03

486 76 22
                                        

"Mau cerita apa?"

"Gini, lin. Aduh gue malu ngomongnya." Kata Hana sambil membuka bungkus keripik.

"Lu tau kak Xukun, kan?"

"Heeh. Terus."

"Tadi kan ya. Pas istirahat gue jatoh."

"Hah? Kenapa ga bilang?"

"Ihh.. Tunggu dulu! Belum selesai."

"Ya sok lanjutin," kataku sambil takut dipukul Hana.

"Nah jatohnya itu gara-gara ga sengaja kesenggol kakel."

"Lemah amat disenggol doang jatoh."

"Ihh, nongnong! Diem dulu!"

"Sori."

"Lu tau ga kakel yang nyenggol itu siapa?"

"Ngga"

"Kak Xukun! Terus ya dia nolongin gue gitu. Ngulurin tangannya buat bantu gue berdiri. Astaga. Gimana ga melting gue?"

Tuh, kan. Benar kataku. Ini pasti ada hubungannya dengan gebetan Hana.

"Dari dulu gue bantuin lu berdiri, lu ga pernah baper."

"Kak Xukun itu kan gebetan gue. Lah lu mah dari orok udah deket jadi b aja."

"Cih... Udah ceritanya?" Tanyaku.

"Belum sih. Emang lu ada tugas?"

"Ngga ada sih."

"Lanjut boleh?"

"Silakan."

Dan ceritanya berlanjut sampai jam setengah 7 malam.

Sesi yang sebenarnya cukup singkat.

Saat Hana diputuskan Zhengting -mantannya-, aku menjadi pendengar selama 3 jam.

Dia tidak bercerita selama 3 jam penuh, tapi sambil menangis. Kalau dihitung-hitung, perbandingan menangis dan cerita 4:1.

Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jadi aku hanya menjadi pendengar dan benar-benar tidak berkata apapun. Menepuk bahu untuk menenangkannya saja tidak.

Tapi kata Hana, "Lu dengerin aja cukup kok."

Maka dari itu, aku selalu berusaha menjadi pendengar terbaik bagi Hana.

🌌

Tbc

Voment means a lot 💕

Listener +Chen LinongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang