21. bibir jedingnya

10K 1.5K 194
                                        

Mas Dinoooo, mas suka traveling juga ya? Kok kita gak pernah ketemu sih? (Tadinya pengen nulis pake bahasa eike yesss cuma takut mas Dinonya gak ngerti 😂😂😂)

Dita POV

Dino mengantarkanku kembali ke kostan setelah kami makan siang. Pria di sampingku ini sejak kami berada di coffee shop sampai keluar dari pelataran parkiran kedai makanan yang kami singgahi untuk makan siang, tidak henti-hentinya menebarkan senyuman.

Entah salah makan apa, wajahnya terlihat sumringah. Mungkin otot-otot wajahnya ada yang tertukar ketika tadi mengunyah.

Dino memarkirkan mobilnya di sudut pelataran parkir, dirinya membuka seat belt.

Aku mengikuti gerakannya.

"Mas" Panggilku sebelum dirinya membuka pintu mobil untuk keluar.

Dino memutar tubuhnya kembali menghadap diriku.

Jantungku kembali berdebar kencang melihat caranya tersenyum.

"Ya Dit?" Tanyanya dengan alisnya yang terangkat sebelah.

Ye elah, dibilang seksi jadi makin sering keangkat itu alis.

Tapi gak apa-apa, seneng lihatnya, beneran seksi, apalagi matanya kaya mengandung ajakan mengundang.

Hihihihi, lagi-lagi pikiranku melayang kemana-mana.

"Hehehe" Seperti biasa aku selalu membuka perkataan yang ingin ku ucapkan dengan cengengesan.

Tanganku memilintir tali ranselku.

Rasanya gak enak juga ingin menanyakan hal ini, tadi itu waktu Dino mengatakan perasaannya kepadaku, sepertinya menggantung.

Maksudnya menggantung, ya statusnya kami ini sekarang apa? Pacaran? Calon suami istri? Atau masih sopir dan majikan?

Hushh, yang terakhir tolong di hapus, masa udah mengutarakan perasaan, statusnya masih sopir majikan.

Alisnya kembali terangkat.

"Mau ngomong apa Dit?" Tanyanya lagi.

Aku rasa cengiranku semakin melebar dan menampakkan deretan gigiku dengan lebarnya.

"Hehehe gini mas, hehehe" Jariku makin memelintir tali ranselku semakin kencang, buku-buku tanganku sampai memutih.

Mata Dino mengamati jariku.

"Ini ngapain sih?" Tanyanya sambil memisahkan tautan jemariku dengan tali ransel.

"Mau ngomong aja harus sambil memelintir tali gitu ya Dit?" Tanyanya lagi.

Kini giliran mataku yang mengamati jarinya memainkan jemariku.

"Mau nanya mas" Kataku sambil menelan ludah, Dino mengusap telapak tanganku dengan ibu jarinya.

Dino menatapku dengan intens.

"Nanya apa?"

"Hehehe" Aku kembali cengengesan.

Dino mengacak rambutku.

"Kamu tuh ya, mau ngomong apa sih susah banget"

Aku mengatur posisi duduk agar nyaman. Gugup juga mau mengajukan pertanyaan soal status hubungan kami.

"Mas, tadi itu kan kita udah ungkapin perasaan kita bedua ya, terus...." Aku menggantung perkataanku, kerongkonganku mendadak kering.

Aku berdeham gugup.

Kulihat alisnya kembali terangkat.

"Terus?" Tanyanya.

"Terus, ya terus status kita ini sekarang apa ya mas?" Aku menunduk mengamati jari kami yang masih bertaut, tidak berani menatap wajahnya.

KisahkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang