Adam telah menelponnya tadi pagi, bahwa dia akan datang kerumah dan mengajak Gita pergi keluar.
Calon suaminya telah berjanji akan datang jam 7 malam, tetapi sekarang sudah jam 8 malam adam masih belum muncul.
"Sayang, dia belum datang?" Tanya Mama dengan khawatir
"Belum ma, mungkin macet" jawab Gita kepada mamanya.Gita sangat ingin menelpon Adam tetapi ia khawatir mengganggu konsentrasi Adam mengemudi.
30 menit kemudian terdengar suara motor di depan rumah Gita, Gita segera keluar dan melihat siapa yang datang. Ternyata memang Adam.
"Mau masuk dulu?" Tawar Gita kepada calon suaminya
"Tidak, ayo naik" kata Adam singkatGita sudah tahu sifat Adam, jadi jangan mengharapkan permintaan maaf darinya karena telah membuat Gita menunggu 1.30 menit.
"Mama, Gita pergi dulu ya. Assalamualaikum"
****
Ini pertama kalinya Gita di bonceng mengendarai sepeda motor, awalnya Gita sedikit khawatir tetapi semuanya terasa sangat indah dan menakjubkan, apalagi yang memboncengnya adalah calon suami dan laki-laki yang sangat dia cintai.
Rambutnya yang panjang di terbangkan oleh angin, sekarang jalanan tidak terlalu ramai. Gita ingin bertanya kemana Adam akan membawanya, tetapi dia tahu, Adam tidak akan pernah menjawab pertanyaan itu.
30 menit kemudian motor itu berhenti disalah satu jajanan pinggir jalan, Gita yakin Adam membawanya kesini karena dia tidak mengganggap dirinya penting. jika Seandainya Adam benar-benar ingin menggap gita penting, maka dia akan membawanya ke salah satu restoran yang cukup bagus, bukan makanan pinggir jalan seperti sekarang ini.
Sudah lah, mulai sekarang Gita akan belajar untuk tidak berharap begitu banyak kepada suaminya ini kelak.
Gita turun dari motor, dan memilih tempat yang agak di pinggir, karena ia sangat tidak menyukai asap rokok.Gita memesan beberapa makanan, Adam hanya memesan minuman.
Ketika makanan mereka datang, Gita makan dengan lahapnya, sedangkan Adam hanya melihat dengan jijik cara Gita makan."Gue rasa lu benalu, numpang hidup dari orang lain" kata Adam tiba-tiba.
"Dipungut dari panti asuhan, di rawat dengan gratis, dapat beasiswa kedokteran, bahkan sekarang lu bisa menikah dengan anak orang kaya, enak bangat ya hidup lu" hardik Adam Tanpa henti-hentinya.
"Lihat muka lu aja gue jijik, apa lagi gue menjalani hidup sama lu. Lu menghabiskan uang berapa banyak sih, sampai-sampai orang tua lu yang kaya bisa bangkrut begini"
Gita hanya terdiam dan melanjutkan makannya.
"Oke, gue tahu sekarang, bagi lu urusan perut memang lebih penting dari segalanya" Adam masih belum diam."Pokonya, gue nikah sama lu cuma sebentar, setelah gue balik ke Indonesia gue akan menceraikan lu, jadi bersenang-senang lah dengan kehidupan yang lu dapat sekarang ini. Sebelum semua itu gue tarik kembali dari lu.
gue mau pulang. Lu pulang sendiri."
Adam meninggalkan Gita begitu saja, tanpa melihat Gita sekali lagi.
sepeninggal Adam Gita menangis sejadi-jadinya , ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekelilingnya.***
Hari ini adalah hari pernikahan mereka, acara akat hanya dilaksanakan di mesjid, mereka tidak membuat acara resepsi sama sekali.Gita memang tidak menyukai sesuatu yang terlalu mewah, tetapi dia ingin pernikahannya ini menjadi pernikahan yang sakral.
"Saya terima nikahnya Gita nurola dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan dibayar tunai"
"Sah"
Suara Adam ketika menyebutkan namanya membuat hati Gita bergetar, inilah pernikahannya.
Tanpa sahabat, tanpa cinta dan tanpa komitmen yang jelas.Yang Gita tahu dia harus menerima takdir yang ada pada dirinya saat ini.
***
Setelah acara akat, Gita segera pindah ke rumah Adam. Papa Adam sangat menyayanginya, dia tahu itu.
Walau Mama Adam tidak begitu ramah, tetapi dia juga tidak terlalu membenci Gita.Gita sudah berada di kamar Adam, kamar ini di hias dengan begitu indah layaknya kamar pengantin, ada taburan Bunga mawar beberapa lilin yang terpasang di sudut meja.
Gita sudah mengganti baju dengan baju tidur terbaiknya, dia masih ingat dengan semua perkataan Adam kepadanya sebelum hari pernikahan mereka, tetapi Gita tidak peduli. Baginya Adam adalah suaminya, dan dia berhak atas dirinya.
Kemudian pintu kamar terbuka, Adam masuk dan langsung tidur di atas kasur.
"Lu tidur di bawah" kata Adam dengan ketus.Gita segera mengambil bantal dan sehelai seprai, kemudian dia tidur di atas lantai.
Air matanya hanya menetes sepanjang malam, ia berusaha menggigit seprai agar suara tangisnya tidak terdengar.Ini semua demi keluarga, demi mama, papa dan juga gia. Gita sanggup berkorban demi mereka semua.
***
Jam sudah menunjukan jam 5 subuh, Gita melihat Adam bersiap siap, Adam bahkan tidak melihat ke wajah Gita dari sejak acara akad nikah mereka.
Kemudian Adam pergi membawa koper keluar kamar, tanpa mengatakan apapun.Pagi hari Gita baru tahu kalau Adam akan berangkat ke Amerika, dia akan mengambil kuliah disana.
Sesaat Gita memandang cincin pernikahannya, ini adalah tanda kalau dia sekarang sudah menjadi milik orang lain, Gita harus belajar menjaga dirinya dari laki-laki lain.***
"Asalamualaikum" sapa Gita kepada semua orang.
"Cantiknya, kamu sekarang sudah berhijab ya" tanya beberapa perawat kepadanya.
"Iya mba, mau lebih memperbaiki diri" jawab Gita dengan tersenyum.Julio juga terkejut melihat penampilan baru Gita, belakangan ini Julio sedikit lebih ramah kepada semua orang, termasuk kepada cleaning service yang lain.
"Pagi, ini aku bawakan makanan" kata julio kemudian dan segera pergi ke kantornya.Gita yang juga berada disana merasa sedikit kaget. Atas keramahan dokter Julio
"Belakangan ini dokter Julio sudah berubah" kata salah satu suster yang berdiri disamping mereka.****
Tinggal di rumah Adam sangat membosankan, sekarang dokter Angung tidak mengizinkan Gita memanggilnya dengan nama dokter, ia ingin Gita memanggilnya dengan sebutan papa.
Gita sudah mulai terbiasa memangil dokter Agung dengan sebutan papa.
Dokter Agung juga sudah melarang Gita bekerja di rumah sakit, ia ingin Gita fokus belajar tetapi Gita tidak ingin berhenti dari pekerjaannya di rumah sakit, Gita sangat senang bekerja dan memiliki teman yang baik di rumah sakit. Karena dokter Agung tidak ingin memaksa Gita, akhirnya dia tetap mengizinkan Gita bekerja tetapi dengan waktu libur yang lebih banyak daripada karyawan yang lain, dan Gita dipaksa menerima penawaran itu***
Telpon Gita berdering, ia kira itu dari suaminya. Tetapi ia salah,"hay.. Gita,, kamu apakabar?jahat tidak memberitahu aku tentang pernikahan mu"
"Iyaa, sangat mendadak" jawab d Gita lagi.
"Siapa laki-laki itu? " Tanya gia penasaran.
"Seorang kenalan, makanya kamu cepat kembali ke indonesia, nanti aku kenalkan" kata gita lagi.
"Gue egk akan mau nikah mudah, egk bisa bebas"
Dalam hati gita menjawab _"aku juga gia, aku tidak ingin menikah nudah, tetapi ini takdir"Kedua saudara itu bercerita panjang lebar, lebih tepatnya hanya gia yang bercerita tentang kehidupan mewahnya di Italia, dan Gita hanya menjadi seseorang yang selalu mendengarkan semua cerita gia.
****
