Semenjak aku dan Esok melihat Ola di mall bersama seorang cowok lain yang aku tidak kenal, Ola nggak pernah lagi terlihat berkeliaran di sekolah. Yang biasanya setiap jam istirahat Ola beserta teman-temannya itu suka duduk di pinggir koridor, sekarang tidak lagi. Maksudku, geng Ola itu seperti kehilangan satu personilnya, yaitu Ola.
Kadar hubungan kedekatanku dengan Esok juga masih stuck di tempat. Esok masih suka menyapaku kalau kita berpapasan entah itu koridor atau kantin. Kadang-kadang Esok juga suka replied story instagramku. Dan sesekali menyapa namaku di grup angkatan Bina Bangsa.
Tidak ada kemajuan, istilahnya.
Memang apa yang mau ada kemajuan, jika dari awal Esok hanya menganggapku sebagai partner in crime. Berharap dalam enam hari itu Esok langsung jatuh cinta sama aku? Bah! Sangat mustahil, situasinya kayak Jakarta lagi hujan deras terus nggak banjir. Benar-benar nggak bakalan kejadian.
Kadang aku pernah kembali memikirkan cintaku untuk Esok. Ini benar adanya atau hanya ilusiku semata atau lebih parahnya aku hanya terobsesi memiliki Esok yang menurutku sempurna. Dalam sebuah artikel, katanya kalau selama empat bulan kita terus memerhatikan seseorang itu nyatanya kita benar-benar jatuh cinta dengannya.
Berarti kesimpulannya dari aku yang ngomong tadi, aku sudah jatuh cinta dengan Esok. Yeah, meski aku tahu cinta dalam sendiri itu seperti bom waktu yang kapan saja siap meledak. Aku meneguhkan dalam hati, jika mencitainya adalah kesalahan yang tidak pernah kusesalkan. Esok memberiku sebuah pelajaran, tentang mencintai sesuatu yang bukan milikku. Tentang semua yang kuimpikan ternyata bukanlah yang kubutuhkan.
Aku malas menjadi melankolis kalau sudah membahas cinta. Padahal aku sendiri tidak pernah tau apa definisi cinta menurut hatiku. Yang selalu kuagung-agungkan hanyalah bunyi degup jantung yang selalu abnormal kala melihatnya. Semudah itu aku menyimpulkan. Karena aku adalah orang yang nggak berpusing-pusing untuk memikirkan sesuatu.
Sama seperti tadi pagi, saat tangan Zaky seenaknya menerbangkan pesawat kertasku ke bawah. Aku tidak repot-repot untuk mengeluarkan teriakan untuk menghakimi Zaky. Aku hanya pergi ke dalam kelas, mengambil sapu tangan biru kesukaan Zaky dan taraaa sapu tangan Zaky menyusul pesawat kertasku yang terlebih dahulu jatuh.
Jangan ditanya gimana reaksi cowok itu. Dia berteriak keras di depan wajahku. Ouch, sangat keras. Namun aku hanya memberinya senyum mengejek. Siapa suruh, menganggu seorang Lusa yang lagi dalam tahap malas diganggu. Terima saja risikonya dengan lapang dada.
"Katanya, ice cream bisa naikin mood orang yang lagi down."
Segagang ice cream cone yang masih terbungkus kertasnya hadir di depan wajahku. Mataku melotot girang, red velvet! Aku suka itu!
"Ambil, gratis. Mumpung gue lagi jadi orang baik."
Si pemegang ice cream itu memutar badannya. Lalu duduk di sampingku. Orang yang tadi baru saja aku bahas sekarang sudah berada di dekatku. Esok ini panjang umur tapi kok pendek napas ya.
Aku menyabet ice cream dari tangan Esok. Nggak baik, ada makanan enak di depan mata tapi cuma di anggurin "Dalam rangka apa nih, lo ngasih gue ice cream?"
"Nggak kenapa-kenapa." Esok memangku kaki kanannya ke kaki kiri.
Tunggu. Ada yang aneh. Ke mana hilangnya celana putih yang seharusnya dipakai oleh Esok di Jumat ini. "Lo kenapa make sarung?"
"Gue kira lo nggak bakalan sadar," balas Esok sambil matanya melirik ke sarung kotak-kotak cokelat yang sedang dikenakannya. "Hari Jumat, biar nanti gue langsung caw Jumatan."
"Masa? Biasanya anak-anak juga pake celana putih panjang kalau mau salat."
"Di hukum gue," akunya enteng.
"Lagi?"
"For the first time. Gara-gara semalem gue nginep di rumah Qatar lupa bawa celana putih, gue dipinjemin punya si Barca ini Adeknya Qatar yang masih SMP. Gila emang tuh anak, udah tau postur tubuh gue sama si Barca beda tapi kekeuh nyuruh gue make ini. Jadilah pas gue ke sekolah gue kayak cabe-cabean yang pake celananya press body terus ngatung. Ketauan Bu Mila, dipakein sarung gue," jelas Esok panjang lebar dengan pelafalan nada yang dibuat sejengkel mungkin.
Serius. Aku ketawa. Gerakan menyaplok ice cream kutunda. Sudah aku bilang dari dulu juga 'kan? Kalau hukuman Bina Bangsa itu parah sekaligus aneh. Nah, ini contoh keduanya.
"Dan lo nggak berusaha untuk menyela gitu?"
"Lo pikir hukumannya si Bu Mila motor disela-sela."
Lagi-lagi aku tertawa. Rasanya aku selalu berubah menjadi orang receh humor kalau sedang bersama Esok. "Ya mungkin, lo masih berusaha kasih alasan yang logis."
Esok memberiku senyuman tersirat seperti, serius Lusa? "Hujan meteor kalau Guru Bina Bangsa mau dengerin ocehan muridnya."
"Nggak gitu juga kali," kilahku.
"Perumpamaan yang tepat ya kayak gitu."
Kemudian Esok diam. Aku tidak. Aku sibuk mengigit cokelat putih tebal yang menyatu bersama ice cream lembut. Moodku yang tadinya jomplang abis seketika langsung naik lagi. Entah itu karena efek dari ice cream atau gara-gara ice cream yang diberi oleh Esok.
"Bego banget! Gitu aja jatoh!" maki Esok ke seorang anak laki-laki yang barusan terjatuh di lapangan.
"Kalau-kalau lo lupa, waktu LPI lo juga jatoh gara-gara kena sleding," ingatku padanya sembari memberi Esok senyum meledek. "nggak usah sok bego-begoin itu orang kalau lo ternyata juga pernah ngalamin kayak gitu. Ya, istilahnya kalau lo mudeng sama apa yang gue barusan omongin, lo juga samanya bego."
Esok membelakan mata. Tangannya bergerak untuk menghadiahi sebuah jitakan keras untuk kepalaku. Sumpah, itu sakit. "Ngomong sekali lagi."
"Apaan?" tanyaku malas.
"Itu, yang kata lo gue 'bego' lho."
"Lo bego."
Sekali lagi, jitakan Esok hadir di kepalaku. Sial, aku nggak bisa balas. Jantungku mulai norak lagi, disakiti aja masih bisa dengan lancang jedag-jedug nggak karuan, heran kenapa segampang itu.
Aku merengut kesal. Mau mengeluarkan kata-kata seperti orang merajuk aku kegelian sendiri. Ish, Lusa nggak selebay itu, tolong!
"Sakit ya?" basa-basi yang lumayan bagus namun terkesan memaksa.
"Menurut ngana?!"
"Sakit sih," katanya Esok seraya bahunya mengedik malas.
Songong! "Nggak minta maaf?"
"Buat apa coba?"
"Esok, baru saja lo menyakiti gue. Dan nggak ada kata-kata maaf?"
Alis Esok menaik sebelah. "Yang sakit elo kenapa harus gue yang minta maaf?"
Aku kesal kuadrat bahkan sudah hampir ke kubik! Sialan cowok satu itu ternyata nggak cuma bisa buat hatiku menjerit sakit tapi fisikku pun dijabani. Membuang sisa-sisa ice cream sembarangan lalu aku bangkit dari duduk, bayanganku tentang aku pergi menjauh dari Esok tidak terlaksana tangan kananku dicekal tertahan oleh si Cowok Pembuat Sakit Hati dan Fisik versi Lusa.
"Iya deh, sori-sori," ujar Esok pelan tangannya mengelus bagian kepalaku yang tadi dijitaknya.
Aku termangu. Bukan lagi kesal sekarang, tapi mati kutu. Serius, aku nggak tahu harus apa. Bernapas saja sepertinya sulit. Alay! Bodo amat.
"Lusa, lucu deh kalau lagi ngerajuk gitu. Maaf ya?"
Elusannya masih setia ada di atas kepalaku. Bisikan kata-katanya juga mengalun di telinga kananku. Tidak terlupakan bau parfum yang seolah menyeruak dari tubuh Esok di setiap helaan napasnya yang menggelitik pipiku. Tuhanku, boleh aku minta dunia berhenti saat ini juga?
********
Tahun depan cerita ini harus tamat. Titik!
Yaqhin anda? Enggak, hehe.

KAMU SEDANG MEMBACA
Esok
Teen FictionAku yakin, saat aku menyukainya aku tidak sedang mengalami penyakit Skizofrenia. Karena untuknya terlalu indah jika hanya dijadikan khayalan semu semata. Dia, lelaki yang aku juluki 'Si Pemberani' hanya karena membentak balik Kakak OSIS yang memang...