Chapter 4

14.5K 942 11
                                        

Saat hendak membalikkan badannya Valery menabrak seseorang membuatnya meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ingin sekali rasanya Valery memaki menyadari tante Maura berada dibelakangnya, Valery hanya bisa memaki dalam hati. 

Disana tepat didepannya seseorang yang berbadan kekar dan tinggi berdiri dengan pandangan yang sulit diartikan. Vale menabraknya tepat di depan dada bidangnya yang membuat Vale berhasil jatuh. Terlentang dan kepalanya sukses mambentur lantai rumah. Vale meringis kesakitan dan mencoba berdiri dengan bantuan tante Maura. 

"HEH! LO KALO JALAN PAKE MATA!!! KEPALA GUE!!" 

Jari telunjuk kanan Vale dengan lentik menunjuk lurus ke arah wajah cowok itu. Sedangkan tangan yang satunya sibuk mengusap-ngusap kepala.

"Lo tuh! kalo jalan pake mata!!" Cowok itu mangibaskan tangan Vale yang berada didepan wajahnya. Menatap Vale dengan wajah datar mamun menusuk.

"Kamu ngak apa-apa?" tanya tante Maura panik. 

"Sakit tante." rengek Valery sambil kembali mengusap kepalanya.

"LO KENAPA TIBA-TIBA ADA DISANA SIH?!" tanya Valery penuh emosi. "MINGGIR GUE MAU LEWAT! LO NGADANGIN JALAN GUE. KUNYUK!!!" Valery menghentakkan kakinya dan mendorong bahu cowok itu dengan kasar.

"Kalian saling kenal?" tanya tante Maura bingung. 

"NGAK!" jawab keduanya kompak. 

Valery bergegas keluar dari sana sambil menatap tajam cowok itu seolah tidak takut apa yang terjadi pada dirinya kelak. Mungkin saja cowok itu langsung menarik Valery dan menjadikan Valery tahanannya dirumah. Dan Valery dijadikan upik abu yang disiksa. Ah! Abaikan imajinasi Valery. 

"Artha kenapa kamu ngak minta maaf?" Tanya tante Maura dan samar-samar Valery mendengar percakapan itu.

Artha yang namanya disebut tante maura tidak menggubris, beralu begitu saja tanpa marasa bersalah. 

Songong banget jadi cowok! Awas aja lo!!!  

-

Valery memasuki pekarangan rumahnya dengan bibir kecilnya yang sedari tadi tidak berhenti berkomat-kamit.

"Kenapa lo dek?" Kak Davin menghampiri Valery yang duduk dibangku panjang yang ada dihalaman rumah.

"Tuh! Anak tetangga depan songong bangettt!!" ucapnya seraya mengerucutkan bibir.

Davin hanya tersenyum sambil mengacak rambut Vale. "Ah Davin!!"

"Apa?" Kak Davin manaikan satu alisnya sambil mendribel bola basket.

"Kusut rambut gue!" Vale memutar bola mata.

"Biarin. By the way, Anak tetangga depan cewek apa cowok?"

"Cowok"

"Yahh, gue kira cewek"

"Terus kalo cewek? emangnya kenapa??" Valery menaikan satu alisnya.

"Yakali gue bisa deketin" jawab Davin cengengesan.

"You wish"  Aku memutar bola mata. "Kayaknya nih kak. Dia blasteran deh?" Kak Davin menghampiri Valery dan ikut duduk disebelahnya.

"Oh ya? Pasti ganteng tuh?" Kak Davin tersenyum Jahil ke arah Vale.

"Banget. Tapi songong" Vale memukul pelan jidat Kak Davi, dan langsung ngacir masuk ke dalam rumah.

"KEBIASAAN LO VALEEE!!"

---

Rio marebahkan tubuhnya diatas sofa. Rasa lelah sangat Rio rasakan sekarang. Setiba di Airport Rio langsung pergi menemui teman lamanya barulah ia pulan ke rumah. Belum lagi kejadian tadi yang dialaminya. Rio merasa De javu.

"Ma.. Cewek yang tadi siapa sih?!" 

Maura manghampiri  anak satu-satunya itu dengan sepiring kue ditangannya.

"Itu anak tetangga depan rumah" ucapnya sambil duduk disamping Rio.

"Siapa namanya??" tanya Rio antusian seraya mengambil sepotong kue yang ada di atas piring.

"Engg... Siapa ya? Duh kok Mama lupa Tha siapa namanya." 

Rio hanya mamutar bola mata, kambali menggigit kue yang ada ditanganya. Setelah menghabiskan beberapa potong kue, Rio beranjak dari sofa menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya diatas kasur. Rio menutup matanya sambil manarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Saat mata Rio tertutup, ia mangingat kejadian 8 tahun yang lalu.

Cewek yang selalu mangganggunya setiap hari agar Rio tidak betah sekolah disana.

Perlahan Rio membuka matanya dan berjalan menuju meja belajar yang terletak tak jauh dari kasur. Rio menarik sebuah buku gambar yang berisi gambar rumah, boneka yang tidak jelas bentuknya, dan gambar pemandangan. Seketika ujung bibir Rio tertarik keatas. Mengingat tingkah gadis itu yang sangat senang mendengar Rio pindah.

'Lo dimana?? gue udah nepatin janji gue'  Batin Rio.

------------------

A/N : Maaf typo atau Gaje. Jangan lupa Voments....

rinawidi~

ValeryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang