E N A M

56 10 3
                                    

"Dia Itu Sudah Taken. Sekuat Apa Pun Kamu menyukainya tidak akan mungkin Dia Melihatmu Lebih Dari Sekedar Teman."

*********

Liga Pendidikan Indonesia yang entah keberapakalinya kini hadir kembali. Gembar-gembor jika Bina Bangsa mengajukan diri untuk memperebutkan piala terhormat itu sudah terdengar dari seminggu yang lalu. Dan hari ini, tepatnya di Rabu pagi adalah puncaknya. Bina Bangsa melawan SMAN 46 Jakarta di babak awal.

Aku yang tadinya malas untuk ikut menonton acara begituan, hanya bisa berpasrah diri. Salahkan Luna dan Rigon yang tahu-tahu sudah mendaftarkan namaku tanpa sepengetahuanku di daftar suporter LPI tahun ini.

Kadang aku merasa takdir ini nggak adil banget. Kenapa juga aku harus kena kutukan berteman dengan manusia macam Luna dan Rigon yang sukanya memaksa orang lain. Seolah pasal dalam hidup mereka itu cuma ada dua : 1.) Bersedia mengikuti apa yang sudah mereka lakukan dan pilih. 2.) Jika mengelak, semuanya harus dan HARUS balik ke pasal pertama.

Kalau nggak ingat mereka berdua itu sahabat yang aku punya sekarang, nggak segan-segan aku melempar kemoceng milik OB sekolah ke muka mereka.

Bodo amat mau nantinya mereka marah.

Tapi yeah itu cuma khayalan seorang Lusa. Nyatanya, sekarang aku sedang pasrah duduk terdiam di atas bangku tribun sebelah tenggara dengan adanya Rigon di sisi kananku, Luna di sisi kiriku dan Voula yang berada di samping kekasih tertundanya.

Omong-omong tentang adanya Vou aku pingin banget nyadarin dia, jika perempuan seperti dia itu nggak butuh cowok macam Rigon yang nggak mau memberi status jelas akan hubungan mereka.

"GOAAAL!!! GILA ESOK GUE CINTAH BANGET SAMA LO!"

Teriakan Luna barusan membuatku memalingkan wajah ke lapangan. Di sana aku melihat Esok tertawa, tangannya menepuk dada sebelah kiri, sepertinya cowok itu sedang bangga dengan dirinya sendiri. Tanpa sadar sudut bibirku tertarik, membentuk sebuah senyuman kecil yang aku harap Luna atau Rigon tidak meyadarinya.

Sorak-sorai lagu penyemangat sedang dikumandangkan. Barisan cowok di depanku sudah pada berdiri, tangan mereka mengangtat sebuah banner yng bertuliskan nama Bina Bangsa sekaligus angakatan kami, Bina Bangsa 35.

"Ayo majulah Bina Bangsaku. Ayo majulah Bina Bangsaku, bermainlah dengan rasa bangga demi lambang Bina Bangsa di dada."

Oh, jadi lagu yang kemarin selembarannya dibagikan seperti itu. Aku baru tahu.

"Lus, doi lo nyetak goal, anjaaas!"

Luna menyenggol bahu kananku. Aku menatapnya biasa. "Udah, tau. Tadi 'kan lo tereak."

"Sori nih, tadi gue bilang cintah ke Esok. Itu refleks kok, selo aja gue bukan penikung yang handal kok."

Seketika aku malas melanjutkan perbincangan ini dengan Luna. Hanya anggukan kepala yang kuberikan sebagai jawaban atas permintaan maaf Luna barusan.

"Eh, anjir. Dia nge-sleding si Esok!"

Beberapa saat kemudian setelah siapa itu yang berteriak suasana di lapangan bawah sana ricuh. Esok yang sedang terkapar kesakitan di tanah sambil memegang betis kanannya. Dan kubu tim yang dipimpin Esok yang tidak terima mendorong salah satu pemain lawan.

"Yah, pertumpahan darah terjadi nggak lama lagi, bung."

Mataku melirik Rigon kesal. Dia itu memang selalu senang jika ada pertempuran seperti yang sedang terjadi itu. Rigon itu salah satu panglima kalau lagi ada acara ribut-ribut. Katanya, kalau cowok nggak ikut ribut itu cowok payah.

EsokTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang