"Akh.." Hamdan melempar bantal yang menutupi kepalanya semalan ini.Ia membalikkan badannya menghadap langit-langit kamarnya yang selalu terasa kosong,ia menghembuskan nafas pelan.Indera penciuman Hamdan tergelitik dengan aroma kopi hitam yang ternyata ada di nakas.Hamdan menatap murung gelas putih itu.
"Saidah !" Hamdan duduk dan memijit pangkal hidung mancungnya.
"Ya,yang mulia ?" Jawab Saidah patuh setelah mendengar panggilan tuannya.
"Bawa pergi kopi ini dan bilang pada Zeenah tidak usah membuatnya lagi"
"Maaf,Yang Mulia.Ini bukan buatan Sheikha Zeenah,tapi ahli racik kopi kerajaan"
Hamdan mengerenyitkan dahinya antara bingung dan terkejut.
"Sheikha Zeenah belum pulang sejak semalam" ujar Saidah ragu-ragu.
"Belum pulang ? Kemana dia ?"
"Saya juga tidak tau,Sheikh."
"Panggil Qira dan Saira suruh mereka kesini" Hamdan menyingkap selimutnya kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke jendela besarnya yang menampakkan langsung taman sampingnya yang di dominasi aneka macam bunga,termasuk taman mawar putih kecil milik Zeenah yang terlihat segar karena sepertinya habis terguyur hujan deras semalam.
"Yang Mulia" Qira dan Saira menunduk memenuhi panggilan Hamdan.
"Kemana Zeenah ?" Tanya Hamdan singkat dan dingin.
"Kami...tidak tau,Sheikh" jawab Saira takut-takut.
"Kalian itu pelayannya tapi tidak tau keberadaannya.Kalian mengentengkan tugas ?"
"Maafkan kami Sheikh,Sheikha Zeenah melarang kami ikut bersamanya.Dia pergi dari istana tanpa mengendarai kendaraan istana " jawab Qira menjelaskan.
Hamdan langsung menoleh pada dua pelayan itu yang mengatakan Zeenah keluar rumah tanpa penjagaan.Ia mengambil Handphone nya dan menyuruh beberapa pegawainya untuk mencari Zeenah di seluruh tempat yang biasa ia kunjungi,kalau perlu seluruh Dubai.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
"Uncle,mana Umma ?" Mohammed menyentuh pundak Hamdan dan membuat berjengit kaget.
"Kau ! Pakai salam dulu masuk ke rumah orang" Hamdan menatap kesal keponakan bengalnya.
"Ish,aku sudah salam berkali-kali bahkan di dekat telinga mu,uncle" Mohammed memutar matanya malas.
"Kau kesini bersama Rashid ?"
"Tidak,aku bersama Aunt Maitha"
Hamdan mengangguk-nganggukkan kepalanya dan kembali hanyut dengan pikirannya.
"Uncle ! Di mana Umma ?!" Mohammed sedikit berteriak di telinga Hamdan karena dia merasa terabaikan.
"Umma siapa ?" Tanya Hamdan tidak paham yang dipanggil Umma oleh Mohammed.
"Umma Zeenah"
"Hey jangan sembarangan memanggilnya umma.Babamu Rashid dan ummamu Zeenah gitu ?" Hamdan menaikkan sebelah alisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Attention (Prince Hamdan) {End}
RomansSeorang gadis menghilangkan semangat hidup seorang pria,dan kemudian pria itu menghilangkan harapan hidup gadis lainnya. Ketika takdir mewarnai hidup mereka berdua dengan lebih banyak warna hanya dalam 1 malam. Akankah itu warna kesedihan atau warna...
