Baperin
"Cek, cek!" Pemuda tampan yang menggantungkan gitar di bahunya tengah mengecek mik. Ia dan sekawanan gengnya sudah mengubah kantin menjadi tempat manggung. Demi melancarkan aksinya, Reynand memohon pada Guru Starga untuk mengizinkannya tampil di kantin sekolah, layaknya band kafe.
"Gue Reynand Arkatama, cowok paling ganteng sejagat raya akan menyanyikan sebuah lagu. Sorry, kalau gue ganggu acara makan kalian semua," kata Reynand tak luput dari cengiran jailnya.
Pemuda itu sedikit gugup, karena di kantin terbilang ramai dengan siswa lain. Lebih-lebih, gadis imut yang berstatus pacarnya duduk dengan pandangan lurus ke arahnya. Meski ketampanannya tidak diragukan lagi, tetapi pemuda itu masih saja takut terlihat buruk.
"Gue nyanyi lagu ini, spesial buat pacar gue yang imut kayak marmut, Joya Avara."
Penuturan Reynand mendapat sorakan meriah dari anak-anak lainnya. Namun, pemuda itu malah mengangguk-angguk berterima kasih, sembari mengurangi rasa malunya.
"Gue cuma mau baperin Joya, jadi buat yang lain nggak usah ikutan baper," sambung Reynand lalu melihat bibir Joya mengatakan sesuatu. ''Apaan, sih?''
Reynand hanya mengedikan bahu, dia tidak peduli jika gadis itu memprotes apa yang dia lakukan.
Tidak ingin membuang waktu, Reynand mulai memetik gitarnya. Ia mengawalinya dengan permainan gitar dan melempar senyum geli.
Gadis yang duduk di kursi belakang hanya menahan senyum. Jujur, Reynand terlihat tampan dengan gitar di tangannya, terlebih poni yang selalu ingin Joya jambak sedikit lebih pendek, kesan dewasa pemuda itu perlihatkan. Perhatian Joya tercuri ketika Reynand mulai menyanyikan lagu milik band Last Child.
Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita
Bait pertama, Joya sudah merasakan sesuatu yang berbeda, suara Reynand begitu indah didengar.
Di saat kutertatih tanpa kau di sini
Kau tetap kunanti demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Kuakan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Joya tahu dan hafal liriknya, bait demi bait dia memgerti maknanya. Meski sering terjatuh, menjauh, pada akhirnya akan kembali jika memang ada takdir yang sudsh tertulis.
Suara tepuk tangan terdengar sesaat setelah Reynand menyelesaikan lagunya.
Joya tertegun dengan isi lagu kesukaannya, begitu sama dengan cerita yang baru saja dia lewati.
Tentang dia yang meninggalkan Reynand, tetapi cinta menuntunnya untuk kembali.
"Baper lo tingkat mentok!"
Gadis di sebelahnya menggoda, Joya hanya menahan senyum malunya.
"Apaan sih, Al?" Joya menutup wajahnya, tangannya bertopang pada meja karena Aliya masih menggodanya dengan kata-kata menyebalkan. Ya, sahabatnya yang sempat marah itu juga kembali, tentu karena kejadian satu malam yang merubah segalanya.
"Sayang ...." Suara lirih yang lebih pantas disebut bisikan itu membuat Joya mengintip dari sela jarinya. Reynand sudah di depan wajahnya, menirukan gaya menopang wajah sepertinya.
"I love you." Reynand kembali berucap dengan nada lirih.
Salah tingkat, Joya hanya mencebikan bibirnya dan menutup kembali wajahnya.
"I hate you, Rey!" Tiba-tiba Aliya menyeletuk—mengingatkan keduanya kalau dia masih di sana sejak tadi.
"Dasar jomblo. Vino ditolak sih."
"Reynand!"
xx
KAMU SEDANG MEMBACA
Reynand & Joya | END
Teen FictionFollow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesal...
