Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Part 5

6.1K 389 5
                                        

Zeenah berjalan pelan terseok-seok masuk ke dalam kamar mandi di kamar hotelnya.

Ia menyalakan shower dan ia terduduk diam dengan wajah putih sepucat kertas dan kantung mata merah yang menambah nilai pedih di wajahnya.

Tetes-tetesan air deras membasahi seluruh tubuh Zeenah yang masih berbalut pakaian pria kejam itu.Zeenah melihatnya dengan mata memerah dan terjangan sungai air mata mengalir lagi di pipinya.

Ruangan sunyi ini menjadi saksi keperihannya.Zeenah berteriak sekeras-kerasnya,mencoba mengeluarkan semua amarah yang ia pendam.Ia menggosok tubuhnya dengan sangat kasar sampai kuku-kukunya melukai kulitnya.Ia menangis sekencang-kencangnya berharap tuhan mendengar rintihannya dan mengatakan alasan kenapa harus dia yang menerima ketidak adilan ini.

Zeenah menarik paksa kemeja abu-abu itu sampai kancing-kancingnya terlepas dan melemparnya ke ujung kamar mandi.

Suara getaran handphone membuat Zeenah sedikit melirik untuk melihat siapa yang menelponnya.Karimah.

Zeenah menggapai handphone dan mengirimkan pesan pada temannya itu bahwa ia tidak akan ikut pagi ini,dengan alasan tidak enak badan.

Ia menyenderkan kepalanya pada dinding dingin dan memeluk lututnya yang mulai menggigil kedinginan.

Bagaimana jika teman-temannya tau tentang ini ?

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Hamdan merasa sangat lega pagi ini,dia tidak tau kenapa,tapi seperti dia sudah meluapkan sesuatu yang menyesakkannya selama ini.

Ia ikut bernyanyi sepatah-patah lirik dari lagu yang mengisi kesunyian di mobil yang di kendarainya bersama Rashid dan Hamzah yang masih diam.

Rashid memijat pelan pelipisnya 'bagaimana aku harus menjelaskannya ?' Pikir Rashid.Dia tau,Hamdan harus bertanggung jawab.Dan jika Hamdan bertanggung jawab maka ayahnya akan turun tangan juga.Hamdan benar-benar membuat penat kepala Rashid.

'Dimana gadis itu sekarang ? Pasti sekarang dia sangat terluka.Aku berharap dia baik-baik saja dan ada orang di sampingnya yang menemaninya' batin Hamzah.Ia melihat jelas bagaimana wajah gadis yang terluka itu,sangat menyedihkan.

"Sebenarnya ada apa sih kalian dari tadi hanya diam ? Tidak biasanya" Hamdan yang menyadari kebisuan 2 teman duduknya mulai tidak nyaman dengan suasana itu.Rashid dan Hamzah masih tidak beranjak dari pikiran mereka masing-masing.

"Kalian tidak..." suara deringan Handphone Hamdan mengalihkan perhatiannya.

"Wah baba...tumben nelfon pagi-pagi" ucap hamdan saat melihat layar telponnya.Kemudian dia menjawab telfonnya.

Rashid yang mendengar nama babanya disebut merasakan cenat-cenut di dadanya.Dia mengelus-ngelus pelan dadanya sambil menghembuskan nafas.Hamzah melihatnya dengan tatapan mengerti,ia ikut mengangguk prihatin.

Hamdan menutup sambungan telponnya "melelahkan,kita tidak langsung pulang ke dubai.Baba menyuruh kita pergi ke Bali dulu" Hamdan merebahkan kepalanya malas.

"Kenapa ?" Tanya Rashid singkat.

"Entah.." hamdan mengedikkan bahunya.

"Mungkin kita akan sibuk sekembalinya dari Bali".

Dan mobil itu melesat ke bandara dengan keheningan yang diwarnai musik dari Radio.

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Attention (Prince Hamdan) {End}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang