Rabu telah tiba. Rabu telah tiba. Hatiku nggak gembira. Yeah, darimananya gembira kalau tiba-tiba limapuluh menit yang lalu Bu Rosma, selaku Guru Matematika yang terkenal killer di Bina Bangsa masuk ke kelasku dan memberi Sebelas Dua ulangan secara mendadak.
Sontak, Luna yang memang sangat membenci Matematika itu langsung menggeram tertahan. Sekarang saja anak itu sedang mengerjakan essay dengan ogah-ogahan.
"Selesai. Kumpulkan sekarang."
Suara Bu Rosma yang begitu tegas dan tidak terbantahkan membuat Sebelas Dua kalang kabut. Ada yang memekik kesal karena belum terisi semua jawabannya. Ada juga yang berpasrah diri dengan hasil hitung-hitungan asal. Apalagi aku sama Luna, yang daritadi menggunakan rumus terbaru yang mungkin hanya diketahui oleh kami berdua.
Biarkan sajalah. Toh, nasi sudah menjadi bubur. Lembar jawaban sudah dikumpul di meja Guru. Lebih baik aku berdoa, biar misal-misal aku nantinya remedi soalnya lebih mudah daripada yang tadi.
"Gue sih yakin, gue remedial lagi," ujar Luna yang sudah masa bodoh dengan nilainya sendiri.
"Nggak pa-pa kali, kata Raisa kali kedua itu sama indahnya. Anjooos," timpal Zaky. Badannya sudah membelakangi meja menghadap ke arahku dan Luna.
"Ck, gue nggak yakin tadi lo jawab soal-soal itu dengan bener, Zak."
Zaky hanya cengengesan. Tipe-tipe cowok seperti dia itu, mana mungkin mau susah-susah memutar otak untuk mengingat rumus demi menjawab soal Matematika secara benar.
"Razak Kylendra. Apa-apan ini jawaban kamu."
Baru saja ketika Zaky ingin membalas perkataan Luna. Bu Rosma sudah menyebut nama aslinya, mata Bu Rosma memicing, mencari-cari letak keberadaan di mana si Biang Rusuh itu berada.
"Kenapa ya, Bu?" Zaky bertanya sambil tangannya menggaruk rambut hitamnya.
"Jawaban essay nomor empat sampai lima kamu ini. Apa-apaan, mau mempermainkan saya kamu?"
Zaky menggeleng. "Lah, emangnya saya jawab apaan Bu?"
"Begini 'Maaf Bu, semalam Indonesia lawan Thailand lebih seru. Jadi saya lupa belajar. Lebih memilih mendukung negara saya sendiri. Maka saya katakan, saya tidak tahu apa jawabannya' kamu pikir saya semacam aplikasi curhatan kamu hah?"
Sebelas Dua kompak menahan tawanya. Kelakuan Zaky yang seperti ini itu memang sudah biasa terjadi kalau cowok itu nggak tahu apa yang mesti dijawabnya. Kata Zaky, pada saat aku bertanya dulu, dia hanya ingin jujur pada Guru, lebih baik daripada dia harus tanya ke brainly.com atau menyalin jawaban temannya.
Mulanya aku sempat tersanjung dengan pemikiran Zaky. Jarang banget 'kan cowok-cowok aneh bin ajaib dan sejenis Zaky itu masih menjunjung nilai kejujuran. Tapi sekarang, saat aku tahu apa jawaban Zaky yang mengatasnamakan 'jujur' itu, rasanya aku ingin menggetok dan membawa Zaky ke Guru Agama. Biar dirukiyah.
Sepasrah-pasrahnya aku dalam menjawab soal Matematika, pasti masih disertai angka yang memang ciri khas pelajaran itu nggak seperti Zaky yang malah mengarang bebas menjerumus ke curhat.
"Pulang sekolah nanti kamu jangan ke mana-mana."
"Dih Ibu, saya mau pulang ke rumah."
Mata Bu Rosma semakin membelak. "Jangan mebantah sama yang tua! Nggak baik."
Akhirnya Zaky hanya mengangguk pasrah. "Gagal lagi gue duel game di warnet," lirihnya
"Katanya lo mau pulang tadi?" tanyaku.
"Padahal alesan doang. Niat aslinya gue mau duel di warnet, hadiahnya lumayan buat beli kuota hape gue."
Kali ini aku benar-benar tertawa, tapi masih di batas wajar, di depan sana masih ada Bu Rosma yang memendam sisa-sisa kekesalannya akan ulah Zaky tadi.
"Kapan sih lo berubah Zak? Nggak cape gitu ngerusuh mulu."
Tanpa diduga cowok itu malah memasang cengiran khas dirinya. "Sepuluh tahun lagi, Lus, saat kita reuni dan nggak ada murid semacam gue pasti bakalan krik masu sehacep apapun EDM-nya "
"Jangankan sepuluh tahun lagi. Satu tahun ke depan pas kita-kita udah lulus. Lo nggak bakalan nemuin spesies manusia kurang normal yang hobinga bikin kelas ramai kayak gue sama Zaky," sambung cowok di sebelah Zaky, wajahnya seperti sedang menasihatiku dengan serius.
Kenalkan, orang yang barusan menceramahiku adalah Karangga Bungacipta, bukan karangan bunga. Dia itu termasuk ke dalam satu spesies biang rusuhnya Sebelas Dua dan seantero Bina Bangsa. Kerjaannya selain belajar di sekolah adalah menggaet hati para Adik kelas nan masih polos yang disebutnya dedek gemay. Juga, pemegang sabuk hitam di ekskul karate.
"Hadeh, kenapa gue bisa berteman sama lo berdua ya?" jemari telunjuk Luna mengarah ke muka Zaky dan Angga bergantian.
"Karena gue emang ditakdirkan untuk menjadi penghibur jomblowati kesepian macam lo dan Lusa."
"Eh tapi Lus." Zaky menjeda ucapannya. Firasatku mengatakan jika sebentar lagi Zaky akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat aku mati kutu. Terlihat dari seringaian di bibirnya yang biasanya mengapit satu batang rokok. "Kemarenan gue ngeliat lo sama Esok makan nasi Padang di seberang sekolah tuh, ngapain ya."
Mamvus. Omongan Zaky begitu lancar seperti air yang mengalir dari atas ke bawah. Aku jengah, pipiku sedikit merona. Tertangkap basah apalagi itu dengan Zaky adalah hal yang paling kuhindari di dunia ini. Tapi kenapa sekarang semuanya sedang terjadi ya Tuhan?
"Ngapain tuh? Aw-aw atau nyuci piring Lus?" goda Angga berkompromi dengan Zaky.
Selintas aku melirik Luna. Cewek itu sedang menatapku bingung dengan satu alisnya yang terangkat dan pancaran matanya yang seakan menghunus diriku.
"Makan lah, ya kali gue jualan pecel," kataku di akhirnya memberi sebuah senyum seolah menyakinkan mereka bahwa aku dan Esok pada hari itu benar-benar sedang 'makan'.
Luna memandang ke arahku dengan heran. "Gue kira seorang Lusa nggak bakalan punya rahasia sebesar ini. Lalu ini apa Lus?"
Suara Luna yang sengaja dibuat mendayu-dayu menggetarkan hatiku. Ada rasa bersalah saat Luna mengatakannya barusan. Aku tahu, kalau Luna itu kecewa lantas aku bisa apa?
"Gue, hm, nanti gue ceritain deh."
"Gue kira kita udah saling terbuka. Hampir sepuluh tahun lho kita berteman, tapi belum sampai tahap sahabat ya Lus?"
Aku meringis. Lidahku seolah kelu. Otakku blank. Luna dalam masa kecewa biasanya akan berubah menjadi lebih ganas. Parahnya lagi, nanti ketika aku mengemis maaf darinya aku harus melaksanakan permintaannya dengan segenap hati. Masalahnya saat ini uangku sedang menipis.
"Wes, wes, Mbak-mbaknya yo jangan marahan gitu lah." Zaky merentangkan tangannya. Seperti menjadi penengah dari jarak mukaku dan muka Luna.
"Kadang, manusia punya satu rahasia yang memangnya hanya diketahui oleh dia sendiri juga Tuhan. Nggak masalah kali kalau si Lusa mau PDKT sama Esok." Angga mengedikkan bahunya.
Zaky mengangguk setuju. Lalu memunculkan senyumnya lagi sebelum mengurarakan utltimatum ala-nya. "Kalian nggak boleh berantem cuma karena masalah cowok. Harusnya tuh cowok yang berantem karena memperebutkan kaum kalian. Karena cowok itu selalu bersaing di harta, tahta, wanita, Raisa, Pevita, Luna, Lusa."
"Pikiran lo mah emang nggak jauh-jauh dari status sosial." Luna menempeleng kepala Zaky.
"Daripada gue mikirin kontes adu kejantanan padahal belum cukup umur? Yang ada dosa gue."
"Mending lo pergi ke Musholla terus sholat Duha, Zak. Biar macan-macan yang ada di tubuh lo menghilang. Wussss."
"I'm not tiger but i'm a rabbit because rabbit its cute like me."
Angga menirukan gaya muntah tiruannya. Omongan Zaky mematahkan pangkat Panglima Biang Rusuhnya Sebelas Dua kalau terus-terusan seperti itu. Lalu mereka bertiga ----Zaky, Angga, dan Luna, kembali berdebat mengenakan bahasa asing yang dicampur-campur. Sementara aku termenung, memaksa memutar ide untuk memenuhi permintaan Luna nantinya dan mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan masalahku dengan Esok.
************
Dabel apdet? Yep! Mumpung aku lagi nggak sbux (alay beut gua ish) btw aku senang ini hari terakhir aku PAS setelah hampir dua minggu itu harus berdoa "ya Allah semoga pengawasnya baik" WKWKW.

KAMU SEDANG MEMBACA
Esok
Genç KurguAku yakin, saat aku menyukainya aku tidak sedang mengalami penyakit Skizofrenia. Karena untuknya terlalu indah jika hanya dijadikan khayalan semu semata. Dia, lelaki yang aku juluki 'Si Pemberani' hanya karena membentak balik Kakak OSIS yang memang...