Bully Part 2

1.9K 102 16
                                    

Third meninggalkan rooftop sendirian, pemuda itu kemudian menuju lapangan basket, sepertinya cocok untuk melampiaskan amarahnya akibat masa lalu yang diangkat kembali.

Third sampai dilapangan basket dan melihat teman-temannya ada disana. Bryan, Mark, dan George seolah menunggu Third disana.

Dengan iringan langkah ringan, Third menuju kearah mereka. Setibanya pemuda itu disana, ia mendapat lemparan bola yang dapat ditangkapnya.

Third melihat dan memainkan bola itu ditangannya. Sambil berjalan santai, ia menuju ke tengah lapangan dan siap untuk men-shooting menuju ring basket.

Third dengan sangat lihai melakukan three point disana. Dan hasilnya tentu saja masuk dengan mulus. Lemparan bagus Third memang sudah terkenal seantero kampus.

"Gue udah urus masalahnya. Lupain aja"ujar Bryan menatap Third yang sedang mengangkat kepalanya.

"Hmm"balas Third singkat, padat, jelas, sekaligus cuek.

"Third, main yuk"ajak Mark dengan wajah polosnya yang mendapat lirikam tajam dari yang lainnya. Satu hal yang mereka ketahui sejak berteman dengan Third, jangan ganggu pria itu saat sedang marah. Dan Mark baru saja menganggu pria itu.

Sedangkan Third, dengan posisi mengangkat kepala ia tersenyum samar. Sepertinya Mark tetaplah Mark. Si idiot bodoh yang selalu merusak suasana.

Third kemudian menatap teman-temannya dengan sebuah senyum sinis diwajahnya.

"Oke, aja. One on three"ucap Third dengan senyum sinisnya. Sedangkan Mark, Bryam, George menelan ludah melihat senyum itu. Sepertinya mereka akan tamat.

Third yang sedang memegang bola langsung pergi keluar daerah Three Point. Sedangkan yang lain, hanya mampu mengikuti dan berdiri diposisinya. Oh tuhan. Mereka akan habis kali ini.

Third dengan lihainya memainkan bola basket ditangannya. Walaupun ia sendirian, ia mampu mencetak skor pertama di permainan kali ini.

Setelah mencetak skor pertama, ia kemudian tim defend. Serunya bermain sendiri adalah kita tak harus memikirkan posisi. Kita hanya perlu merebut bola dari lawan. Dan wallla, kita bisa menguasai permainan.

Permainan mereka berempat dilihat oleh puluhan fans mereka ditepi lapangan. Padahal tadinya lapangan kosong.

Skor demi skor tercetak dipapan skor. Teriakan histeris dari fans mereka mengiringi permainan mereka.

Hasil akhir dari permainan sengit itu pun memuaskan. Tentu Third yang menang. Skornya 31-28.

Third bersama teman-temannya berjalan dengan keringat mengucur dari badan mereka. Setiap gadis ditepi lapangan berteriak histeris melihat dosa didepan mereka. Aww, sexy. Itulah yang banyak mereka katakan.

Sedangkan 4 sekawan itu, dengan cueknya berjalan menuju tepi lapangan. Mereka mendapati minuman dingin dam segar disisi lapangan. Dengan tampang lelah dan tak berdosa mereka meminum minuman itu, tanpa mengetahui siapa yang punya. Mereka fikir ini dari fans-fans mereka. Padahal tidak.

Sae yang sedang kehausan di fakultas pendidikan merogoh tasnya dan mencari botol minum yang selalu dalam tasnya.

Kemudian kerutan bingung terbentuk didahi Sae. Kemana botol minumnya? Ia kemudian merogoh tasnya sekali lagi, dan hasilnya ia tetap tak bisa menemukan botol minumnya.

Sae kemudian mengingat kemana saja ia hari ini. Kantin, fakultas pendidikan, lapangan basket, karena ia harus menunggu Leo untuk mengikat tali sepatunya. Ahhh, pasti tertinggal disana.

Sae segera berlari menuju lapangan basket, untuk mengambil botol minumnya. Sesampainya Sae disana, ia kaget bukan main.

Bukan lantaran banyaknya mahasiswi disana, membuatnya takjub, tapi lantaran botol minumnya. Disana ditangan seseorang. Ada botol minumnya.

Love Warning[COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang