S E B E L A S

51 8 10
                                    

"Jangan Sampai Nantinya Aku Didiagnosa Memilik Penyakit Jatuh Cinta. Jangan."

********

"Lus, embernya di dapur ambil dong!"

Suara teriakan Esok membuatku mengangkat kepala. Meletakkan satu buah pel lantai sembarangan, aku berjalan ke luar bilik kamar mandi perempuan, menghampiri Esok yang berada di sebelah, bilik kamar mandi laki-laki.

"Apaan?" tanyaku. Hanya sekedar menongolkan kepala di pintu masuk kamar mandi.

Esok yang yang sedang mengelap kaca menoleh. "Masuk aja sini, nggak ada orang."

"Nah, makanya karena nggak ada orang gue takut ke dalam. Lo tau 'kan, kalau cewek dan cowok berduaan ketiganya---"

"---SETAN!"

Demi Tuhan, itu bukan aku atau Esok yang berteriak. Sontak kepalaku juga milik Esok menoleh ke arah pintu masuk. Di sana ada Aran juga Qatar, yang kutahu kedua cowok itu berada dalam satu komplotan yang sama dengan Esok.

Aran yang hanya bergeming. Dan Qatar yang menunjukkan raut wajah herannya. Lagi-lagi untuk mereka berdua cukup good looking, coba kalau nggak, bisa-bisa aku akan menyiram mereka tanpa rasa bersalah.

Aku bukannya melihat orang hanya dari tampilan fisik. Bukan. Tapi tuh, aku suka saja dengan orang-orang yang merawat wajahnya. Nggak sembrono.

"Lo ngapain dah berdua di situ?"

Esok memecahkan keheningan di antara kami.

"Esok? Sejak kapan lo berubah jadi dermawan? Gue yakin, semalem lu ngilang gara-gara ikut pengajian di Monas ya?" tanya Qatar tangannya menunjuk-nunjuk muka Esok.

"Ck, nggak secepet itu gue tobat tolol! Ya kali. Semalem gua ngilang lo mau tau karena apaan? Gara-gara si setan kecil noh minta muter-muter nyari ice cream semangka," balas Esok tangannya melempar kanebo ke sembarang arah.

"Sok," panggil Aran yang daritadi diam. Kukira dia makhluk yang kekurangan kata-kata. Ternyata bisa ngomong juga. "Lo ngapain?"

"Bersihin kamar mandi, lah. Sejak kapan mata lo berubah jadi soek Ar?"

"Diam. Gue nggak nanya sama lo, Komodo."

"Imut dong gue. Suka dipake sama Adek-Adek kecil. Komodo teman baikku."

Aku memutar bola mata malas. Sumpah itu lawakan tergaring sepanjang masa Indonesia raya merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya. "Kodomo, please."

Aran hanya melirikku sebentar. Sementara Qatar tertawa keras. "Dih ada si Ibu Vokalis. Baru tahu gue, kalau ngomong ternyata suaranya nggak merdu-merdu amat. Selama ini lo lip sync  ya?"

Aku tersinggung serius. Mana ada kali orang ngomong tapi pakai nada bernyanyi. Aku nggak mau disamakan dengan Saiful Jamil, yang semuanya dibawa ke nyanyi. "Lo ngatain gue?!"

"Woaaah, santai Mbak santai. Abangnya cuma bercanda."

"Nggak lucu."

"Ya emang. Orang kata Bunda gue ganteng kok bukan imut. Suka deh gue sama lo, jujur."

Sehabis itu Qatar mendapat pukulan di kepalanya. Dari dua orang sekaligus. Esok dan Aran. Aku juga ingin ikut memukulnya tadi. Tapi kasihan, sama dua orang saja Qatar sudah menjerit kesakitan. Apalagi ditambah tanganku yang kalau kata Rigon dan Zaky tangan kayu. Keras.

"Gue balik dulu Sok. Nggak baik lama-lama tinggal di kamar mandi kalau ajak si Qatar. Bisa-bisa nanti dia malah main sama teman-temannya."

"Lo pikir gue sejenis setan?!" Qatar mendesis kasar.

EsokTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang