Part 2

2.2K 111 30
                                        

“Kenapa kalian bertanya kalau kalian sendiri sudah tahu jawabannya?” bukannya menjawab, Pelatih justru membuat anak didiknya makin keheranan.

“Maksud Pelatih?” tanya Gagas.

“Gak usah disebutkan pun kalian sudah tahu Riyan pasti masuk. Bahkan dia adalah pemain yang WAJIB masuk ke dalam squad Timnas Indonesia.”

Riyan yang tadinya tertunduk lesu langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Pelatih, jadi sebenarnya dia juga masuk ke dalam squad Timnas Indonesia?

Oh tidak mungkin!

“Jadi... s-saya juga...” ucap Riyan terputus sembari menatap Pelatih.

“Ya, kamulah pemain pertama yang saya pilih untuk mengisi squad Timnas, karena kehebatanmu sudah tidak diragukan lagi” jelas Pelatih.

“Yeay!!” bukan, itu bukan Riyan yang bersorak, melainkan Andri, dia senang, dengan adanya Riyan, mereka akan menjadi duet mau yang mematikan.

“Yang belum terpilih, kalian jangan berkecil hati. Kesempatan kalian pasti akan datang, kalian harus lebih keras berlatih lagi” ucap Pelatih.

Beberapa pemain yang tidak terpanggil namanya hanya bisa mengangguk pasrah, mungkin kesempatan mereka bukan sekarang, mereka harus lebih giat berlatih lagi.

“Ya sudah, hanya itu informasi yang mau saya sampaikan. Ada yang mau ditanyakan?” ucap Pelatih

Andri mengangkat tangannya membuat Pelatih menoleh kearahnya.

“Yah, Andri, apa yang mau kau tanyakan?” tanya Pelatih.

“Pertanyaan saya lempar ke sodara Aang. Silahkan Ang” jawab Andri seenak jidatnya sambil menunjuk Aang yang duduk di sebelahnya.

“Kampret!! Lu yang mau nanya, kenapa gue yang disuruh!” kesal Aang.

Andri hanya mengacungkan dua jarinya membentuk huruf  V sambil tersenyum tanpa dosa.

“Yah, Aang, ada yang mau ditanyakan?” tanya Pelatih pada Aang.

“Hmm... kira-kira, kita kapan kembali ke Indonesianya, Pelatih?” balas Aang balik tanya.

“Kalau itu saya sudah tentukan, kita akan kembali ke Indonesia pada hari Sabtu, itu berarti dua hari dari sekarang,” jawab Pelatih membuat Aang mengangguk paham.

“Apa ada yang mau ditanakan lagi?" tanya pelatih lagi.

Semuanya terdiam.

"Yaudah kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, kalian boleh bubar. Selamat pagi,” ucap Pelatih mengakhiri pertemuan pagi itu.

Semuanya pun segera membubarkan diri setelah mendengar pemberitahuan dari Pelatih.

“Ini serius kan kalau sekarang kita udah jadi pemain Timnas.” Andri masih tak percaya kalau dirinya sudah menjadi pemain Timnas Indonesia.

“Iya, gue juga gak nyangka kalau kita udah jadi pemain timnas, Wow banget kan!” saut Yusuf.

“Lu sendiri gimana, Yan? Gak nyangka kan lu jadi pemain yang wajib masuk Timnas Indonesia?” tanya Aang pada Riyan.

“Itu gak penting, yang terpengting sekarang adalah kita gak boleh mengecewakan pelatih dan Indonesia,” jawab Riyan bijak, entah kenapa dia jadi bijak seperti itu, salam makan kali.

“Gilaaa... jawaban lu keren banget. Kalau gue jadi cewek nih, gue pasti udah klepek-klepek sambil mimisan karena lu,” ucap Aang dengan nada genitnya.

Riyan bergidik ngeri dan menjauh selangkah dari Aang, “Apaan sih lu!” ketus Riyan saat Aang mencolek bahunya.

“Aaahh... biasanya juga kamu suka aku colek-colek, sini aku colek!” manja Aang, orang yang terkanal bijak seperti dia mendadak ngondek.

Cinta dan Sepak bola (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang