"Ya Tuhan, Yang Mana Katanya Bahagia Dari Jatuh Cinta? Aku Tidak Pernah Merasa."
********
"Tadi teman lo yang namanya sebangsa sama lo nyamperin gue, masa."
Gerakkan membuang air bekas pel lantaiku terabaikan. Aku keluar dari toilet. Menghampiri Esok yang sedang duduk diam di dinding pembatas antara toilet cewek dan cowok.
"Apa?"
"Si Luna, rival Aran nyamperin gue, terus nanya gue sama lo ada apa. Gitu."
Aku menepuk jidat dengan keras. Nggak disangka dan diduga ternyata Luna diam-diam agak posesif juga denganku. Tanpa banyak bicara cewek itu menghampiri Esok yang notabenenya adalah teman satu komplotan si Aran, rival Luna.
"Dia ketemu Aran?"
"Siapa? Luna?" aku mengangguk. "Biasa lah, dia nutupin muka bagian kanannya biar nggak liat si Aran. Itu anak kenapa sih sama Aran? Mereka pernah taken terus pas mantanan musuhan?"
Aku terkekeh kecil. "Nggak tau. Pertama kali MOS jaman kita si Luna emang anti Aran sih."
"Padahal katanya Aran cogan."
"Idih, Sok, lo normal 'kan?"
"Lo pikir?" tanyanya sewot. Woish! Biasa aja kali.
"Aneh aja ngedenger cowok muji ketampangan cowok lain. Ada yang janggal gitu," ujarku jujur.
Sebenarnya aku tahu tidak ada larangan sama sekali untuk kaum cowok memuji kaumnya sendiri. Tapi entah memang hukum alam yang bekerja, rasanya di telinga itu seperti ada yang aneh. Berbeda dengan ketika cewek menyuarakan kekagumannya secara gamblang kepada cewek lainnya.
"Btw, dia ngomong apa aja sama lo?" tanyaku sambil mendudukkan tubuh di samping Esok. Woah, rasanya seperti surga dunia saat punggungku menyentuh dinginnya dinding pembatas kamar mandi.
Esok terdiam. Tidak ada lagi jawaban yang keluar dari bibirnya. Aku mendengus kesal, kenapa di saat seperti ini Esok berubah jadi batu. Aku 'kan kepo dengan apa yang Luna adukan ke Esok lebih jelasnya. Sampai tiba-tiba Esok menatapku dalam. Matanya menyipit membuat dahinya mengerut.
"Ada hubungan apa lo sama dia?"
Mulutku terbuka setengah. Nada bicara Esok itu seperti seorang kekasih yang sedang mengintrogasi pacarnya yang katanya gosip beredar sedang ada main dengan temannya sendiri. Jadi, Esok sekarang mulai agresif nih?
"Gue kemaren cuma minta bantuan Qatar buat mesenin ojol. Sumpah serius," balasku, nggak enak juga dituduh-tuduh memiliki something denga seseorang. Apalagi yang nuduh gebetan kita sendiri. Bisa-bisa alamat gagal taken lagi kalau dia mengartikan perilaku aku dengan Qatar kemarin. "Lo percaya sama gue 'kan Sok? Gue nggak mungkin berpindah hati, karena hati gue sudah ditag sama----"
"----Sama siapa?" suaranya datar. Aku yakin, Esok nggak pernah belajar bahasa Indonesia yang materinya tentang pelafalan kata. "Lus, kenapa jadi curhat gitu?"
Demi langit dan bumi. Demi kemarau dan hujan. Demi matahari dan bulan. Demi bencinya Luna ke Arah. Demi cintaku pada Esok yang bertepuk sebelah tangan. Detik ini, aku ingin semesta menghentikan waktu barang sebentar saja. Lalu menghilangkan ingatan-ingatan semua orang di bumi ini. Dan aku ingin jika kehidupan nyata itu layaknya filter Instagram yang bisa di rewind.
Ya Tuhan. Lusa malu.
"Eng? Enggak, nggak kenapa-kenapa."
Esok mengernyitkan dahi. Ya Tuhan, Ya Tuhan, jangan sampai makhlukMu yang sekarang berada di depanku ini berubah menjadi seorang yang terlalu kepo. Aku mohon.

KAMU SEDANG MEMBACA
Esok
Teen FictionAku yakin, saat aku menyukainya aku tidak sedang mengalami penyakit Skizofrenia. Karena untuknya terlalu indah jika hanya dijadikan khayalan semu semata. Dia, lelaki yang aku juluki 'Si Pemberani' hanya karena membentak balik Kakak OSIS yang memang...