“Kalian,”
Yusuf tercengan saat melihat Aang, Andri dan juga Riyan berada di rumahnya.
Ketiganya pun menoleh saat mendengar suara Yusuf.
“Kenapa, Suf. Kenapa lu memilih keluar dari timnas?” tanya Aang langsung to the poin atas tujuannya menemui Yusuf.
Yusuf diam tak menjawab, lidahnya membisu dan mulutnya terasa terkunci, dia merasa malu untuk bertatap muka dengan ketiga sahabatnya karena sudah membuat mereka kecewa.
“Ini pasti gara-gara kepergian Farah, kan?” tebak Aang
Yusuf masih diam tak menjawab.
“Kita tau lu pasti terpukul karena hal itu, tapi asal lu tau, bukan cuma lu doang yang merasa terpukul atas kepergian Farah, tapi kita bertiga juga merasa terpukul” ucap Andri ikut bicara.
Yusuf memberanikan diri mengangkat wajahnya dan langsung menatap ketiga sahabatnya itu.
“Mungkin kalian juga merasa sedih, tapi kesedihan gue lebih dari apa yang kalian rasakan” ucap Yusuf akhirnya bicara.
“Gue merasa, semangat gue hilang, gue semangat karena ada Farah, tapi sekarang dia udah nggak ada, begitu juga semangat gue” lanjut Yusuf terdengar getir.
“Cih! Dasar payah!” Riyan yang sedari tadi terdiam pun akhirnya buka suara.
“Terserah lu mau ngomong apa, lu gak tau rasanya di tinggal sama orang lu cintai, yang ada di pikiran lu cuma sepak bola, sepak bola dan sepak bola!!” ketus Yusuf.
BUAKK!!
Tiba-tiba Riyan melanyangkan tinjunya ke wajah Yusuf dan membuat sahabatnya itu tersungkur jatuh.
“Oke! Gue emang gak ngerti apa-apa tentang cinta, tapi gue pernah merasakan rasanya di tinggal sama orang yang gue sayangi!!” ketus Riyan, mendadak dia teringat dengan mendiang Mamahnya.
“Meskipun begitu, gue nggak payah kayak lu, cuma gara-gara Farah meninggal, terus lu nyerah atas semuanya, gitu? Yang punya masalah di sini bukan cuma lu doang, gue Aang, sama Andri juga punya masalah sendiri-sendiri” lanjut Riyan dengan emosi yang menggebu-gebu.
Aang yang melihat sahabatnya sangat emosi itu tidak tinggal diam.
“Yan, tenang Yan” ucap Aang mencoba menenangkan dia.
“Udahlah, kita tinggalin aja si payah itu, lagian ada atau nggak dia, gak bakal ngaruh buat tim” ucap Riyan ketus kemudian berjalan pergi meinggalkan ruangan itu.
-oOo-
Bella mengkerikan dahinya saat melihat Riyan asyik melamun di depan teras rumah, Bella heran, kenapa lelaki itu suka sekali melamun.
“Ngelamunin apa sih kak, serius banget mukanya?” tanya Bella membuat Riyan terlonjak kaget.
Riyan tidak menjawab, hanya saja dia melirik Bella sejenak dengan tatapan dinginnya lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
Bella mendengus pelan, selalu saja cuek, itulah yang Bella rasakan ketika mencoba mengajak Riyan mengobrol.
“Hmm... ikut aku aja yuk, Kak!” ajak Bella langsung menarik tangan Riyan.
“Apaan sih lu! Lepas gak!” ketus Bella.
“Udah, ikut aja!” paksa Bella.
Akhirnya Riyan pun pasrah, entah kenapa saat ini dia tidak bisa menolak ajakan gadis itu.
Bella mengajak Riyan pergi ke sebuah danau. Disuasana seperti ini, tempat menenangkan seperti danau adalah pilihan terbaik untuk menengkan pikiran.
Bella sadar kalau ada sesuatu yang menganggu pikiran Riyan.
“Ngapain sih lu ngajak gue ke sini?” heran Riyan agak kesal.
“Kalau aku lagi ada masalah atau lagi pengen sendiri, aku pasti dateng ke tempat ini, karena tempat ini tuh nenangin banget” jawab Bella.
Bella sangat sering datang ke tempat itu. Karena dia sangat nyaman dengan suasananya, pepohonan besar dengan pondok-pondok di bawahnya, air danau yang bersih, dan hamparan bunga dengan berbagai warna.
Dan juga terdapat berbagai wisata out door, dan masih banyak lainnya yang identik dengan alam di tempat itu.
“Kita naik itu yuk” ajak Bella menunjuk sampan berbentuk angsa di pinggir danau.
“Nggak” jawab Riyan malas
“Udah ayok.”
Akhirnya dengan sedikit paksaan, mau tak mau Riyan harus menuruti kemauan Bella untuk menaiki sampan itu.
Mereka menaiki sampan itu mengitari danau, suasana di sana sangat asri dan sejuk, beda sekali dengan suasana yang selalu mereka rasakan dengan kepadatan ibu kota.
Kesal melihat Riyan diam saja, Bella pun mengoyang-goyankan badannya membuat sampan yang mereka naiki terguncang. Riyan panik saat sampan itu terguncang.
“Lu... lu die..diem nggak! Kalau sampe jatoh gimana!!” pekik Riyan, sepertinya dia cukup ketakutan.
Bella terkikik melihat ekspresi wajah Riyan, untuk pertama kalinya dia melihat wajah Riyan ketakutan seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dan Sepak bola (COMPLETED)
Teen FictionKisah tentang 4 orang sahabat yang berusaha membawa indonesia juara dalam ajang bergengsi Asia. Mereka juga berusaha memenangkan cinta mereka masing-masing. Bagaimana perjuangan mereka dalam melakukan semua itu, semuanya teringkas dalam kisah ini.
