D U A

84 11 7
                                    

"Sebegininya Banget Nasib Orang Jatuh Cinta Secara Diam-Diam."

********

Suara musik yang menggema dari ruangan modern dance seolah menjadi sebuah sound track dari aksi kejar-kejaranku bersama Rigon yang sedang kesambet jin di koridor siang ini. Aku nggak tahu, apa salahku dari tadi pagi hingga waktu menunjuk pukul sebelas hari ini. Yang pasti, dua menit lalu saat aku sedang mengintip Luna yang berlatih, Rigon datang dari arah ruangan musik, meneriaki namaku dengan lantang. Sangat lantang.

"Jangan lari lo Lusa!"

Sembari tetap berlari menjauh, aku menoleh ke belakang. Melihat wajah Rigon yang sepertinya sangat marah denganku.

"Lo nggak bakal aman! Pulang lewat mana lo?! Gue tebas lo!"

Bukannya semakin takut, justru aku malah tertawa terpingkal. Ancaman Rigon itu malahan tedengar seperti lawakan yang biasanya ditonton Papa pada saat malam minggu.

"Gue pulang lewat gerbang. Ngapa lo?!"  balasku berteriak. Jarak Rigon semakin dekat denganku. Dan, dua detik setelah aku membalas teriakannya tak kalah kencang. Rambutku yang terikat seperti ekor kuda seenak jidat ditarik Rigon tanpa rasa bersalah.

"Woy, anjir! Sakit." aku mencoba menepis tangan Rigon. "Masya Allah rambut gue botak setengah entar!"

Rigon masih belum mau melepas jambakan kasarnya yang begitu mirip dengan jambakan cewek kalau lagi berantem rebutin cowok. Dia malah memutar tubuhku. Sehingga kini kami berhadap-hadapan.

"Sakit Rigon, serius. Gue laporin ke Kak Seto lo! Telah menyakiti anak kecil kayak gue."

"Sejenis lo dibilang anak kecil?" Rigon bertanya. Raut mukanya itu minta banget ditakol pakai tombak, sumpah. "Cewek spesies kayak lo itu ya Lus, gue bilangin aja. Harus dimusnahkan."

"Nanti kalau gue musnah. Lo bakalan kangen sama gue. Siapa yang repot? Ya, elo lah!"

Rigon tertawa sumbang. Tangannya itu betah banget ada di rambutku. "Males amat gue kangen sama lo. Kalau lo udah berubah sepadan kayak Aril Tatum atau Chelsea Islan baru gue kangenin!"

Aku memutar bola mata malas. Anak cowok memang selalu begitu. Mempunyai sebuah fantasi liar yang sebenarnya dia tahu, kalau itu nggak bakalan kesampaian. Tapi tetap saja, dibayangin lagi dan lagi.

"Rigooon. Gue mau nanya!"

"Apa?"

"Lo kenapa ngerjar-ngejar gue deh? Gue tau kalau lo itu anak teater. Tapi nggak mungkin 'kan Ka Isma, nyuruh lo akting kayak di film India yang lari-larian dengan gue sebagai bahan percobaan?" tanyaku memberondong.

"Bukan itu!" Rigon sudah melepas jambakannya. Gantian, kali ini jidatku yang tidak terutup poni terkena daprat pukulan dari tangan Rigon yang begitu jahil. "Lo yang tadi pas pelajaran olahraga pinjem sepatu gue 'kan?"

Aku mengangguk. Mencoba mengingat kejadian dua jam sebelum ini. Di mana aku meminjam sepatu milik Rigon untuk pelajaran olahraga yang mendadak praktek. Tadinya, aku itu cuma menggunakan flat shoes berwarna hitam karena dari yang kutahu, pelajaran olah raga minggu ini kena di materi. Tapi tiba-tiba saja Bu Erna ---Guru olah ragaku menyuruh kami untuk melaksanakan pemanasan di lapangan utama sana.

Ya, sudah. Aku kelimpungan. Saat itu otakku hanya kepikiran ke Rigon. Nggak mungkin cowok kayak dia pakai flat shoes kayak yang aku pakai 'kan?

"Iya, gue. Kenapa? Sepatu lo emang udah jebol dari sebelum gue pinjem ya, Gon!"

"Otak lo lemot pisan ih!" lagi-lagi pukulan Rigon mendarat mulus dijidatku. "Gue tanya nih sekarang. Tadi lo olahraga ngapain?"

EsokTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang