Part 8

4.1K 510 23
                                        

"Jimin-ah, makan yang banyak yaa.." ucap ibu Seulgi sambil tersenyum dan menaruh beberapa lauk di piringnya.

" jal meokkesseumnida (aku akan makan dengan baik)" ucap Jimin sambil membungkuk sedikit dalam duduknya. Ia kemudian memakan lauk yang disajikan oleh ibu Seulgi dengan lahap.

Seulgi masih sedikit kesal dengan Jimin karena hal tadi. Tapi yasudahlah, ia benar-benar harus mengikhlaskannya. Masih untung Jimin tak benar-benar melakukan sesuatu padanya.

"Oh iya, tadi siang Taemin datang ke sini..." jelas ibu Seulgi yang membuat Seulgi langsung tersedak.

Uhuk Uhuk

Jimin langsung menjulurkan minum tanpa menoleh sedikitpun. Ia juga sedikit terkejut dengan perkataan ibu Seulgi, tapi ia akan mendengarkannya saja dalam diam.

Seulgi buru-buru meneguk minumannya dan menetralkan nafasnya.

"Benarkah?! Apa yang dia lakukan?!" tanya Seulgi masih cukup kaget.

"Dia mencarimu tapi kau kan belum pulang. Dia juga bilang akan datang lagi karena ada sesuatu yang penting yang ingin dia bicarakan." jawab ibu Seulgi lagi.

Seulgi berpikir sejenak. Untuk apa Taemin mencarinya? Apa yang ingin dia bicarakan? Dan mengapa tidak menemuinya di kampus? Mengapa malah datang ke rumahnya?

Sejauh apapun Seulgi berpikir, ia merasa sudah tidak punya urusan lagi dengan Taemin. Seulgi pun akhirnya hanya terdiam dan tak mengatakan apapun lagi. Jimin juga diam. Ia sepertinya lebih mengerti mengapa Taemin ingin menemui Seulgi.

Tapi mendadak, ia jadi takut. Ia takut Taemin akan meminta Seulgi untuk kembali padanya. Jujur saja, dulu ia bisa menahan perasaannya saat mendengar Seulgi memiliki kekasih. Karena perasaannya masih mengendap. Seolah tertutup dan terhalang di lubuknya yang paling dalam. Ia tidak menggantungkan harapan sama sekali kala itu.

Tapi sekarang, Jimin merasa tidak akan bisa lagi. Karena ia sudah terlanjur menguak perasaannya sendiri. Ia membiarkan hatinya terbuka lagi. Dan.. perasaan itu ia ijinkan untuk merajai hatinya. Setelah beberapa waktu yang mereka lalui kemarin, Jimin merasa benar-benar tidak akan bisa melihat Seulgi mencintai pria lain.

Jimin merasa tak enak pada Taemin. Tapi ini hatinya, dan hatinya lah yang merasa seperti itu. Jimin tak punya kuasa untuk mengendalikan hatinya. Ia hanya bisa memilih untuk menahan atau mengutarakannya saja. Ia hanya bisa memilih mendekap erat-erat keinginannya atau merelakannya pergi tanpa suara.

***

Seulgi mengantar Jimin sampai depan pintu pagar rumahnya. Tak lupa ia ucapkan terima kasih karena sudah bersedia membantu tanpa bayaran apapun.

"Aku akan menraktirmu jika kita berhasil memenjarakan Kang Woo." janji Seulgi. Jimin hanya mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu mobil dan membukanya.

"Hati-hati di jalan." ucap Seulgi sambil melambaikan tangannya. Jimin menatap Seulgi sejenak.

Pikirannya berkecamuk daritadi. Hatinya bimbang di antara pilihan untuk mengatakannya atau tidak. Menimang apa yang jauh lebih baik.

Seulgi masih menunggu sampai Jimin masuk ke mobil. Tapi, Jimin malah berhenti. Ia berdiam diri cukup lama. Jimin malah melamun.

"Ya! Kau tidak akan pulang?" tanya Seulgi yang bingung karena Jimin hanya diam.

Jimin tersadar.

Ia menatap Seulgi sedikit serius.

"Kang Seulgi." panggilnya tegas.

Seulgi hanya merespon dengan matanya.

"Aku akan meralat perkataanku waktu itu."

Seulgi menatap Jimin bingung.

UnexplainedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang