Gue ngga tau kapan dia mau nurut dan pergi ke sana. Tapi gue akan terus ngelakuin apapun yang bikin di bisa senyum.
***
Sudah seminggu yang lalu (namakamu) keluar dari rumah sakit. Sekarang ia harus pergi ke sana lagi untuk memeriksa kondisinya yang semakin baik. Tangan kirinya yang semula patah sudah lumayan bisa untuk di gerakkan.
(namakamu) sedang membereskan buku-buku masa SMA nya. Melihat ijazahnya, year book, dan kertas hasil ulangan. Memang di semua kertas ulangan kimia (namakamu) mendapat nilai sempurna dan tidak pernah di bawah delapan puluh. Ia juga masih ingat tentang pelajaran SMA. Makanya sekarang ia duduk di bangku kuliah dengan mengambil program studi pendidikan kimia.
Yang di jelaskan oleh Salsha dan Steffi memang semuanya benar. Tidak ada yang bernama Iqbaal di hidupnya. Ponsel (namakamu) sudah ia cek semuanya. Aplikasi yang pernah dipakai untuk mengobrol dengan Iqbaal di mimpinya, ternyata salah. Tidak ada satu chat dari Iqbaal, apalagi emotikon love yang selalu digunakan. Bahkan, (namakamu) tidak mempunyai kontak whatsapp Iqbaal.
Ceklek. Pintu kamar (namakamu) terbuka. Steffi berdiri di depan dengan pakaian yang rapi. (namakamu) akan diantar oleh Thalita dan Steffi hari ini. Tapi ia belum siap sama sekali. Kenyataan yang harus dijalani terlalu pahit.
"Lo belom siap?" Steffi bertanya sambil melangkah menuju ranjang (namakamu) yang berantakan karena buku.
Steffi melihat (namakamu) sedang mengenang masa SMA. Pasti (namakamu) sedang mencari Iqbaal.
"Move on dong dari Iqbaal. Lagian dia siapa sih." gerutu Steffi.
(namakamu) hanya menghela napas. Membiarkan Steffi berpikiran negatif tentangnya. Yang jelas, (namakamu) percaya jika Iqbaal itu memang ada.
(namakamu) beranjak dari tempatnya dan pergi ke kamar mandi. Meninggalkan Steffi sendirian.
"Ish (namakamu) nyebelin." desis Steffi.
***
Sesampainya di rumah sakit, Steffi meminta Thalita dan (namakamu) masuk terlebih dulu untuk menunggu antrian. Ia izin untuk ke toilet.
Karena panas dan macet membuat Steffi ingin minum terus sehingga sampai di rumah sakit tidak tertahan lagi untuk buang air kecil.
Steffi bercermin. Membasuh mukanya dengan sedikit air. Biasanya jika sedang bersama (namakamu) dan Salsha, tidak lupa untuk mirror selfie di cermin toilet. Entah dimana pun itu.
Ada sesuatu yang janggal terdengar di telinga Steffi.
Sumber suara itu asalnya tidak jauh dari tempat Steffi berdiri.
Semakin Steffi mendengarkan, semakin suara itu kencang.
Jantung Steffi berdebar, ada rasa takut dan penasaran.
Tapi jauh lebih besar rasa penasaran Steffi yang akhirnya mendekat ke arah suara tangisan itu. Tepatnya, suara tangisan perempuan.
Pikirannya, suara tangisan itu adalah tangis hantu rumah sakit.
Langkah Steffi semakin mendekat, hingga akhirnya ia melihat sesosok perempuan berambut panjang duduk di kursi roda dengan pakaian pasien.
Perempuan itu menunduk dengan di tutupi rambutnya.
"Steffi." celetuknya.
Steffi diam. Ternyata perempuan itu melihatnya dari balik rambut dan mengenali dirinya. Steffi semakin takut dan hendak berbalik badan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Best Girlfriend
FanfictionSemua berawal dari mimpi. Terima kasih sudah membantu mewujudkannya. Dengan cinta, (namakamu) Iasa.
