Dita POV
Nekat? Udah jelas, mengajukan diri jadi sopir pribadinya, ide gila yang langsung muncul begitu saja di benakku.
Maksud hati biar bisa lebih dekat dengan pangeran tampanku setiap pagi dan sore hari bersamanya di dalam satu mobil.
Membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes.
Usaha boleh dong?
Untuk sekarang posisi duduk di depan jadi sopirnya, kali-kali aja berapa tahun ke depan posisi duduk berubah jadi ke belakang, ehem.. ehm.. Jadi istrinya mas Dino.
Hahahaha, aku tertawa dalam hati dengan wajah sumringah.
Sesaat kemudian aku terdiam, keningku langsung berkerut, memikirkan entah apa yang akan di katakan kedua orang tuaku kalau mengetahui hal ini.
Mereka pasti menceramahiku pagi, siang, sore, malam nggak, itu waktunya mereka istirahat, mereka pasti capek menceramahiku seharian penuh.
Tapi yang membuatku kaget, ternyata Dino malah menyetujuinya.
Ya ampun, padahal aku hanya bercanda mengatakannya, tidak mungkin juga kan jadi sopir pribadinya.
Aku memelankan laju mobil memasuki jalanan kecil menuju rumah orang tuaku, catatan, rumah pemberian bapak tuan besar, ketika bapak memutuskan untuk membawa kami, anak-anaknya semua ke Jakarta.
Sangat baik kan bapak tuan besar itu, apalagi ibu nyonya besar yang sering memberiku hadiah apabila aku mendapat ranking 3 besar di sekolah.
Seharusnya tadi aku bilang ke Dino, tidak usah membayarku sebagai sopir, itung-itung membalas budi kebaikan keluarganya selama ini.
Aku menghentikan mobil tepat di depan pagar rumah, membuka seat belt dan memutar tubuhku ke arahnya.
"Mas"
Dino menatapku.
Aku meringis ragu.
"Soal tadi, yang jadi sopir, saya berubah pikiran, gak usah bayar saya, saya ikhlas ko, tapi dengan syarat, mas Dino jangan sampai kasih tau bapak sama ibu" Kataku pelan.
"Saya tetap akan gaji kamu" Katanya cepat.
Aku langsung menggeleng.
"Ya udah kalo gitu batal gak jadi sopirnya mas Dino, lagian tadi saya becanda kok ngajuin diri jadi sopir" Aku kembali meringis.
Kulihat Dino terdiam.
"Memangnya kalo orang tuamu tau kenapa?" Tanyanya kemudian.
"Ck, ya bahaya lah mas, bapak tuh galak, bisa-bisa nanti malah saya di suruh pulang balik ke kampung" Jawabku.
Kulihat Dino berpikir.
"Kamu itu sebenarnya bercanda atau serius sih ngajuin diri jadi sopir saya?" Tanyanya.
Aku meringis.
"Awalnya bercanda, pas mas Dino terima, saya jadi yakin, eh sekarang pas mikir-mikir nanti ketauan bapak sama ibu malah jadi ragu hehehe" Jawabku.
"Saya mikir gimana caranya jemput mas tanpa ketauan sama bapak ibu" Lanjutku lagi sambil menggaruk kepalaku.
"Ya gampanglah, tiap pagi, saya nya yang jemput kamu di sini, terus tinggal kamu yang bawa mobilnya dari sini sampe kantor, gak bakalan ketauan kan?" Katanya.
Aku tersenyum.
"Kita kaya backstreet ya hehehe" Kataku.
"Backstreet? Maksudnya?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.
"Hahahaha nggak, nggak, nggak ada maksudnya, cuma halu saya aja" Pikiran ku terlalu jauh melampaui kenyataan yang belum tentu terjadi.
Yang penting sekarang bisa dekat-dekat dengannya, urusan bapak sama ibu, urusan belakangan.
Asal gak buka suara atau pun menunjukkan gerak-gerik mencurigakan, aku rasa bakalan aman, toh cuma sampai beberapa bulan sampai bapak tuan besar kembali ke Jakarta kan.
"Ya udah mas, gimana nih? Besok kita mulai bersama-sama kan? Ehh, maksud saya, mulai besok jadi sopirnya mas kan?" Tanyaku cepat, meralat mulut ini yang terlalu cablak mengutarakan perasaanku.
Dino tersenyum.
"Oke, mulai besok ya" Jawabnya sambil membuka seat belt dan keluar dari mobil.
Aku mengikuti dirinya keluar dari mobil dan berdiri di depan pintu lalu bergeser sedikit ketika dirinya sudah berada di dekatku.
Aku tersenyum, melangkah mundur mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam mobil sambil memberi hormat kepadanya.
"Mustinya sejak awal saya harusnya manggil mas itu, pak boss kecil ya, secara mas itu kan atasan saya dan anak dari majikan orang tua saya" Kataku.
Dirinya yang sudah berada di balik kemudi memutar tubuhnya sedikit menghadapku.
"Udah, panggil saya mas Dino aja, gak usah ada embel-embel boss, dengernya gak enak" Katanya.
Aku meringis.
"Justru malah gak enak kalo di dengar sama orang lain kalo manggilnya mas Dino aja, udah pak boss kecil aja ya, kalo gak mau, saya mundur jadi sopirnya pak boss kecil nih"
Kulihat dirinya mengusap wajahnya.
"Dit, kamu belum mulai kerja jadi sopir aja udah ngundurin diri, gimana saya mau kasih kamu surat rekomendasi yang bagus buat referensi" Katanya dengan wajah serius.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Pak boss kecil, sebentar-sebentar, mau ngasih saya surat rekomendasi yang bagus buat apaan deh?" Tanyaku bingung.
"Lah emangnya saya bakalan ngelamar kerja jadi sopir ke perusahaan lain ya!" Lanjutku kemudian.
Dirinya terkekeh.
"Udah ya, saya pamit dulu, besok siap-siap saya jemput jam 7 pagi, bye Dita" Katanya sambil menutup pintu mobil.
Aku tersenyum dan melangkah mundur.
Gimana gak tersenyum mendengar perkataannya, saya jemput, kesannya kan kaya berangkat kerja dijemput sama pacar.
Senyumanku makin mengembang.
Gak apa-apa halu sedikit, yang penting bisa bersama setiap hari.
Dirinya melambaikan tangannya sebelum mobilnya meluncur meninggalkan ku.
Duh, mas Dino, semoga aku mimpi indah malam ini.
Tbc
Up terakhir yaaa.
Hehehe, selamat istirahat buat bsk yg balik beraktifitas 😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisahku
HumorPenulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 28/10/17 - 27/11/17
