[ G i l b e r t ]
.
.
Asap tebal yang muncul karena ledakan itu mulai menipis. Aku melepaskan Xing dari dekapanku dan menatap ke ruangan direktur yang telah hancur.
"Boss, kau baik-baik saja...?" tanya Xing.
Aku menganggukkan kepalaku, kerutan mulai muncul di keningku. Pria berengsek itu rupanya bersembunyi di La Stessa Cosa, sekarang ia menjebakku kemari untuk menjadi umpan empuk Cosa.
Aku menolehkan kepalaku ke arah bunyi baku tembak senjata dari luar ruangan. "Xing, bantu Riley membereskan mereka," perintahku. Xing menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan ruang direktur.
Aku mulai membawa langkahku mendekati mayat pria yang Jeremy gulingkan dari kursi direktur. Dengan hati-hati aku membalikkan tubuh kakunya supaya aku bisa melihat siapa pria ini.
Betapa mengejutkan—pria yang telah kaku membiru ini adalah si Taksidermis.
"Sial..." umpatku.
Sekarang semuanya telah dipersiapkan Jeremy untukku. Ia sengaja mengundangku kembali kemari demi La Stessa Cosa. Sejak awal An-Hee hanyalah umpan? Pria yang bernama Christopher hanya alat untuk membuatku kembali kemari?
"Ia pasti akan datang padaku, Gilbert."
Apa yang diucapkan oleh Jeremy tentang An-Hee tiba-tiba kembali menyeruak dalam benakku. Apakah benar 'aku' yang diincar Jeremy? TIDAK! Bajingan itu sejak awal bukan mengincarku, melainkan An-Hee!
Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan ruangan ini. Baku tembak masih terdengar. Aku mengambil pistolku dan mempersiapkan diriku untuk segera menghabisi semuanya!
"Boss!"
Aku melihat Riley bersembunyi di balik pilar, sementara Xing bersembunyi di sisi lain dinding. Anak buah Cosa mengacunkan senjata mereka ke arahku, seolah memberi tahuku bahwa aku tak akan mampu meninggalkan museum ini dengan selamat.
"Buona sera, Gilbert."
Dari belakang barisan anak buah Cosa, aku melihat sosok yang tak asing bagiku.
"Come sta, Gilbert?" tanyanya.
Aku menggenggam erat pistolku dan menatapnya lekat-lekat.
"Non mi posso lamentare...Virgilio," jawabku dengan setengah menyeringai mengejek.
Pria itu adalah Virgilio Piccarazi. Bos dari Stessa Cosa., mafia paling berkuasa di Amerika. Bahkan pria yang tak ingin kau jadikan musuh.
"Kau dijual padaku oleh kaki tanganmu," ujar Virgilio seraya menghisap pipa cerutunya.
"Mantan, maksudmu. Aku tak lagi menganggapnya kaki tangan."
Riley dan Xing yang sedari tadi masih bersembunyi, kita mulai berjalan menghampiriku. Virgilio pun menghantamkan ujung tongkat kayunya ke lantai, kemudian anak buahnya menurunkan senjata mereka, melepaskan kami dari bidikan.
"Sekarang kau lebih menyukai lubang anus dibandingkan vagina, kudengar?" Virgilio menghisap lagi pipa cerutunya. "Begitu nikmat kah ia, sampai kau dengan mudah dijebak seperti ini?" tanya Virgilio.
Aku menyimpan kembali senjataku dan mengeluarkan kotak rokokku dari emas putih, mengambil satu batang dan menghimpitnya di tengah bibir.
"Tak ada yang bawa pemantik?"
"Sulutkan rokoknya," Virgilio menyuruh salah seorang anak buahnya. Pria suruhan itu mendekatiku dan menyulut rokokku. Setelah itu ia bergegas kembali ke sisi Virgilio.
KAMU SEDANG MEMBACA
SINFUL -The Hereafter- [ 3 ]
AksiSong An-Hee yang telah menyerahkan jiwanya pada Sang Iblis, tak lagi meragukan apapun. Ia tahu dengan pasti ia akan berakhir di kegelapan kekal, namun selama Gilbert bersumpah untuk-"Aku akan mencintaimu bahkan sampai di hari penghakiman terakhir"-...
![SINFUL -The Hereafter- [ 3 ]](https://img.wattpad.com/cover/108802070-64-k294002.jpg)