Part 7

1K 87 4
                                        

"Ke mana sih kamu, Bell" ucap Naomi terus mencoba menghubungi Bella.

"Gimana?" tanya Aang.

Naomi menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak diangkat-angkat" jawabnya lesu.

Terlihat jelas kekhawatiran diwajah Naomi, bagaimana tidak? Sudah jam sepuluh malam adiknya belum pulang juga, apalagi dia seorang yang penakut, Naomi benar-benar khawatir dengannya

"Oke, kalau setengah jam lagi Bella belum pulang, kita cari dia" ucap Aang.

"Kenapa gak sekarang aja sih Ang" ucap Naomi

"Takutnya dia lagi diperjalanan pulang," jawab Aang.

"Ya..ya..yaudah deh" ucap Naomi pasrah, tidak ada pilihan lain sekarang selain menunggu.

****

Perlahan Riyan membuka matanya, ternyata dia ketiduran di lapangan ini.

"Gue ketiduran yah?" gumamnya sambil memijat lehernya yang terasa pegal.

Riyan pun bangun dari tidurnya lalu beranjak pergi meninggalkan lapangan itu, sebaiknya dia pulang sebelum hari semakin malam.

Awalnya perjalanan Riyan baik-baik saja, sampai tak sengaja dia melihat sekumpulan lelaki yang terlihat sedang mengodai seorang gadis.

"Dasar, sekumpulan banci" gumamnya.

Tanpa pikir panjang, Riyan langsung berjalan menghampiri mereka, bukan karena dia ingin menolong gadis itu, tapi karena dia tidak suka melihat ada orang yang menyakiti wanita. Karena ibunya juga seorang wanita. Itu yang membuatnya tidak terima.

"Lepasin dia!" ucap Riyan dingin.

Keempat lelaki yang menganggu gadis itu pun menoleh kearah Riyan, "Siapa lu? Jangan sok jadi pahlawan!" ucap salah satu dari mereka.

Riyan tersenyum kecut, "Mana ada sih pahlawan yang mau ngelawan sekumpulan banci kayak kalian"

"Apa lu bilang!! Berani bener lu bilang kalau kita ini sekumpulan banci."

"Hajar!!"

Keempat lelaki itu langsung menghajar Riyan secara bersamaan, untung saja sewaktu kecil Riyan pernah belajar bela diri, jadi melawan keempat lelaki itu bagaikan berhadapan dengan semut.

Dengan mudah Riyan menangkis dan menghindari pukulan dari mereka, bahkan membuat mereka kewalahan sendiri melawan Riyan.

"Kenapa? Cuma segitu doang kemampuan kalian?" tanya Riyan dengan nada menghina.

Mendengar ucapan Riyan itu membuat keempat lelaki tersebut makin murka, sampai salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya.

"Cuma pengecut yang berantem pake senjata!" sinis Riyan.

Tanpa memperdulikan ucapan Riyan, lelaki itu langsung mengayunkan pisaunya kearahnya, lagi, lagi dan lagi.

Tapi, Riyan masih bisa menghidari setiap sabetannya. sampai akhirnya Riyan melancarkan pukulannya dan membuat lelaki itu langsung tersungkur jatuh.

"Bangs*t!!" kesalnya, dia langsung bangkit dan menyerang Riyan lagi sampai dia berhasil menyayat pinggang Riyan.

"Argh!!" Geram Riyan menahan rasa sakitnya, dia melihat pinggangnya mengelurkan darah.

Riyan pun lengah dan membuat lelaki tersebut melancarkan pukulannya tepat mengenai wajah Riyan, darah segar pun mengalih dari sudut bibir Riyan.

Tidak terima dengan pukulan itu, Riyan pun membalasnya, hanya dengan satu pukulan, lelaki itu langsung tumbang tak sadarkan diri.

Melihat temannya tumbang, ketiga lelaki lainnya pun menjadi ketakutan.

Cinta dan Sepak bola (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang