Hati Rama terasa sakit saat melihat ibunya, memeluk lututnya sendiri di atas ranjang rumah sakit.
Dokter bilang ibunya kembali mengalami guncangan dalam dirinya, dan kembali depresi. Padahal ibunya baru saja sembuh, dan sekarang ibunya harus kembali lagi sakit.
Keadaan Rama pun sama tidak baiknya dengan ibunya. Sudah satu minggu dia selalu menunggui Ibunya di rumah sakit. Bukan hanya fisiknya saja yang berantakan tapi hatinyapun ikut berantakan.
Ayahnya bilang dia akan membawa Ibunya kembali ke Jerman, dan mengobati ibunya di sana.
Setelah itu Ayahnya tidak pernah lagi bicara apapun padanya. Mungkin Ayahnya marah karena semua yang terjadi pada Ibunya adalah salahnya. Ibunya menjadi kembali depresi karena salahnya.
"Mas"
Panggi Andin.
"Hemm"
Jawab Rama singkat.
"Mas istirah dulu, udah seminggu mas terus di rumah sakit, mas perlu istirahat"
Ucap Andin. Dia tidak tega dengan kakaknya yang tidak pernah mau beranjak dari rumah sakit sekitar seminggu ini. Bahkan terkadang Rama tidak makan jika tidak dia ingatkan.
"Mas pengen nungguin Mamah Din"
Ucap Rama.
"Biar aku yang jagain Mamah Mas. Mas pulang istirahat, nanti kalo Mas sakit gimana?"
Bujuk Andin. Hati Andin sudah miris dengan hanya melihat Rama yang berantakan seperti ini. Dan dia gak sanggup jika Rama sampai harus sakit.
Rama bangkit dari duduknya. Melihat ke ibunya dengan nanar.
"Kalo ada apa-apa kabarin Mas"
Pesan Rama. Andin mengangguk meng iyakan.
Rama menghela nafasnya saat berada di depan kosannya. Sudah satu minggu dia gak pulang.
Rama masuk ke kosannya, di dalam ada Arga yang sedang menonton TV.
"Mas Rama gak apa-apa?"
Tanya Arga hawatir melihat Rama yang terlihat berantakan dari pada biasanya.
"Mas gak apa-apa, mas capek, mau tidur dulu"
Ucap Rama pergi ke kamarnya.
Baru saja Rama menapak di dalam kamarnya, dia harus di kagetkan dengan lemari Jefri yang terbuka, dengan isi yang kosong, tanpa sehelaipun baju di dalamnya.
Cepat-cepat Rama keluar kamar dan bertanya keberadaan Jefri pada Arga, satu-satunya orang yang ada di rumah.
"Ga, Jefri kemana?"
Tanya Rama panik.
"Loh mas gak tau, Jefri pulang kampung seminggu yang lalu"
"Pulang kampung?"
"Iya mas, seminggu yang lalu"
Rama mengacak rambutnya frustasi. Seminggu, Jefri sudah pergi selama satu minggu dan dia tidak tau. Dan bagai mana bisa dia bisa melupakan Jefri selama satu minggu itu. Harusnya dia sadar saat Jefri tiba-tiba menghilang pada malam itu. Harusnya dia sadar saat Jefri selama seminggu tidak datang ke rumah sakit untuk menemuinya.
"Bego"
Maki Rama pada dirinya sendiri. Dia mencoba untuk menghubungi Jefri tapi nomernya tidak aktif.
Beruntung dia punya nomer Bapaknya Jefri yang sempat Rama ambil secara diam-diam dari HP Jefri.
"Halo"
Sapa seseorang di sebrang sana.
"Halo Pak, saya Temannya Jefri, apa Jefri ada di situ?"
Tanya Rama langsung.
"Jefri gak ada di sini dek, Jefri lagi kuliah, dia pulangnya setahun sekali pas mau lebaran"
Jawab Bapaknya Jefri.
"Makasih Pak"
Rama menutup telponnya. Jefri gak pulang ke kampungnya. Terus Jefri dimana. Kenapa dia menghilang gitu aja.
"Kamu dimana Jef?"
Rama menggeram antara lelah dan juga merasa bersalah. Salahnya Jefri jadi pergi. Salahnya Jefri menghilang.
Masalah ibunya saja belum selesai, dan sekarang harus di tambah dengan masalah Jefri.
"Mas mau kemana?"
Teriak Arga saat Rama pergi.
Rama tidak bergeming, dia pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Arga. Rama Kalap hampir beberapa kali mobilnya menabrak, otaknya terasa kosong, yang ada di pikirannya hanya Jefri dan Jefri. Satu nama itu yang tersemat di pikirannya saat ini.
Dengan terburu Rama menuju kampus Jefri, menanyakan pada siapun keberadaan Jefri. Tapi nihil baik dosen maupun Haikal teman baik Jefri sekalipun tidak tau keberadaan Jefri. Haikal bilang Jefri sudah seminggu tidak kuliah, dan tidak ada kabar sama sekali.
"Kamu dimana Jef?"
"Maafin mas ngelupain kamu"
Rama kembali runtuh, air matanya menganak sungai lagi di pipinya. Hatinya remuk tidak tersisa lagi saat ini. Semuanya pergi, semuanya menghilang.
"Maafin mas Jef"
Rama menenggelamkan kepalanya di stir mobil. Menangis seorang diri disana. Menangisi Takdir yang tak henti mempermainkannya. Dia hanya ingin bahagia, tapi takdir malah mengambil semuanya dari hidupnya. Ibunya juga orang yang dia cintai.
Rama kembali kerumah sakit dengan tatapan kosong, nyawanya telah pergi, yang tersisa hanyalah raganya yang terbalut rasa sakit di hatinya.
Rama duduk di samping ibunya yang masih setia memeluk lututnya.
"Mah, Rama bodoh, Rama udah ngelupain hal yang penting. Dan sekarang hal penting itu pergi ninggalin Rama"
Cerita Rama dengan tatapan kosong. Dia bahkan tidak perduli jika Ibunya akan mendengar atau tidak.
"Kenapa Rama gak bisa bahagia Mah?. Rama ingin Bahagia, tapi kenapa Tuhan selalu mengambil semuanya dari Rama?".
"Saat kebebasan Rama di ambil, Rama masih bisa terima, karena Rama masih punya mamah juga keluarga yang sayang sama Rama. Lalu saat Naufal di ambil, walau sakit tapi Rama ikhlas, karena Rama masih ada Mamah yang menjadi harapan Rama tumpuan Rama, dan dengan sabar menunggu mamah Untuk sembuh karena lagi-lagi tuhan mengambil setengah nyawa Mamah. Dan sekarang Tuhan mengambil cinta Rama, mengambilnya tanpa tersisa. Juga mengambil Mamah lagi untuk yang kedua kalinya. Rama gak sanggup lagi Mah, Rama gak bisa bertahan lagi. Udah gak ada apapun yang Rama punya sekarang"
Rama terus bicara, mengeluarkan semua isi hatinya. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan. Sudah tidak ada alasan lagi untuk dia bertahan.
Rama merasakan belaian lembut di kepalanya.
"Naufal Anak Mamah kuat, Naufal jangan sedih, ada Mamah juga mas Rama yang sayang sama Naufal."
Satu tetes air mata meluncur dari pelupuk mata Rama.
"Naufal jangan pergi, kalau Naufal pergi mamah ikut"
Rama memeluk ibunya, meraung menangis sejadinya di dalam pelukan hangat ibunya.
Kenapa hidupnya menderita. Bukan kah tuhan tidak akan memberikan cobaan di batas kemampuan umatnya. Tapi kali ini Rama sangat tidak kuat. Tidak sanggup untuk memikul cobaan ini.
"Rama ingin nyusul Naufal Mah"
****
Kelopak mata yang beberapa hari tertutup itu terlihat bergerak, pelhan mata berbulu mata lentik itu terbuka. Tapi semuanya gelap, dia tidak bisa melihat apapun. Tidak ada warna yang bisa dia lihat. Apa kah dia sudah mati?.
"Kamu sudah sadar?"
Tanya seseorang.
"Sadar?"
Tanyanya tidak mengerti.
"Ya sadar, sudah seminggu kamu tidak sadar"
"Aku gak mati?"
Tanyanya polos.
"Tentu aja enggak, kamu masih hidup"
"Terus kenapa semuanya gelap?"
Dia meraba matanya. Dia gak bisa melihat tangannya sendiri.
"Tunggu sebentar, aku panggilin dulu dokter, tapi apa cuma mata kamu yang bermasalah?, kamu masih inget kan sama nama kamu sendiri?"
Tanya orang itu.
"Nama aku Jefri"
Tbc
Wooowwwwww Jefrinya buta gengs....
Dede Wnjef anak emak kenapa kamu bisa buta toh Le?
Maaf pendek, biar pada penasaran. Tapi kayanya gak bikin penasaran muahahhaha
Vote...
KAMU SEDANG MEMBACA
BALADA ANAK KOSAN [END]
RomanceKata siapa hidup anak kosan itu gampang. Anak kosan juga punya balada yang gak kalah sama balada cintanya Rangga dan Cinta yang penomenal itu. Jefri si mahasiswa kedokteran yang naksir sama mas-mas ganteng satu kosannya. Awalnya biasa aja tapi gara...
![BALADA ANAK KOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/104932259-64-k262222.jpg)