Sejuknya udara sore membuat Bella enggan beranjak dari duduknya, ditambah lagi sausana damai di danau dengan airnya yang jernih dan menenangkan. Entah sudah berapa jam Bella menghabisakan waktunya di sana hanya duduk melamun di sana.
“Di sini lu rupanya,” suara itu mengalihkan perhatian Bella, dia cukup terkejut melihat orang itu tiba-tiba muncul di sana.
“Kak... Riyan, kok bisa ada di sini?” kaget Bella saat melihat Riyan lah yang datang.
“Emang gak boleh kalau gue ada di sini?” tanya Riyan yang kini sudah ada di sebelah Bella.
“Ya, bukan gitu..” jawab Bella.
Riyan pun mengambil posisi duduk di sebelah Bella, pandangannya langsung menatap air danau yang jernih yang sangat damai itu. Udara sore menerpa wajah Riyan membuat lelaki itu menutup matanya.
“Gue gak nyangka, ternyata udara di sini sejuk juga” ucap Riyan.
Bella mengangguk mengiyakan ucapan Riyan, itulah alasan kenapa Bella sangat betah berada di tempat itu.
“Hmm kak, aku minta maaf yah atas ucapan aku waktu itu, Seharusnya aku gak boleh bicara kayak gitu sama kakak” ucap Bella.
Riyan menoleh dan menatap wajah Bella.
“Nggak, ucapan lu itu bener kok. Jadi lu gak usah minta maaf” entah kenapa nada bicara Riyan terdengar lembut, tidak seperti biasanya yang selalu dinging dan jutek.
Tiba-tiba Riyan mengeluarkan botol kecil dari dalam saku jaketnya, “Lu bener, obat ini cuma bikin gue lemah, jadi” tiba-tiba Riyan melempar obat itu jauh-jauh,”gue gak butuh obat ini lagi” lanjutnya.
Bella terbelalak melihat Riyan membuang obat penghilang rasa sakit-nya itu, “Loh! Kok di buang si kak obatnya, nanti kalau sakit dibahu kakak kambuh lagi gimana?”
“Emangnya siapa yang ngingetin gue biar gak pake obat begituan, sekarang lu malah nanya kenapa gue buang obatnya” jawab Riyan.
“Iya tapi...”
“Udah, lu gak usah khawatir, gue ini lebih kuat dari apa yang lu bayangin” potong Riyan membuat gadis itu terdiam
Sedetik kemudian senyuman manis terukir dibibir Bella, entah kenapa dadanya terasa seperti ada kembang api yang meledak di dalamnya, tapi perasaan itu membuatnya bahagia.
“Makasih ya kak, udah mau dengerin omongan aku” ucap Bella.
“Gak, gue yang harusnya berterima kasih karena lu udah bikin gue sadar. Makasih yah” balas Riyan lembut sambil mengusap pucuk kepala gadis itu.
Tiba-tiba jantung Bella berdetak lebih cepat dari biasanya, hatinya terasa berbunga-bunga saat Riyan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut, apalagi Riyan melakukannya sambil tersenyum.
“Gue beruntung bisa ketemu sama cewek kayak lu” lanjut Riyan.
Bella tersenyum bahagia, dia tidak pernah merasa sehabagia ini dalam hidupnya. Ternyata kebahagiaan bisa datang dari hal kecil seperti ini, terkadang hal yang sederhana mampu membuat kita bahagia.
“Hmm... kak, aku boleh tanya gak?” tanya Bella.
“Apa?”
“Tapi jangan marah yah,”
“Iya, apaan!”
“Hmm... kak Riyan pernah ngalamin yang namanya jatuh cinta gak?” tanya Bella.
Sejenak Riyan tekekeh kecil mendengar pertanyaan Bella, “Emangnya lu tau apa artinya Cinta itu?” jawab Riyan balik tanya.
Bella terdiam berpikir sejenak, “Cinta itu perasaan yang timbul karena ketertarikan akan lawan jenis” jawab Bella.
“Suka atau ketertarikkan itu gak mendasari timbulnya cinta, asal lu tau itu” tegas Riyan.
“Jadi, kak Riyan pernah gak yang namanya jatuh cinta?” tanya Bella kembali.
“Pernah” jawab Riyan, “bahkan saking cintanya sampai saat ini gue masih mengejar dia” lanjut Riyan.
Bella pun tersenyum gentir mendengar penjelasan Riyan, sepertinya hati lelaki itu sudah ada yang mengisi, dan mungkin sudah tidak ada ruang untuk Bella mencoba masuk.
“Beruntung banget yah cewek itu, bisa membuat seorang Riyan Putra Gunawan jatuh cinta setengah mati” ucap Bella tersenyum getir.
“Cewek? Siapa yang bilang kalau gue jatuh cinta sama cewek” ucap Riyan.
Bella mengkeritkan dahinya heran, kalau bukan jatuh cinta pada lawan jenis, jadi Riyan jatuh cinta pada siapa? Pikiran Bella mulai kacau.
“Kak Riyan gak suka sesama jenis, kan?”
Satu jitakan mendarat sempuran dipucuk kepala Bella, “Sembarangan lu, gini-gini gue masih suka yang berlobang”
“Terus kakak jatuh cinta sama siapa?” tanya Bella lagi.
“Gue jatuh cinta sama Sepak Bola” jawab Riyan, singkat, padat dan sangat jelas. Cintanya terhadap sepak bola belum tergoyankan sama sekali.
“Ish, aku kira jatuh cinta sama cewek” ucap Bella.
“Emangnya beda jatuh cinta sama sepak bola dan cewek itu?” tanya Riyan.
“Ya bedalah. Kalau kita jatuh cinta sama lawan jenis itu ada rasa yang berlebihan. Kayak deg-degan kalau berdekatan sama dia, terus bawaannya itu seneng terus kalau ketemu sama dia. Terus... cinta itu selalu bikin kangen. Pokoknya masih banyak lagi deh tentang cinta” jelas Bella panjang kali lebar.
“Apa cinta itu selalu takut kehilangan orang yang kita sayangi?” tanya Riyan.
“Nah, itu kakak tau” jawab Bella.
“Ya.. itu perasaan gue sama...” ucap Riyan terheti.
“Sama siapa, kak?” tanya Bella penasaran.
“Kamu!” jawab Riyan, singkat, padat dan jelas.
Bella terdiam seribu bahasa, pandangan matanya masih menatap mata Riyan, dia melihat tatapan mata lelaki itu tidak menunjukkan kalau ucapan yang dia ucapkannya itu bukan sebuah lelucon.
Sedetik kemudian senyuman manis terukir dibibir Bella, “Jadi, ceritanya kak Riyan nembak aku, nih?” tanya Bella malu.
“Nembak? Perasaan gue gak bawa pistol” balas Riyan polos.
“Bukan nembak itu maksud aku,” ucap Bella.
“Terus?”
“Maksud aku, tadi kamu ngunggapin perasaan suka ke aku” jelas Bella malu-malu dengan wajah yang merah merona.
Riyan langsung salting menyadarinya, apa yang sudah dia lakukan? Apa baru saja dia mengatakan kalau dia menyukai Bella? Oh tidak mungkin!
“Eng...nggak, si..siiapa yang bilang begitu” balas Riyan gelagapan, “eh kita pulang aja yuk, bentar lagi kayaknya bakal hujan” lanjut Riyan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Karena sudah terlanjur malu, Riyan langsung bangun dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Bella.
“Ihs, dasar! Malah ngalihin pembicaraan” dengus Bella melihat lelaki itu sudah berjalan menjauh. Dia pun langsung bangun dan menyusul Riyan yang sudah berjalan jauh di depan.
Dan, tepat sekali dugaan Riyan, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Terpaksa dia dan Bella harus berteduh sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
“Dingin” keluh Bella mengigil kedinginan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Udara saat itu terasa cukup dingin dikulit Bella, ditambah lagi dia hanya memakai baju lengan pendek.
Riyan yang melihatnya pun merasa simpati. Dia melepas jaketnya dan langsung memakaikannya pada Bella, gadis itu tersentak atas perlakuan Riyan.
“Lu pake aja” ucap Riyan.
“Tapi, nanti kakak...”
“Gue gak apa-apa,” potong Riyan sebelum Bella menyelesaikan ucapannya.
Bella tersenyum sembari menggenggam erat jaket yang dia kenakan, entah kenapa hari ini Riyan bersikap manis padanya.
“Lu tunggu di sini, gue mau beli minuman anget dulu” ucap Riyan, dia langsung berjalan pergi.
“Ternyata kak Riyan perhatian banget orangnya” ucap Bella tersenyum-senyum sendiri, “dan ini, ini jaket dia” lanjutnya sambil mencium jaket Riyan.
“Waaah.. bau kak Riyan!” pekiknya dalam hati.
****
“Kalian dari mana aja sih, jam segini kok baru pulang!” pekik Naomi saat melihat Riyan dan Bella memasuki rumah.
“Maaf kak, tadi kita neduh dulu. Kan kakak tau tadi hujannya gede banget” balas Bella mencoba menjelaskan.
Sedangkan Riyan langsung berjalan menuju kamarnya tanpa berkata apa-apa pada mereka.
“Eh kak, kakak pake jaketnya siapa tuh, perasaan kak Bella gak punya jaket kayak gitu deh?” tanya Yupi penasaran jaket siapa yang dipake Bella.
“Oh ini, ini jaketnya Kak Riyan” jawab Bella tersenyum malu mengingat bagaimana perlakuan Riyan hari ini padanya.
“Hah! Riyan minjemin jaketnya ke lu?” pekik Andri tidak percaya. Bella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Wah, ini moment yang langkah nih, kalian bayangin, Riyan yang sikapnya dingin, rela minjemin jaketnya ke Bella. Ada kodok dibalik batu ini mah” celetuk Aang
“Udang kali, bukan kodok” saut Rona.
Semuanya terkekeh mendengar itu.
“Boleh dong kak minjem jaketnya?” ucap Yupi
“Enak aja! Gak boleh” balas Bella, dia langsung berjalan pergi meninggalkan mereka semua.
Aang dan yang lain pun tertawa melihat tingkah Bella, sebegitu sukanya kah dia memakai jaket Riyan sampai Bella bertingkah seperti itu. Dasar!
****
Yusuf termenung dibalkon kamarnya sambil memegang sebuah buku diary. Yah, buku itu milik Farah.
Meskipun sudah satu minggu sejak kematian Farah, tapi Yusuf merasa kalau kejadian itu baru saja terjadi kemarin, rasa sakit atas kehilangan gadisnya itu masih terasa sesak didadanya.
“Nak...” tiba-tiba mamahnya muncul, Yusuf pun menoleh kearahnya.
“Kamu mau sampai kapan begini terus? Apa kamu gak cape galau terus tiap hari?” tanya sang mamah.
Yusuf diam tak menjawab. Mamahnya menghela napas kasar melihat respont anaknya tersebut.
“Masa kamu kalah sama mamah sih? Dulu pas mamah muda, mamah itu cuma butuh waktu satu hari buat move on, tapi kamu, ini udah satu minggu loh, dan kamu masih gak bisa move on?” ucap mamahnya.
“Susah mah move on setelah ditinggal pergi orang yang sangat kita cintai itu, apalagi dia pergi jauh dan gak bakal bisa ketemu kita lagi (meninggal)” ucap Yusuf.
“Cinta? Yang mamah tau cinta itu gak akan membuat kita seperti itu, kalau kamu cinta sama Farah, seharusnya kamu ikhlas atas kepergiaannya. Karena cinta itu ikhlas, bukan seperti apa yang kamu rasakan saat ini.” Jelas mamahnya
Yusuf terdiam mendengar ucapan mamahnya itu.
“Kamu itu udah dewasa, nak. Seharusnya kamu mengerti tentang permasalahan seperti ini” ucap mamahnya lagi.
“Yaudah kalau begitu, mamah tinggal dulu yah, sebentar lagi kan papah kamu pulang, mamah harus masak buat makan malam nanti” lanjut mamahnya kemudian beranjak pergi dari kamar Yusuf.
Yusuf terdiam termenung setelah mendengar nasihat dari mamahnya itu, sepertinya yang di ucapkan mamahnya itu benar.
Tiba-tiba saja buku diary yang dia pegang terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai, buku itu pun terbuka dan memerlihatkan tulisan-tulisan tangan Farah.
Yusuf mengambilnya lalu membaca satu persatu dari setiap kalimat di buku itu. Perlahan lahan air matanya kembali keluar tanpa Yusuf sadari, ternyata semua catatan di diary ini menceritakan semuanya tentang yusuf.
Mulai dari pertama Farah bertemu dengan Yusuf sampai catatan terakhir sebelum Farah meninggal dunia.
“Farah...”
-Bersambung-
Buah mangga buah pepaya
Buah belimbing dipake rujak.
Enak tuh kalau dimakan siang-siang.
Hahah.... Maafkanlah aku yang masih jomblo ini.
Kalau masih banyak typo, abaikanlah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dan Sepak bola (COMPLETED)
Novela JuvenilKisah tentang 4 orang sahabat yang berusaha membawa indonesia juara dalam ajang bergengsi Asia. Mereka juga berusaha memenangkan cinta mereka masing-masing. Bagaimana perjuangan mereka dalam melakukan semua itu, semuanya teringkas dalam kisah ini.
