Part 17: Make me want you

7K 409 55
                                        

Hamdan mengawali paginya dengan rutinitas biasanya.Sarapan kemudian ke taman belakang untuk kebiasaannya di pagi hari,membaca koran hari ini sambil meminum kopi hangat.

Dahi Hamdan mengerenyit heran,ada yang kurang di tempat biasanya ia menghabiskan waktu membacanya. Tersadar apa itu yang kurang,tidak ada kopi hangat dan cemilan ringan diatas meja yang kosong,hanya ada koran diatasnya.

'Kemana dia ?' Hamdan mengangkat kepalanya melihat jendela kamar Zeenah yang terlihat sepi karena Zeenah bahkan tidak membuka tirainya.

"Pagi"

Hamdan menoleh ke belakangnya dan melihat Mihrima menyapanya dengan senyum cerah.

"Pagi juga" jawab Hamdan setelah duduk di kursinya.Mihrima duduk di sebelahnya.

"Bisakah kamu membuatkanku kopi ?" Hamdan bertanya pada Mihrima.

"Kopi ? Aku yang membuatkannya ? Lalu untuk apa kamu membayar pelayan sebanyak ini Hamdan ? Lagi pula aku tidak bisa membuatnya" jawab Mihrima santai dan mengeluarkan Handphonenya kemudian jari lentiknya menari-nari di layarnya.

Hamdan membuang nafas pelan,ia kembali melihat ke balkon kamar Zeenah tapi yang ia lihat masih sama seperti tadi.Sepertinya pagi ini dia tidak akan minum kopi.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Perkiraan Hamdan salah,bukan hanya hari itu saja dia tidak bisa menyesap kopi di pagi hari.Sudah lima hari ini dia kehilangan rutinitasnya itu karena selama lima hari itu juga Zeenah tidak keluar dari kamarnya.Makanannya pun diantar ke kamarnya dan kembali ke dapur dengan makanan yang hanya di makan seperempatnya atau bahkan tidak di sentuh sama sekali olehnya.

Hamdan mengetahui itu,setiap hari pelayan pribadi Zeenah memberitahunya bahkan walau dia tidak memintanya.

Pernah sekali Zeenah keluar itupun untuk menyirami taman mawarnya.Saat ia berpapasan dengan Hamdan pun,sikapnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia melihat Hamdan.

"Hamdan,dimana Zeenah ?" Tanya Rashid saat dia baru masuk ke rumah Hamdan.

"Setidaknya ucapkan salam dulu" jawab Hamdan.

"Assalamualaikum akhi tersayang, dimana Zeenah ? Aku tidak melihatnya di taman,biasanya jam segini dia ada di sana"

"Dia ada di kamarnya"

Rashid langsung menaiki tangga dan berjalan cepat ke kamar Zeenah,ia tau Zeenah tidak sekamar dengan Hamdan, tapi kamarnya di sebelah kamar Hamdan.Besok adalah hari ulang tahun anaknya -Mohammad- jadi ia ingin merencanakan kejutan untuk anaknya dengan ide Zeenah.

Rashid mengetuk-ngetuk pintu kamar Zeenah.Namun tidak ada jawaban.Dua kali,tiga kali,empat kali...tetap tidak ada jawaban.

"Maaf,Sheikh.Sheikha Zeenah memang jarang keluar akhir-akhir ini.Lebih baik anda ketuk dulu" ujar seorang wanita yang Rashid ketahui sebagai pendamping pribadi Zeenah.

"Sudah,aku sudah mengetuknya berkali-kali"

"Benarkah ? Biasanya Sheikha Zeenah akan membukanya.Apa beliau baik-baik saja ?" Saira mengigit ujung kukunya khawatir,raut wajahnya menjadi was-was dengan sikap Zeenah akhir-akhir ini.

"Sebenarnya apa yang terjadi ?" Rashid merasakan ada sesuatu yang terjadi sampai Zeenah yang biasanya tidak enak diam jadi mengurung diri di kamarnya.

Saira menatap wajah Rashid ragu.Ini adalah aib keluarga tuannya,salah kalau dia memberi tau orang luar.

"Apa karena Mihrima ?"

Attention (Prince Hamdan) {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang