Kediaman Breenan - 17.05
"Bik, papa sudah pulang dari Australia?" tanya Alexa kepada Bik Asih .
"Sudah non, ada di ruang kerja nya non."
Alexa langsung mencari papanya , sudah tiga bulan Alexa tidak bertemu dengannya, bayangkan saja dalam satu tahun , Alexa hanya bertemu dengan kedua orang tuanya hanya lima kali tidak sampai lewat dari hitungan jari.
Lagi pula Alexa juga mau meminta kenaikan uang jajan kepada papanya, dalam hal uang papanya lebih royal dibandingkan mamanya, walaupun mamanya Alexa juga bukan tipe yang perhitungan soal uang tetapi dia lebih tidak terlalu memanjakan Alexa. Alexa lebih segan kepada mamanya , apalagi semenjak kejadian saat dirinya SMP.
Sayup-sayup Alexa mendengar suara wanita sedang tertawa dari dalam ruang kerja papanya. Alexa menajamkan telinganya, jarang-jarang ada tamu wanita yang datang selain sekertaris papanya Indah, tetapi yang pasti ini bukan suara Indah.
"Pa, ada tamu ? Alexa ganggu ga pa?" tanya Alexa yang langsung masuk ke ruang kerja papa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Alexa langsung melihat ke arah tamu wanita papanya itu , yang duduk membelakangi dirinya, eh sepertinya kok Alexa mengenali pakaian yang dikenakan tamu papanya itu.
"Halo lagi Alexa."
"Ibu Yovan! aku pikir siapa. Tumben Bu Yovan kemari."
"Iya Lexa, papa yang undang dosen kamu ke rumah. Papa mau berterima kasih banyak kepada dirinya yang sudah mengajari kamu banyak hal." kata Hartono kepada putri semata wayangnya.
"Oh , papa kapan pulang nya? kok aku enggak tahu papa udah pulang, oh iya sekalian deh pas ada Bu Yovan juga, berhubungan dengan kenaikan nilai Lexa, Lexa juga mau meminta kenaikan uang jajan pa." ujar Alexa sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Yovan.
Yovan hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan anak didiknya itu.
"Ya ampun Alexa,kamu ini ya sudah besar tapi kelakuan masih sama seperti anak TK saja." Hartono juga ikut geleng-geleng melihat kelakuan anaknya.
"Yah papa, kan udah lama juga enggak naik uang jajannya." Alexa masih terus memberi protes sampai papa nya bilang oke.
Hartono yang memang memanjakan Alexa dari dulu akhirnya hanya bisa menjawah "Ya sudah tapi kmu harus belajar yang rajin. Papa tidak pernah melarang kamu mau ngapain dan mau menghabiskan berapa banyak uang, tapi kamu harus belajar yang rajin dan menjadi orang sukses."
"Itu mah pasti dong bos." kata ku sambil mengangkat tangan sebelah ke kepala tanda siap grak.
"Eh pa , Alexa lupa ada yang ketinggalan di kampus, Alexa harus balik lagi dulu ya, yuk Bu Yovan , Alexa pergi dulu ya."
"Iya , hati-hati ya, Ibu juga sebentar lagi sudah harus pamit, Ibu mau berbelanja barang-barang kebutuhan rumah." ujar Bu Yovan hendak pamit juga.
"Eh Ibu Yovan nanti saja dulu, makan siang dulu saja bu,saya sudah menyuruh koki menyiapkan makan siang untuk ibu." kata Hartono lagi kepada dosen muda itu .
"Tidak usah pak, merepotkan saja nanti."
"Enggak repotin kok bu,Ibu makan siang dulu saja bu, tadi ibu belum makan siang kan." kata Alexa kepda dosennya yang masih muda dan cantik itu.
Bu Yovan memang masih tergolong sangat muda, umurnya hanya berbeda delapan tahun dari Alexa, dan dia juga sangat cantik dan pandai, makannya dengan umur semuda itu dia sudah menjadi dosen tetap di Universitas Pelita Bangsa yang merupakan universitas termahal dan terbaik di Indonesia.
"Ya udah ya pa , Alexa harus cepat-cepat balik ke kampus soalnya nanti malam Alexa udah ada janji sama Tania pa. Ibu Yovan santai saja makan siang dulu bu. Alexa pergi dulu ya."
..............................................................
KAMPUS PELITA BANGSA 15.30
Sudah dari pagi Adrian berusaha mencari Yovan , calon tunangannya itu. Entah ada sebab apa Yovan tiba-tiba memutuskan Adrian tiba-tiba hanya lewat sebuah chat di whatsapp .
Adrian kaget bukan main, padahal hanya dalam waktu hitungan hari Yovan dan dirinya resmi bertunangan, tapi dalam waktu semalam semuanya berubah, rencana pertunangan yang sudah di siapkan dari jauh hari pun batal begitu saja.
Adrian sudah berusaha menelpon Yovan , tetapi tidak dijawab bahkan di reject begitu saja, akhirnya Adrian memutuskan untuk mendatangi tempat Yovan mengajar.
"Pak, bakso satu dan teh botol dingin satu." ujar Adrian kepada penjual bakso yang mangkal tepat di depan halaman parkir kampus raksasa itu.
Udara sangat panas , Adrian pun merasakan hal yang sama. Sudah jauh jauh datang kemari tetapi ternyata Yovan tidak ada di kampus, hanya rekan kerja Yovan yang memang kebetulan mengenal Adrian yang memberi tahu Adrian bahwa Yovan sedang keluar kampus karena ada urusan.
"Ciiiittttt......." bunyi ban mobil Porsche merah itu menarik seluruh perhatian orang-orang di sekitar tempat parkir khusus dosen dan rektor kampus Pelita Bangsa, termasuk Adrian yang saat itu masih menunggu bakso pesanannya.
Dari dalam mobil keluarlah seorang perempuan muda berambut hitam panjang terurai dengan kaos putih dan skinny jeans belel nya , tidak tampak sama sekali seperti dosen maupun rektor.
Adrian langsung membuang mukanya , ternyata hanya anak manja yang memanfaatkan kekayaan untuk mendapatkan prioritas. Sudah jelas-jelas parkiran itu hanya untuk dosen dan rektor tapi masih saya di tempati oleh mahasiswi yang tidak tahu aturan.
Adrian paling benci hal seperti itu. Hidup enak hanya dari kekayaan orang tua dan bukan jerih payahnya sendiri.
"Bang, bakso nya enggak jadi, ini saya bayar buat abang aja baksonya." setelah menyeruput teh botol itu Adrian langsung beranjak pergi. Lebih baik sekarang dia mencari Yovan secepatnya. Tidak mungkin Yovan yang sudah berpacaran dengannya selama tiga tahun tiba-tiba memutuskannya tanp alasan yang jelas. Pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh Yovan.
Di sisi kampus yang lain , Alexa yang mencari mapnya yang ketinggalan ternyata sia-sia kembali ke kampusnya krena ternyata map mya itu terbawa oleh Tania.
Alexa mendengus kesal dan kemudian dengan secepat kilat mengemudikan Porsche merah nya kembali ke rumah.
.........................
Wihhh Porscheee ... impian si penulis juga pengen nih bisa punya Porsche hehehe
Ditunggu ya chapter selamjutnya
KAMU SEDANG MEMBACA
In Love with Mr Right
RomanceAlexa Brennan, cantik, cerdas , sexy , memikat dan kaya raya. Pria mana pun pasti akan bertekuk lutut di hadapannya dengan sukarela. Tetapi siapa yang tahu dirinya menyimpan luka yang dalam dan ada satu sudut kosong dalam hatinya yang membuat dia se...
