Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

28. Pilihan lagi

21K 2.4K 222
                                        

"Ada apa Papah nyari aku?"
Tanya Rama langsung.

Hari ini dia menemui Ayahnya. Sesuai yang di katakan Andin di telpon semalam. Rama gak mau bertele-tele. Dia ingin tau apa kemauan dari Ayahnya. Karena tidak mungkin Ayahnya hanya ingin bertemu dengannya untuk melepas rindu. Rama tau siapa ayahnya, dia tidak akan mengajak seseorang bertemu tanpa satu alasan.

"Ikut Papah ke Jerman"
Uca ayahnya.

Rama berdecih, sudah Rama duga kalau Ayahnya menginginkan sesuatu darinya. Rasanya lucu, dengan seenak hatinya Ayahnya memerintahnya untuk pergi ke Jerman. Belum puaskah selama ini Ayahnya menjadikannya robot hidup. Belum puaskah Ayahnya merenggut semuanya. Apa kepergian Ibunya tidak cukup untuk membuat Ayahnya puas.

"Tanpa perlu aku jawabpun Papah tau jawaban aku"

Ayah Rama menyeruput kopinya dengan santai, dia menatap Rama sekilas lalu kembali melihat ke layar Tv yang ada di depannya.
"Papah denger dia buta"

"Itu bukan urusan Papah"
Ucap Rama.

"Papah punya satu tawaran buat kamu"

"Aku gak..."

"Kamu pergi ke Jerman urus bisnis kita yang ada di sana dan Papah akan buat pacar homo kamu itu bisa lihat lagi"
Lanjut Ayahnya.

"Aku gak butuh omongkosong dari Papah"

"Kamu emang gak butuh, tapi dia butuh. Perlu bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan donor mata, bahkan ada yang tidak mendapatkannya sama sekali. Papah hanya sekedar menawarkannya saja pada kamu. Dengan koneksi Papah sangat mudah hanya untuk dapat donor mata. Tapi semua ada di tangan kamu. Pergi ke Jerman dan dia bisa lihat lagi. Atau tinggal di sini dengan dia yang akan terus buta."

Rama mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Ayahnya memberikan pilihan semacam itu. Sungguh miris rasanya seorang Ayah memanfaatkan situasi pada anaknya sendiri.

"Kamu boleh pergi, hubungi Papah kalau kamu berubah pikiran"
Ucap Ayahnya. Bangkit dari sofa dan pergi meninggalkan Rama.

Rama mengacak Rambutnya Frustasi. Kenapa dia selalu berada di situasi sulit seperti ini?. Kenapa dia tidak pernah merasa tenang sedikipun?. Selalu saja dia di tempatkan pada satu pilihan yang sangat sulit.

Apa yang harus dia lakukan?. Dengan koneksi Ayahnya sangatlah mudah membuat Jefri tidak akan mendapatkan donor mata. Ayahnya bisa sangat mudah memblacklist nama Jefri dari daftar tunggu untuk donor mata, dan jika itu terjadi Jefri tidak akan pernah bisa melihat untuk selamanya. Rama akan melihat orang yang dia cintai hidup dalam kegelapan.

Tapi Rama juga gak sanggup untuk meninggalkan Jefri dan pergi jauh dari lelakinya itu. Tidak adakah pilihan yang mudah untuknya?.

"Mas"
Panggil Andin.

Rama mendongak melihat pada adiknya yang berdiri di depannya.

"Duduk Din"
Andin menurut dan duduk di samping Rama.

"Maaf kali ini aku gak bisa ngebantu apapun mas"
Sesal Andin. Dia sangat ingin membantu kakaknya itu. Tapi apa daya kuasa Ayahnya sangat besar. Tidak sebanding dengannya.

Rama menghela nafasnya. Dia tidak mengharapkan bantuan apapun dari Andin, karena dia tau seberapa banyaknya selama ini Andin membantunya.

"Gak usah di pikirin, mas pulang dulu, kamu baik-baik ya!"
Pamit Rama.

"Mas yang kuat ya, apapun pilihan mas, aku yakin itu yang terbaik buat mas juga Jefri"
Andin memeluk Rama. Memberi Rama kekuatan.

"Makasih, mas pulang"
Pamit Rama, pergi meninggalkan rumahnya.
.
.
.
Di tatapnya gundukan tanah yang terlihat masih basah itu. Beberapa minggu yang lalu dia ada di tempat ini menyaksikan ibunya kembali ke pangkuan sang ilahi. Kemarin tempat ini masih ramai oleh para pelayat yang ikut mengiringi kepergian ibunya. Sekarang hanya ada dia sendiri berteman angin yang berhembus sendu di sini.

BALADA ANAK KOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang