Part 14

795 56 1
                                        

"Saya..." Yusuf terdiam sejenak, dia minghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, "saya... mau mengundurkan diri dari timnas Indonesia."

Pelatih hanya terdiam mendengar ucapan Yusuf, sedetik kemudian dia terkekeh, "Ah, gurauanmu buruk sekali" kekehnya.

"Saya tidak bergurau pelatih, saya benar-benar mau mengundurkan diri dari timnas" ucap Yusuf dengan wajah seriusnya.

Mendadak ekspresi wajah pelatih berubah saat melihat keseriusa dari mata Yusuf.

"Apa kamu serius?" tanya Pelatih..

Yusuf membalas dengan anggukkan kepalanya

"Tapi kenapa?" tanya pelatih lagi.

"Saya... tidak bisa memberitahukannya" jawab Yusuf pelan sambil menundukkan kepalanya.

Pelatih menghembuskan napasnya kasar. Dia sadar, keputusan Yusuf ini mungkin ada hubungannya dengan perubahan sikap anak didiknya itu. Tapi, mau bagaimana lagi, Pelatih tidak bisa menecegahnya karena itu sudah menjadi keputusan Yusuf.

"Baiklah, saya mengerti" ucap Pelatih.

"Terima kasih, Pelatih" balas Yusuf beranjak pergi, "kalau begitu saya permisi" lanjutnya sambil melangkah pergi.

"Yusuf.." panggil Pelatih membuat Yusuf menghentikan langkahnya, dia membalikkan badannya menghadap pelatih.

"Kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali, timnas Indonesia dengan hati akan menerimamu lagi, karena kita sangat membutuhkan pemain seperti kamu" ucap Pelatih.

"Ya, terima kasih pelatih. Maaf, saya tidak bisa ikut sampai akhir" balas Yusuf.

Pelatih mengangguk sebagai jawabannya, kemudian Yusuf pun kembali melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

****

Pagi harinya.

Aang dan lainnya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing.

"Yusuf belum bangun, Ang?" tanya Naomi.

"Gak tau, bentar deh gue cek dulu" jawab Aang beranjak pergi minggalkan ruang makan menuju kamar Yusuf.

Setibanya di depan kamar itu, Aang langsung mengetuk pintu kamar tersebut.

"Suf, lu belum bangun?"

Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

"Suf, buruan bangun! Ayok sarapan terus berangkat latihan, lu gak latihan gitu?" ucap Aang lagi.

Tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam kamar, hal itu membuat Aang penasaran. Tidak mungkin jam segini Yusuf masih tidur, Aang tahu kalau sahabatnya itu paling awal bangun pagi.

Akhirnya Aang pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu, "Lah, pintunya gak dikunci?" gumam Aang saat menarik knop pintu kamar Yusuf yang tidak terkunci.

Dia pun masuk ke dalamnya. Tapi, Aang tidak melihat Yusuf di dalamnya.

"Suf.." panggil Aang melihat sekeliling kamar, tapi tidak ada tanda-tanda kalau Yusuf ada di dalam kamar itu.

"Ke mana itu bocah?" heran Aang.

Aang mencoba mencari Yusuf ke setiap ruangan di dalam kamar itu. Tapi, dia tidak menemukannya, sebenarnya ke mana perginya Yusuf.

"Dia kemana yah, kok pergi gak bilang-bilang" heran Aang.

Karena tidak menemukan Yusuf, Aang pun kembali ke ruang makan.

"Loh, Yusufnya mana?" tanya Naomi melihat Aang datang seorang diri.

"Dia gak ada di kamarnya, mungkin udah berangkat latihan kali" jawab Aang menebak.

Cinta dan Sepak bola (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang