimin mendengarnya. Ia hanya tak ingin bereaksi. Ia juga sadar betapa canggungnya suasana mereka sekarang ini. Jimin tak ingin menambahkannya lagi.
"Mmm.. Aku matikan saja radionya." Ucap Seulgi sambil mematikan radionya dan kembali tak melakukan apapun.
"Rumahmu di mana?" tanya Jimin membuka suara.
Ah iya, Seulgi lupa! Ia memang pindah rumah setelah lulus SMA dan tidak memberitahu Jimin sama sekali. Karena saat itu mereka baru beberapa bulan putus dan hubungan mereka masih sangat tidak baik.
"Oh iya. Aku lupa memberitahumu. Belok kiri saja di depan nanti. Akan ku beritahu jalannya." jawab Seulgi.
"Jimin-ah." panggil Seulgi tiba-tiba.
"Ada apa?" sahut Jimin.
"Bagaimana kabar orangtuamu?" tanya Seulgi sambil menatap Jimin yang masih menyetir.
"Mereka baik-baik saja. Kalau orangtuamu?"
"Mereka juga baik." jawab Seulgi singkat.
"Soal kasusmu dengan Kang Woo, apakah kau benar-benar akan menuntutnya?" kali ini Jimin yang membuka suara.
"Ah ya, hmm. Aku akan memperjuangkan hak sahabatku sampai akhir. Dia laki-laki brengsek. Aku harus membuatnya jera."
"Tapi dia berbahaya. Dia bisa melukaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexplained
Hayran Kurgu{COMPLETED} Park Jimin. Pria itu hanya mencintai satu orang. Ia terlalu bodoh karena hanya mempertahankan perasaan semunya bertahun-tahun. Park Jimin tidak menyangka, rasa cinta yang ia biarkan bertahun itu, menyeruak lagi dan memaksa Jimin untuk ke...
