"Allahu akbar...Allahu akbarr.."
Gema takbir memuji kebesaran sang Khaliq menggema di udara terbawa angin sepoi-sepoi malam Dubai. Langit biru gelap terlihat ikut memeriahkan malam gembira itu,terlihat dengan banyaknya bintang-bintang berkelip di langit sepeti permata-permata yang di taburkan di karpet.
Tawa riang anak-anak kecil yang berlarian yang biasanya membuat kesal para paman dan bibinya kini terdengar seperti suara tabuhan gendang yang merdu menemani para wanita yang asik menghias tangan-tangan mereka dengan henna,sedangkan para pria tertawa bersama dengan secangkir kopi jahe yang menemani mereka.
Zaabel Palace sangat penuh dengan tawa kegembiraan pada malam itu. Dekorasi yang dominan berwarna hijau dan emas tampak sangat mewah menghias setiap pilar dan sudut di istana dinasti Al-Falasi.
Seorang anak kecil yang sedang asyik bermain dengan sebayanya tertarik oleh sebuah tangan kokoh dan mendudukan bocah itu pangkuannya.
"Baba,aku mau main" rengek bocah empat tahun itu.
"Dimana mamamu,sayang ?" tanya pria itu berbisik.
"Mama ? mama bersama aunty Maryam dan yang lainnya di ruang tengah"
Setelah menerima jawaban itu,pria itu melepaskan anak itu untuk kembali bermain.
Ia berdiri dari bantal duduknya dan keluar dari kelompok teman-teman dan saudara-saudaranya. yang asyik membicarakan hasil sepak bola dunia.
Dia tersenyum melihat seorang wanita yang di carinya. Wanita itu sedang tertawa ringan bersama saudari-saudarinya yang juga sedang menghiasi tangan-tangan mereka dengan henna dengan bantuan dari ahlinya. Sudah seharian ini kesibukannya menjauhkannya dari istrinya itu.
Ya,hampir empat tahun mereka menikah. Namun dengan perasaan dan debaran yang berbeda setiap harinya.
"Hamdan !" pekik wanita itu saat tak sengaja tangan henna artist itu mencoret sedikit lukisannya.
Sedangkan pria yang di pelototi itu hanya membalas dengan senyum cengengesan.
Dia mengulangi lagi kejahilannya.
"Hamdan !" entah sudah berapa goresan henna di telapak tangannya yang di rusak oleh keisengan Hamdan yang dengan sengaja menyenggol lengan Zeenah.
"Kamu akan tetap cantik meskipun hennamu seperti itu,Zeenah" Hamdan membela dirinya dari pelototan mata tajam Zeenah.
"Ya tapi ini tidak terlihat rapi Hamdan" keluh Zeenah.
Walau sudah di omeli Zeenah Hamdan tetap melakukan aksinya membuat Zeenah medecak kesal.
"Ayolah,Hamdan. Nanti keburu Ibrahim bangun,aku harus menyusuinya" Zeenah menatap dengan melas suaminya yang terlihat luluh dengan alasannya kali ini. Hamdan mengangguk pelan dan duduk tenang di samping Zeenah melihat hasil lukisan cantik itu menghiasi tangan istrinya.
Ibrahim,putra kedua Hamdan yang kini masih berumur delapan belas bulan. Zeenah tidak menyangka ia akan memiliki anak keduanya secepat itu.Ketika Mohammed berumur dua tahun ia dikejutkan dengan dirinya yang hamil. Sepertinya Hamdan semangat sekali untuk mewujudkan keinginannya ingin memiliki seorang putra lagi darinya.
Melihat Shaikha sudah selesai dengan hennanya,Hamdan memanggil si henna artist yang tadi menghias kaki Shaikha dengan henna bergambar merak.
"Tolong,aku juga ingin di henna" kata Hamdan yang sukses mendapat pelotoran massal dari Zeenah,Futaim,Shamma,Latifa, dan Fatma keponakannya.
"Hamdan jangan banyak tingkah.Apa yang akan kau gambar di kakimu itu ? merak juga ?" kata Zeenah saat melihat Hamdan memberikan betisnya pada penghennna itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Attention (Prince Hamdan) {End}
RomanceSeorang gadis menghilangkan semangat hidup seorang pria,dan kemudian pria itu menghilangkan harapan hidup gadis lainnya. Ketika takdir mewarnai hidup mereka berdua dengan lebih banyak warna hanya dalam 1 malam. Akankah itu warna kesedihan atau warna...
