The Emmerson - 21.15
Dentuman lagu Alone dari Marshmello membuat suasa di dalam klub malam The Emmerson bertambah seru. Membuat semua orang yang berada di dalam klub itu ikut menggerakan badannya mengikuti dentuman lagu.
Adrian mengenakan setelan jas berwarna hitam keabuan dan kemeja putih , walaupun Adrian sedang ada masalah, tetapi dia selalu diajarkan profesional , dia tidak pernah boleh mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan.
Semua tampak sudah rapi semua, Adrian selalu tidak pernah lalai mengecek kondisi The Emmerson, sebagai salah satu klub terbaik dan terbesar di Jakarta , dia harus selalu menjaga keamanan dan seluruh acara di The Emmerson berjalan dengan lancar.
Ketika pandangan Adrian menyapu ke seluruh penjuru ruangan, matanya menangkap sesosok gadis. yang sangat cantik dari arah pintu masuk. Gadis berambut panjang hitam legam itu tampak sangat menarik dan seksi dalam balutan kaos army crop top ketat nya dan celana hitam kulit yang tampak pas membungkus tubuh nya dengan sempurna, menunjukan lekukan indah tubuh sang empunya ditambah dengan high heels yang dipakainya membuat kaki pemiliknya terlihat sangat indah.
Adrian melihat ke sekeliling , tampaknya bukan hanya dia yang terpaku menatap gadis itu, banyak sekali laki-laki disana yang tampak menatap dengan penuh minat ke arah gadis itu. Setiap laki-laki normal pasti melihat ke arah gadis itu.
Tapi entah kenapa Adrian merasa pernah melihat gadis itu, setelah dia berpikir sejenak akhirnya Adrian dapat mengingat, gadis itu adalah gadis yang dia lihat di parkiran kampus tempat Yovan mengajar, gadis manja itu ternyata juga suka berpesta, Adrian sudah tidak heran lagi, pesta, foya-foya dan manja sudah menjadi satu paket.
..................................
"Hey Lex, lu bawa lighter ga? lighter gue ketinggalan nih di mobil." tanya Tania kepadaku.
"Gue enggak bawa, lagi ada bokap, kalo bokap tahu gue masih ngerokok , bisa-bisa habis gue." jawabku kepada Tania, aku memang merokok sejak kelas SMA, tidak banyak yang tahu hal itu .
"Lex, yuk kita minum disana." ajak Irwan kepadaku, sebenarnya aku agak malas menanggapi Irwan, aku tidak mau memberi harapan kosong kepadanya, Irwan laki-laki yang tampan dan kaya sekali, tetapi dia juga playboy dan suka memaksa itulah yang aku tidak suka darinya.
"Gih lex, lu berdua duluan aja, gue masih mau samperin Nino dia lagi di atas katanya." ujar Tania yang sangat bersemangat menemui kekasihnya itu. Nino dan Tania baru pacaran tiga bulan dan mereka sedang mesra mesra nya, tanpa disuruh dua kali pun aku mengerti bahwa Tania sedang ingin berdua saja dengan Nino, Nino merupakan manajer di The Emmerson, mereka berdua bertemu saat ada acara di kampus . Ternyata kampus kami merupakan kampus Nino juga dulu.
Aku menyuruh Irwan untuk memesan tempat terlebih dahulu, sedangkan aku ingin ke toilet.
Tanpa sengaja aku ditabrak oleh seorang om-om yang tampaknya sudah sangat mabuk, bau alkohol nya sudah sangat menyengat. Apalagi alkohol di daam gelas yang dipegangnya tumpah semua mengenai baju yang dipakai olehnya.
"Heh! Jalan kok enggak pake mata?!" kata om-om itu dengan nada tinggi , dia tampak memicingkan matanya ke arahku.
"Dilihat-lihat cantik juga, sini main sama om saja , hitung-hitung permintaan maaf kamu. sambil bersihin baju om."
"Dalam mimpi! Sana pemabuk!" kataku dengan galak .
Aku hendak pergi tanpa menghiraukan om-om mabuk itu lagi, tetapi tangan ku ditarik olehnya "Heh! Saya sedang ngomong sama kamu! Dasar kurang ajar!" Om itu sudah melayangkan tangannya hendak menamparku.
Aku menunggu tamparan om itu tanpa menghindar, aku sengaja mencari masalah agar aku dapat menuntut om-om ini dan membawanya ke polisi.
"Plak!" tangan om itu ditangkis oleh seorang laki-laki yang sangat tampan, laki-laki itu tinggi, putih dan sangat gagah, matanya yang biru membuat orang tidak dapat melepaskan pandangan mata dari pemilik mata indah tersebut.
"Maaf, anda tidak boleh memakai kekerasan di sini. Anda dapat mengganggu tamu lain tuan." kata laki-laki itu dengan suara bass nya yang sangat menggoda di telingaku.
"Apa kamu bilang? Memangnya kamu siapa disini?!" kata om-om yang sedang mabuk itu dengan berang.
"Saya hanya pelayan disini tuan." jawab laki-laki itu lagi.
"Pelayan jangan belagu!" om-om itu siap melayangkan tinjunya lagi ke arah pelayan tersebut, aku hanya dapat menahan nafasku, aku tidak takut kalau aku yang terkena pukulan om tersebut, tetapi aku paling tidak tahan bila ada yang terluka karena diriku.
"Stop! Kalau om memang marah, om bisa tampar saya, tetapi jangan salahkan saya bila om saya penjarakan." ujarku dengan emosi,padahal aku sudah berjanji kepada 'orang itu' agar dapat menahan emosi dan tidak terlibat dengan pertikaian lagi.
"Lagi pula tampaknya om sudah berumur, jangan salahkan saya kalau om sampai terkena serangan jantung dan stroke!" tambahku lagi
Om-om itu tambah berang dan langsung mau memukulku, tetapi lagi-lagi laki-laki itu menangkis tamparan om itu dan kemudian langsung dengan secepat kilat mengunci kedua tangan om itu dan memanggil petugas keamanan untuk mengusir orang itu.
Seluruh pengunjung tampak berkerumun melihat kejadian barusan.
"Hei nona , makannya anda tidak boleh dengan angkuh dan sombong menghadapi orang seperti itu." ujar pelayan tersebut kepadaku.
Aku tidak percaya, papa dan mama saja tidak pernah menegurku sama sekali, tetapi laki-laki ini yang baru saja ia temui dan tidak kenal sama sekali berani mengatai dirinya angkuh dan sombong? sebenarnya siapa yang salah disini?
"Kamu tidak sopan ya! Jangan sampai saya laporkan kamu ke manajer kamu! Saya kenal dengan atasan kamu! Hati-hati jaga ya mulut kamu! Jangan salahkan saya kalau kamu di pecat!." amukku kepada pelayan itu.
.................
Adrian hanya menggeleng pelan ketika seorang pelayan hendak membantunya, wanita di hadapannya ini sangat angkuh, padahal maksud Adrian adalah menasehati nya tetapi dia malah menganggap Adrian tidak sopan.
"Saya tidak takut, silahkan anda laporkan saya kepada pak manajer." jawab Adrian dengan santai
Irwan yang melihat kerumunan itu langsung menghampiri Alexa
"Lu kenapa Lex?" tanya Irwan sambil memicingkan matanya dengan tatapan tidak suka terhadap Adrian.
"Gue engga kenapa-kenapa, gue mau pulang." Ujar Alexa yang memang malas meladeni Adrian.
Alexa dan Irwan pun beranjak dari sana diiringi pandangan Adrian, sudah di tolong dan di nasehati , sama sekali tidak mengucapkan terima kasih, memang benar gadis angkuh, pikir Adrian di dalam hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Love with Mr Right
RomanceAlexa Brennan, cantik, cerdas , sexy , memikat dan kaya raya. Pria mana pun pasti akan bertekuk lutut di hadapannya dengan sukarela. Tetapi siapa yang tahu dirinya menyimpan luka yang dalam dan ada satu sudut kosong dalam hatinya yang membuat dia se...
