19. Plans 2

156 2 3
                                        

"Ini ruangan anda, ini berkas yang harus pelajari" jelas sekretaris dan pergi meninggalkan ruangan.

Maria yang melihat gunungan pekerjaan langsung stres seketika dengan memegang kepala.

Maria melihat jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Dengan membawa tas Maria bersiap pergi mencari makanan meninggalan pekerjaan yang akan membuat botak kepalanya.

Maria lebih memilih pergi ke supermarket dari pada restoran. Kali ini Maria keluar dari mobil berwarna silver dengan jaket sepanjang rok mininya. Tak ketinggalan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya.

Maria memasuki lift yang tidak ada orang lain, dia melepaskan kacamata dengan helaan nafas panjang. Entah apa yang ada di pikirannya dia hanya merasa harus menutupi identitasnya. Tak berselang lama setelah pintu tinggal beberapa senti untuk sepenuhnya tertutup. Sepatu seorang pria menahannya dan masuk ke dalam lift seketika Maria langsung memakai kembali kacamatanya.

Maria terkejut karena tak sengaja bersentuhan tangan saat akan memencet tombol. Tapi ia lebih terkejut lagi saat menatap pria yang di samping nya adalah Fariq.

"kau? " kata Maria kepada Fariq yang hanya diam tak menjawab sampai Maria memperlihatkan wajah nya dengan jelas.

"Aku tidak tahu bahwa pekerjaan putri hokyan adalah detektif" ejek Fariq.

"Hey, semua ini karena mu aku merasa ketidak nyaman ini karena mu" geram Maria.

"wajahmu itu tak terkena kamera bukan? Aku bahkan bisa keluar tanpa harus memakai topeng seperti mu" ujar Fariq.

Maria meremas kacamata hingga patah karena kesal. Dia bergumam dalam hati mengapa dia mengenakan pakaian yang buruk seperti. Dia masih memerutuki dirinya yang melakukan hal yang tak jelas.

Dengan penuh keyakinan dia membuang kacamata dan membuka jaket panjang dan memperlihatkan tubuh seksi Maria.

"Tubuh seperti ini yang kau sembunyikan? " kata Fariq.

"Apa?? Semua pria yang melihat kecantikan ku akan bertekuk lutut." Maria mulai emosi.

"Pria bodoh! " remeh Fariq.

Pertengkaran berakhir setelah pintu lift terbuka dan mereka mengambil jalan yang berbeda.Maria pergi dengan amarah yang membara, dia pergi dengan sorot mata yang tajam.

Tring...

Tring...

Telfon berdering Maria sempat ragu karena nomor yang tidak di kenal.

"Siapa ini?" sapa Maria ketus.

"Maria,  apa kau ada waktu untuk makan siang denganku? "

"Pak Iskandar?"  Maria menebak.

"Iya kau benar sekali. Akan ku beri hadiah karena bisa menebak siapa aku." kata tuan Iskandar.

"Apa hadiahnya? " tanya Maria antusias.

"Akan aku berikan nanti jika kau mau makan siang bersama. Nanti aku akan mengirim alamat bagaimana?" tawar tuan Iskandar.

"Baik" jawab singkat Maria yang mengakhiri pembicaraan.

Yang Tergantung: RealityCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang