Bagian 5

270 19 0
                                        

____

Pagi ini terasa begitu sejuk. Angin berhembus pelan menggoyangkan daun-daun. Matahari mulai muncul dari ufuk timur. Semua orang mulai melakukan aktivitas begitu pula dengan Diah. Ia sekarang sedang sarapan bersama Mamanya. Papanya tak ikut sarapan karena harus berangkat kerja pagi.

"Ma, Papa udah berangkat kerja,ya?"

"Iya, Papa kamu udah berangkat sebelum kamu bangun tadi."

Diah menganggukkan kepala, "Ma, aku nanti pulangnya agak telat soalnya mau jenguk temen."

"Tapi hati-hati ya? kalau udah selesai jenguknya langsung pulang jangan mampir kemana-mana," ucap Mama Diah dengan mata melotot.

Diah memutar bola matanya dengan malas, "Iya, nggak bakalan mampir kemana-mana, kok."

"Beneran ya? awas bohong!"

Sekali lagi, Diah memutar bola matanya dengan malas. Memang, Mama Diah selalu seperti ini apabila Diah akan kemana-mana. Terlalu khawatir. Padahal Diah sudah besar.

Tadi malam, Diah tidur bersama Tama dan Riana---- Mama dan Papa Diah. Keputusannya itu, dilakukannya karena ia takut hal yang tidak diinginkannya terjadi. Apalagi seseorang mengirimi pesan aneh tadi malam. Sekarang hidupnya menjadi tidak tenang. Hampir di sela sela kegiatannya di rumah maupun di sekolah ia selalu mendapat pesan aneh dari nomer-nomer yang berbeda. Itu membuatnya lebih waspada.

Kemarin, Diah memang telah merencanakan untuk menjenguk Deon. Ia ingin tahu keadaannya sekaligus menyelesaikan masalah yang tak diketahui alasannya dengan Deon. Diah juga sudah memberi tahu Jesika dan Putri lewat pesan dan mereka berdua mau mau saja.

"Ma, Diah berangkat dulu! assalamu'alaikum," ucap Diah ketika nasi gorengnya sudah habis.

"Wa'alaikumsalam," jawab Riana dengan senyum yang terhias di wajah.

                              ***

Bel tanda masuk berbunyi, membuat siswa-siswi di SMA Jaya Katwang segera berjalan menuju kelasnya masing-masing. Apalagi dengan kelas X Ipa 1 yang hari ini adalah jadwalnya Bu Sinta. Bu Sinta adalah guru yang tak kenal namanya terlambat masuk kelas. Sekali telat, pasti akan dihukum di lapangan sekolah sampai jam istirahat. Maka dari itu, siswa-siswi kelas X IPA 1 akan cepat-cepat masuk ke kelasnya. Mereka tidak mau dihukum di lapangan apalagi sampai jam istirahat.

"Assalamu'alaikum anak-anak," salam Bu Sinta ketika masuk ke kelas X Ipa 1.

"Wa'alaikumsalam, Bu," jawab siswa-siswi X Ipa 1.

Bu Sinta segera meletakkan tasnya di bangku guru yang letaknya di pinggir papan tulis setelah itu, ia berjalan ke tengah tepatnya di depan papan tulis. Pandangannya mengedar ke seluruh siswa-siswa di kelas dan tiba-tiba dia tersenyum.

"Oke, hari ini saya rasa nggak ada yang telat," ujarnya masih dengan senyuman.

Jesika, Putri, dan Diah saling berpandangan lalu mereka bertiga menghela napas bersamaan. Biasanya Bu Sinta setiap kali masuk kelas pasti marah-marah karena sang rekor terlambat masuk kelas, Dendi mesti terlambat. Tapi kali ini tidak. Mereka bertiga bersyukur sekali kali ini tak mendengarkan ocehan Bu Sinta yang panjang lebar itu.

"Oke anak-anak kali ini saya punya berita penting!"

Semua siswa-siswi hanya terdiam menunggu lanjutan dari ucapan Bu Sinta.

"Kalian dua hari lagi akan camping selama tiga hari. Kita akan belajar mengenal alam sekitar dan hidup mandiri."

Semua siswa bersorak kegirangan di dalam kelas. Mereka bosan jika harus melaksanakan pembelajaran di kelas terus. Menurut mereka camping itu adalah suatu kegiatan yang menyenangkan.

Diah, Jesika, dan Putri juga ikut bersorak.

"Semua harus ikut!"  Bu Sinta menyela di tengah kegirangan para siswa.

Di tengah kegembiraan para siswa yang akan camping, ponsel Diah bergetar. Kebetulan ponsel Diah di letakkannya di saku bajunya jadi, dia bisa merasakan kalau ponselnya bergetar. Di dalam hati Diah berdoa semoga itu bukan notifikasi pesan dari nomer telepon asing.

Diah melirik ke arah Jesika yang merupakan teman sebangkunya. Awalnya Jesika tadi bersorak, kini ia sedang asik berbincang dengan Putri yang bangkunya tepat di depannya. Sedangkan semua murid juga tampak sibuk dengan dengan persoalan camping. Bu sinta yang awalnya berada di depan papan tulis, kini sudah duduk di kursi sambil memegang ponsel.

Pandangan Diah beralih ke saku bajunya. Ia mengambil ponselnya dan membukanya. Ternyata benar duagaannya ada notifikasi pesan tapi itu bukan dari nomer asing melainkan nomer yang sangat dikenalnya. Itu adalah nomer yang sampai sekarang masih disimpannya. Berharap suatu hari nomer itu akan menelpon atau mengiriminya pesan. Nomer itu, nomer yang dulu selalu dihubunginya. Diah tak percaya dengan apa yang dilihat di ponselnya sekarang. Ia begitu kaget.

Cepat-cepat ia membuka pesan itu.

Cepatlah perbaiki semuanya sebelum terlambat

Diah mengernyit, di dalam hatinya ia bertanya-tanya maksudnya. Apa yang harus diperbaiki?

Diah segera membalasnya.

                                    Maksudnya apa?

                                 Deon ini kamu kan?

             Aku nggak ngerti maksud kamu

                                                     Deon?
                 
                            Bukannya kamu sakit?

Diah menghela napas  kasar. Disimpannya kembali ponselnya di dalam saku. Setelah itu ia menghadap ke depan. Disana Bu Sinta sudah menulis materi di papan tulis. Semua siswa yang tadinya berisik sekarang senyap. Entah sejak kapan Bu Sinta memulai pelajaran Diah tak tahu.

                              ***
Pandangan Diah menunduk. Ia berjalan malas menuju gerbang sekolah. Jesika dan Putri entah sekarang mereka berdua ada dimana Diah tak tahu. Tapi, dua orang itu sempat berbicara kepada Diah bahwa mereka mau ke kantin untuk beli makanan padahal ini sudah jam pulang. Mereka menyuruh Diah untuk menunggu di depan kelasnya tapi sampai semua siswa tak terlihat mereka belum juga menampakkan diri. Akhirnya Diah memilih untuk ke gerbang sekolah. Padahal ia sudah merencanakan untuk menjenguk Deon hari ini.

"Kemana, sih tu anak!" kesal Diah sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai.

Diah mengedarkan pandangannya tak ada siapapun disini selain dirinya. Tiba-tiba dia merasa takut akan sesuatu. Ia takut sendirian. Diah kembali  menunduk tapi ia lebih mempercepat jalannya.

Tap

Tap

Tap

Tap

Tap
Tap
Tap
Tap

Langkah Diah semakin cepat, cepat, dan cepat. Ia melewati koridor sekolah sehingga tapakan sepatunya menggema. Sepanjang koridor tak ada orang. Jantungnya berdebar-debar. Ia takut. Benar-benar takut sendirian.

Sampai akhirnya langkahnya terhenti. Matanya menatap kosong ke depan. Bibirnya bergetar.

Seorang ber-hoodie hitam menatap matanya dengan nyalang. Dia berpoteng tapi Diah yakin mata itu lurus menatapnya.

Hai 

Tinggalkan jejak

Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya dengan Diah ya?

TERORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang