Part 22

767 56 6
                                        

“A... ayah”

Riyan tidak menyangka akan bertemu dengan ayahnya, sosok lelaki yang selama ini dia benci dan juga menjadi motivasi baginya untuk menjadi lebih hebat dari sebelum-sebelumnya, Riyan ingin sekali melebihi Ayahnya dalam hal sepak bola.

Itu sebabnya Riyan sangat membenci lelaki paruh baya itu karena Riyan belum bisa melebihi kehebatannya dalam mengolah si kulit bundar.

Indra pun berjalan menghampiri ranjang Riyan dan berdiri di sebelahnya, “Gimana kondisi kamu?” tanya Indra.

“Seperti yang ayah lihat, Riyan baik-baik aja” jawab Riyan.

Indra tersenyum tipis mendengarnya, “Syukurlah, ayah tau kamu anak yang kuat” ucap Indra.

Sejenak keheningan mendominasi keadaan, Riyan merasa canggung bertemu dengan ayahnya yang selama ini dia benci, tapi bagaimana pun juga lelaki itu adalah orang yang sayang padanya.

Bella yang mengerti keadaan saat ini pun memutuskan untuk keluar dan membiarkan anak dan ayah ini berbicara.

“Kalau begitu aku keluar dulu yah, mau cari sarapan” ucap Bella langsung berjalan keluar.

Setelah gadis itu keluar, sekarang hanya ada Riyan dan ayahnya. Keduanya terdiam seribu bahaya selama beberapa menit, sampai akhirnya Riyan buka suara, “Ayah,” panggil Riyan tiba-tiba

Indra menoleh kearahnya, “Iya”

“Riyan mau minta maaf, karena selama ini Riyan membenci ayah tanpa alasan yang jelas” balas Riyan.

“Tidak apa-apa, Ayah sudah tau kenapa kamu membenci ayah secara tiba-tiba” ucap Indra, dia sudah tau semuanya setelah mencari tau kenapa putranya secara tiba-tiba membenci dirinya.

“Ayah mengerti perasaan kamu, mungkin kalau ayah ada di posisi kamu, ayah juga akan membenci kakek, sama seperti kamu membenci ayah,” ucap Indra lagi

Riyan terdiam, dia tidak tau harus menanggapinya sepertinya, dia sangat beruntung memiliki ayah yang sangat menyayanginya selama ini, dan dia baru sadar akan hal itu.

“Yang jelas ayah bangga sama kamu, kamu sudah menyelesaikan impian yang tidak bisa ayah capai selama ini” ucap Indra bangga.

Ingin sekali rasanya Riyan menangis saat itu, alangkah bahagianya dia ketika mendengar kalau Indra sangat bangga padanya.

“Terima kasih, ayah” ucap Riyan.

Indra tersenyum sambil mengangguk pelan.

Tak lama kemudian Bella kembali dengan membawa sarapan buat dirinya, Riyan dan juga Indra.

“Ini om, sarapannya, maaf cuma ada yang beginian aja” ucap Bella memberikan sebungkus nasi uduk pada Indra.

“Iya, terima kasih” balas Indra.

“Nah, kalau kamu kan lagi sakit, jadi kata dokter kamu cuma boleh makan bubur” ucap Bella pada Riyan menyerahkan mangkuk berisi bubur yang dia beli di kantin rumah sakit.

“Yaudah, gak apa-apa, makasih yah” ucap Riyan.

Ketiganya pun menyantap sarapannya masing-masing dengan hening. Semuanya fokus dengan makanannya sendiri-sendiri.

Sampai akhirnya Indra pun lebih dulu menghabiskan sarapannya, setelah itu dia pamit keluar.

“Ayah keluar dulu yah,” ucap Indra pada Riyan

Riyan menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Indra.

“Manis, om keluar duluan yah,” ucap Indra pada Bella dengan nada genit.

Bella hanya tersenyum menanggapi ucapan Indra, sedangkan Riyan menatap tajam kearah lelaki itu, “Apaan sih, Ayah. Udah sana katanya mau keluar, pake genit sama Bella segala!” ketus Riyan.

Entah kenapa Riyan merasa kesal melihat lelaki lain menggoda Bella, meskipun lelaki itu ayahnya sendiri.

Tanpa berkata lagi, Indra langsung berjalan keluar dari kamar itu menginggalkan Riyan dan Bella berduaan.

“Om Indra...” baru saja Indra keluar dari ruangan itu, dia bertemu dengan rombingan Aang dengan lainnya.

“Oh, kalian...” balas Indra.

“Gimana kondisi Riyan, Om?” tanya Aang.

“Dia udah sadarkan diri, dan sekarang dia lagi berdua-duaan dengan gadis manis di dalam sana” jawab Indra tersenyum tipis.

“Gadis manis?” ucap Andri heran.

“Ih, kamu lola banget sih, maksdu om Indra itu si Bella” jelas Naomi.

Andri mengangguk-anggukkan kepala bertanda paham, “Oh, si Bella. Maklum lah, kan menurut gue perempuan yang manis itu cuma kamu, Naomi” goda Andri membuat Naomi tersipu malu.

“Cieee... ciee... Naomi..” ledek Rona dan lainnya.

“Apaa sih kalian,” ucap Naomi dengan pipi yang merona diapun langsung berlari pergi meninggalkan semuanya.

****

“Gue mau ngomong sesuatu sama lu” ucap Riyan, nada bicaranya terdengar serius.

“Apa?” tanya Bella.

Riyan perlahan menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mulai berdetak tak karuan, lalu dia menghembuskan napasnya.

“Gue suka sama lu” dengan lancarnya kalimat itu keluar dari mulut Riyan.

Bella tercengan mendengar apa yang barusan dia dengar, apa dia tidak salah dengan?

“Hah!” kaget Bella.

“Sorry, mungkin gue telat mengatakannya, tapi gue gak bisa nahan perasaan yang timbul karena rasa perhatian lu ke gue. Tapi sekarang gue mengatakannya, jadi... lu mau kan melengkapi perasaan ini?” ucap Riyan.

Bella terdiam sejenak, entah perasaan apa yang dirasakan saat ini, sebenarnya dia sengat senang Riyan mengungkapkan perasaan yang sama dengan apa yang Bella rasakan. Tapi,

“Maaf,” ucap Bella pelan.

Mendengar jawaban itu, Riyan sudah bisa menebak apa jawaban Bella sebenarnya. Sudah pasti gadis itu akan menolaknya karena selama ini sikap Riyan selalu ketus dan dingin pada Bella. Siapa sih yang mau dengan cowok sedingin Riyan?

“Oke, gue akui gue emang gak pantes buat lu. Selama ini gue selalu berlaku kasar sama lu, bersikap dingin sama lu, lu pasti udah muak sama gue!” ucap Riyan lesu.

Bella menggeleng pelan menyangka ucapan Riyan itu, “Emang sih selama ini kamu bersikap kasar dan dingin terus sama aku sejak pertama kali kita ketemu, tapi entah kenapa meskipun sikap kamu seperti itu, aku selalu menerimanya, tapi aku minta maaf...” ucap Bella terhenti.

“Aku...”

“Gak bisa...”

“Menolak perasaan kamu...”

Riyan terdiam, mencoba mengerti kalimat itu, sampai beberapa detik kemudian dia tersenyum gembira, “Jadi...”

“Iya, aku mau jadi pacar kamu” lanjut Bella sebelum Riyan menyelesaikan ucapannya.

“Pacar?? Siapa yang mau jadiin kamu pacar?” ucap Riyan tiba-tiba membuat Bella tersentak.

Apa maksud perkataan Riyan itu, kalau dia tidak ingin menjadikan bella kekasihnya, lalu kenapa dia mengungkapkan perasaannya pada Bella?

Riyan tersenyum melihat ekspresi wajah Bella yang sepert itu, lalu Riyan pun berkata dengan lembut,

“Aku gak mau jadiin kamu pacar, tapi aku mau jadiin kamu istri aku” ucap Riyan berhasil membuat Bella lagi-lagi terkejut.

“Istri??”

“Iya, nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, kita langsung kawin aja, gimana?” ucap Riyan diiringi dengan senyuman jahilnya.

“Apaan sih kamu. Lagian aku masih sekolah tau, mana boleh menikah” ucap Bella.

“Boleh, siapa yang ngelarang, lagian umur kamu kan 18 tahun dan aku 19, jadi udah boleh nikah dong” balas Riyan

“Hmm... jadi ngomongnya udah pake aku-kamu nih ceritanya” ucap Bella yang baru menyadari perubahan ucapan Riyan itu, sekaligus dia jug mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Gak boleh, oke kalau begitu pake gue-lu lagi aja” ucap Riyan

“Jangan! Nanti gak romantis” balas Bella, entah kenapa dia sangat suka mendengar Riyan berbicara dengan menggunakan kata itu, dia terdengar lebih manis dar biasanya.

“Jadi gimana? Kamu mau kan kawin sama aku?” tanya Riyan lagi.

Bella terdiam beribu bahasa. Tiba-tiba saja Riyan menggenggam tangannya membuat Bella menoleh dan menatap Riyan.

“Aku serius” ucap Riyan, nada bicaranya terdengar sangat serius.

“Oke, tapi nunggu aku lulus sekolah dulu yah” jawab Bella akhirnya setuju.

Riyan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia, meskipun itu masih lama, tapi tidak apa karena beberapa tahun lagi dia akan merasakan bagaimana rasanya main kuda-kudaan di atas kasur.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah beberapa orang kedalamnya, ternyata mereka adalah Aang dan lainnya.

“Ciee... kayaknya bakal ada yang nikah nih, gak sabaran banget keliatannya” celetuk Aang.

“Tau lu Yan, minta restu dulu kek sama calon kakak Ipar” timpal Andri membuat orang di dalam kamar itu terkekeh.

“Jadi bener nih kamu mau nikahin adik aku?” tanya Naomi mulai seirus.

“Yah, boleh kan?” jawab Riyan balik tanya.

Naomi terdiam sejenak layaknya orang yang sedang berpikir keras.

“Hmm... oke! Kalau itu bisa membuat Bella bahagia, aku restui. Tapii...” ucap Naomi terhenti, “nikahnya nanti aja setelah aku menikah, masa adik mau ngelankahin kakaknya sih dalam hal menikah, gak boleh” lanjut Naomi.

Bella langsung cemberut mendengarnya, “Yahh... kalau nungguin kakak duluan, lama dong, sekarang aja kak Naomi masih Jomblo, kalau begitu kapan nikahnya” ucap Bella tak setuju.

“Tenang aja Bell, kan ada gue yang siap nikahin Naomi” celetuk Andri lantang.

“Emangnya Naomi mau nikah sama lu?” timpal Aang.

“Ya mau lah, iya kan Mi?” dengan percaya dirinya Andri menanyakan itu pada  Naomi, gadis itupun tersipu malu mendengarnya, hal itu menjadi bahan olok-olokan Yupi dan Rona.

“Ciee... liat, mukanya kak Naomi merah!” celetuk Yupi,

“Itu tandanya dia mau nikah sama kamu, Ndri” sambung Rona membuat Naomi semakin tersipu.

“Apaan sih kalian” ucap Naomi dengan pipi yang merah merona.

Semuanya pun terkekeh melihat ekspresi wajah Naomi yang seperti itu, namun di sisi lain Andri tersenyum bahagia karena itu menandakan kalau Naomi sudah membuka sedikit hatinya untuk dirinya.

“Oh iya Ang, gimana pertadingan finalnya?” tanya Riyan tiba-tiba.

Mendengar itu Aang terdiam seribu bahasa, begitu juga Andri dan Yusuf yang terlihat lesu saat mendengar pertanyaan itu, seakan ada rasa sesal dibalik pertanyaan itu.

“Kita...”

“Kalah!!”

-Bersambung-

Abaikan kalau masih banyak typo dimana-mana.

Btw, thanks buat yg masih ngikutin cerita ini. Tapi jangan pada ngeboom vote yah, lebih baik gak usah ngevote kalau begitu mah.

Bukannya seneng, tpi bikin kesel. Harap maklumi yah...

Hargailah karya orang lain kalau karya kalian mau dihargain.

Cinta dan Sepak bola (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang